.
.
Melvian tidak tiba tiba menjadi sosok yang sempurna. Ia masih mudah cemas, ia masih takut membuat keputusan tapi ia sadar, tak ada yang bisa menyembuhkan dirinya selain dirinya sendiri
Ia berusaha tumbuh, selain untuk dirinya. Ia mau tumbuh untuk kedua orangtuanya dan juga Hanin
Ibunya dan Ayahnya pun sama. Keduanya tak lagi muda, pernikahan mereka sudah lama. Tapi cinta itu baru bisa mekar dengan sempurna setelah semua halangan hilang
Melvian juga sudah meminta maaf, pada semua orang yang menjadi korban obsesinya. Sharon sempat menampar Melvian saat lelaki itu menemuinya di salah satu restoran. Disana ada Hanin juga. Melvian diam tak balas apapun hingga wanita itu pergi
Dito dan Dimas pun memberikan respon baik, meski mereka juga heran karena seorang Melvian tiba tiba minta maaf pada mereka
Tapi Hanin bangga, karena Melvian berani melangkah maju melawan dirinya sendiri
"Udah?"
Melvian bertanya pada dua wanita yang baru masuk ke dalam mobil
Ibunya mengangguk, duduk di kursi belakang sementara Hanin duduk di kursi sebelah kemudi dengan paksaan dari Bu Hana tentu saja
"Udah, nanti katanya mau dikirimin"
"Loh, masih ada lagi? Yang di bagasi udah banyak banget loh itu" Melvian menatap Hanin heran
Hanin hanya bisa tersenyum tipis
"Ya kenapa sih? Orang Mami beli sendiri kok gak pake uang kamu!"
Melvian memutar mata malas, lalu menyalakan mobilnya
"Melvian gak bilang apa apa loh Mi. Kan cuma tanya"
"Kamu gak tanya ya, kamu itu ngejudge"
"Apalah Mami tau kata itu. Kamu pasti yang ajarin" ujar Melvian sambil menoleh singkat ke arah Hanin. Sementara matanya fokus menyetir, keluar dari parkiran pasar bunga yang baru saja mereka kunjungi
Hanin mendengus kecil namun tak katakan apapun
"Orang Mami lihat di internet kok" Melvian menghela napas pelan
"Iyaa.. maaf ya Mamii, boleh deh beli banyak banyak. Nanti Melvian minta Papi bikinin green house baru, apa gak sesek itu tanaman baru taruh semua di green house lama"
Bu Hana langsung tertawa kecil, "Okee, Mami udah mau bilang tapi takut sayang. Mami pengeluarannya banyak banget ini" Melvian hanya menggelengkan kepala, padahal menurutnya Ayahnya tak akan masalah kalau Ibunya menghabiskan banyak uang
Toh, Ayahnya mencari uang untuk Ibunya juga. Asal Ibunya senang, Ayahnya jelas akan senang
Selain itu setelah menyelesaikan kuliahnya setahun lalu, Melvian juga sudah membangun usahanya sendiri bersama Juan. Meski baru, tapi bisalah untuk memberikan uang saku untuk Ibunya yang suka jajan bunga mahal dan banyak setiap akhir pekan. Ia juga malah memberikan tabungan untuk Hanin setelah sempat ibunya menyindir perihal uang saku bulanan untuk Sharon semasa pacaran dulu
Padahal Hanin tak pernah menyinggung apapun, tapi Ibunya selalu jadi garda terdepan untuk Hanin
"Mami mau makan apa?"
"Mami ikut Hanin aja deh, Hanin mau apa?"
Tuh kan, Ibunya selalu menomorsatukan Hanin. Hanin sendiri tersenyum mendengar pertanyaan Bu Hana
"Kemarin Mami katanya mau makan di Haidilao kan. Kesana aja sekarang gimana? Pas juga jam makan siang, jadi makan di dekat kantonya Papi"
Melvian mengangguk saja, "Iyaa, mau Mami. Kesitu aja sayang" ujar Ibunya bersemangat dan langsung menghubungi suaminya untuk makan siang bersama
