.
.
Hanin belum bicara sepatah kata pun sejak masuk mobil Juan. Ia duduk diam di kursi belakang, memeluk ransel kecil yang ia bawa sejak pergi dari kosan kemarin. Wajahnya kosong, tapi kedua matanya memerah. Rambutnya sedikit kusut, wajahnya masih basah oleh air hujan dan air mata yang tak sempat ia usap
Juan tak berkata banyak. Ia hanya memastikan mobilnya tetap melaju stabil di tengah hujan yang mulai memburamkan pandangannya
Sesekali, ia melirik Hanin lewat kaca spion. Ingin bertanya, tapi memilih diam. Kadang, rasa peduli paling tulus justru hadir dalam bentuk keheningan. Dan ia tau Hanin membutuhkan itu
"Balik ke kosan?" Tanya Juan pelan
Hanin diam tak menjawab, Juan tau artinya
Lelaki itu tak katakan apapun lagi, ia hanya fokus menjalankan mobilnya menuju tempat yang ia pikirkan akan menenangkan gadis ini
Lama perjalanan itu dilalui, Hanin menoleh ke arah Juan begitu mereka tiba di lobi sebuah gedung tinggi yang tak pernah terpikirkan untuk ia pijaki
Juan mengangguk pelan. Ia sangat tau, Hanin butuh ruang untuk menyendiri, setidaknya untuk basuh lukanya sebelum sembuh dengan sendirinya nanti
.
Sebuah kamar hotel yang dipesankan Juan untuknya. Hanya agar ia bisa menenangkan diri dari masalahnya sendiri
Hanin berdiri mematung di depan cermin, menatap dirinya sendiri. Mata bengkak. Bahu tegang. Tapi di dalam hatinya, satu suara pelan terus berbisik
"Apa ia berhasil?"
Flashback singkat - Hanin berbicara dengan Dimas sebelum ke villa.
"Lo yakin mau kayak gini?" tanya Dimas, ragu
"Gue cuma mau tau reaksi dia"
"Gimana kalau dia gak mutusin lo?"
"Gak tau, tapi yang jelas perasaan gue ke dia udah berubah"
.
Tiga hari setelahnya, Hanin kembali ke kampus. Ia tak tau bagaimana mendeskripsikan kondisinya selama itu. Ia menutup seluruh akses untuk menghubunginya, bahkan pada Redica sekalipun
Hanin kembali ke rutinitas. Kampus dan tugas, ia juga suka ikut acara seminar. Ah, jangan lupakan ia yang bahkan menghapus nomor Melvian dari ponselnya, meskipun nyatanya ia hafal diluar kepala nomor lelaki itu
Ia mulai kembali menemui Redica, mengatakan tentang putusnya hubungannya dengan Melvian tanpa alasan sesungguhnya
Lelaki itu tak pernah ia lihat lagi, entah kemana Hanin tak peduli
"Lo beneran gak mau cerita?"
Hanin tersenyum kecil dan menggelengkan kepala
"Enggak sekarang. Tapi nanti, mungkin."
"Lo tahu kan, gue selalu di sini."
Hanin mengangguk, Redica tak memaksanya lagi
.
Sekian pagi, Hanin terbangun di kamarnya yang dingin. Entah karena cuaca atau karena perasaannya sendiri yang sudah membeku
Entah sudah berapa hari sejak kejadian di vila. Sejak semuanya berakhir
Sejak ia berkata bahwa ia benci Melvian.
Dan benar, ia mau membencinya. Ia mau percaya bahwa kebenciannya cukup untuk menghapus semua rasa yang dulu pernah ada. Tapi setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Melvian malam itu selalu kembali, bukan yang marah, tapi yang terluka
