.
.
Melvian menatap ke arah jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Pukul 6 sore, ia ada didepan kosan Hanin. Menunggu gadis itu keluar
tok tok
Hanin mengintip dari jendela kursi penumpang
Melvian tersenyum tipis lalu buka pintu, menyambut Hanin secara langsung
"Udah siap?"
"Gini aja pantes gak?"
Melvian menelisik penampilan Hanin didepannya. Gadis itu kenakan pakaian semi formal namun tetap sederhana seperti biasanya
"Papi aku gak pernah permasalahin soal penampilan siapapun"
"Tapi kan first impression itu penting"
Melvian mengangguk, "Bagus, cantik"
Hanin menghirup udara dalam lalu tersenyum
lebar
"Padahal kita masih baru banget, tapi gak nyangka Papi kamu minta ketemu secepat ini. Aku bahkan belum kasih tau orangtua aku soal hubungan kita"
Melvian pun tak menyangka saat ayahnya katakan ingin bertemu dengan Hanin. Melvian tak kaget jika ayahnya itu tau segalanya tentangnya, tapi ia tak menyangka saja akan secepat ini
"Papi aku pasti tau soal aku Hanin, jadi beliau pengen secepatnya kenal sama pacar aku"
Hanin menganggukkan kepala mengerti, ia menatap ke arah Melvian sekali lagi, sedikit malu dengan sebutan gamblang lelaki itu padanya
"Ini beneran gapapa?" tanya Hanin lagi, Melvian mengangguk, meskipun dalam hatinya tak yakin. Masalahnya saat bersama Sharon dulu, ayahnya tak mau ikut campur urusannya
"Gapapa" jawab Melvian pelan meski hela napasnya terlihat berat
"Papi aku cukup strict dan agak kaku. Kalaupun nanti ada perkataan yang tidak sengaja menyinggung kamu, please, marahnya nanti ke aku aja ya" Hanin tersenyum
lembut, mengusap pipi Melvian dengan berani setelah perlu waktu lama lakukan itu
Melvian terkejut, namun menikmati usapan Hanin di pipinya
"Tenang aja, setiap orangtua pasti mau yang terbaik buat anaknya. Kalaupun nanti di pandangan mereka aku kurang baik buat kamu, aku gak masalah. Pilihannya cuma berubah jadi yang terbaik atau mundur, gitu aja, lagian kita cuma pacaran" ujar Hanin dengan enteng
Melvian rasakan jantungnya berdegup
kencang sekali. Hanin masih tersenyum lembut didepannya
Lelaki itu lalu bergerak maju, merangkum
kedua pipi Hanin, abaikan tatapan terkejut dan gugup gadis itu didepannya
Bergerak pelan mengikis jarak hingga kedua bibir mereka saling bertemu. Hanya kecupan singkat namun buat jantung keduanya kompak bertalu kuat. Ini yang pertama setelah beberapa saat lalu
Melvian bahkan rasakan napasnya memberat, namun lelaki itu langsung menjauhkan diri dari sang kekasih
Hanin terkejut bukan main, namun ia masih bisa kendalikan dirinya dengan baik. Kini bukan saatnya mereka saling terkejut pada afeksi yang baru saja mereka lakukan
"Makasih, kita berangkat sekarang ya"
.
Hanin menatap segan ke arah orangtua Melvian yang sedang duduk di seberangnya
Melvian tadi menyebutkan kalau hanya ada ayahnya saja yang akan makan malam nanti
Tapi ternyata, ada ibunya juga ikut hadir di acara makan malam ini
