40. Tentang Ayah

423 56 2
                                        

.
.


"Dulu saya sama Maminya Melvian dijodohkan, Nin" Ujar Pak Marcel pelan. Hampir seperti gumaman yang hanya untuk didengar dirinya sendiri

Keduanya tengah duduk di kantin rumah rehabilitasi. Mereka baru saja mengunjungi istri Pak Marcel yang masih sama, hanya duduk di atas tempat tidur dengan wajah kosong

"Kedua orang tua kami berteman. Mereka jalan di bisnis yang sama. Retail, tapi saya gak suka. Saya pilih jalan lain, usaha orangtua saya dipegang sama kakak. Saya pilih bangun kontraktor kecil-kecilan"

Pak Marcel tertawa pelan. Tawa hambar mengingat bagaimana usahanya memulai bisnis dulu

"Hana anak rumahan. Lembut, cantik tapi juga rapuh. Kami menikah juga untuk jaga nama baik keluarga. Disuruh lanjutin usaha. Untung saya punya saudara, jadi saya bisa berontak sedikit. Kalau Hana, perusahaan dia resmi di akuisisi sama perusahaan keluarga. Tapi tetap Hana punya saham besar disana"

Hanin diam mendengarkan, sekaligus menatap ekspresi Pak Marcel yang tampak sendu

"Belum ada cinta di antara kami. Siapa yang peduli waktu itu. Kami gak pernah saling jatuh cinta kayak di novel, tapi satu yang saya tekankan, dia istri saya. Satu satunya"

"Kami gak saling benci. Kami jalan bareng aja, toh sama-sama belajar jadi suami istri" Pak Marcel terdiam sebentar, Hanin tak berniat menyela. Ia akan dengarkan semua perkataan lelaki ini sampai tuntas

Satu yang ia tahu pasti. Pak Marcel bukan orang yang mudah bercerita tentang kehidupannya. Diluar lelaki itu tampak dingin, sama seperti Melvian

Sementara itu Pak Marcel seperti terlempar ke dalam kenangan masa lalu. Ia teringat dirinya yang begitu kaku bahkan pada istrinya sendiri. Tak ada inisiatif darinya untuk mendekat

Bahkan malam pertama pernikahan itu tak pernah meledak dengan percikan asmara. Hanya percakapan kaku di atas tempat tidur. Lalu pertanyaan basa basi yang cepat berakhir

Tapi Hana-istrinya selalu berusaha. Istrinya selalu membuatkan sarapan. Menyiapkan segala butuhnya dan menjadi istri yang tak banyak menuntut

Atau? Tidak bisa menuntut? Hana mungkin takut jika minta ini itu padanya saat itu

Ia hanya tau bekerja lebih keras. Dalam pikirannya saat itu hanya "Kalau aku kerja keras, dia gak akan susah. Kalau dia gak susah, dia akan bahagia"

Setitik dalam hatinya terus berujar bahwa ia ingin kebahagiaan Hana

Pak Marcel mengerjapkan mata cepat saat dirasa kedua matanya memanas

Pak Marcel menatap Hanin, kedua matanya sayu

"Saya kira setelah Melvian hadir. Hubungan kami akan semakin rekat" Lelaki itu tersenyum malu, merasa getir pada harapannya sendiri

"Tapi sebaliknya. Hana kena baby blues berat. Gampang nangis bahkan kalau saya sedikit telat pulang. Dia marah kalau saya ke luar kota"

"Terkadang saya malah balik emosi. Meskipun nada saya datar, Hana tau saya marah"

"Kalau kamu tanya apa saya sayang sama Hana? Saya sayang. Tapi saya sayang dengan cara saya sendiri. Tapi bagi Hana itu gak cukup"

Pak Marcel menutup mata sebentar. Tiba tiba rintik air hujan perlahan turun dari langit yang memang sedari tadi mendung

"Karena perbuatan saya. Dia hidup dalam prasangka, apa saya sudah punya perempuan lain? Padahal tidak. Demi Tuhan, saya tidak pernah memikirkan apapun selain pekerjaan dan keluarga saya sendiri. Saya cuma.." Pak Marcel diam tak melanjutkan kata. Ia terdengar terlalu membela dirinya sendiri

Beliau menarik napas panjang

"Saya lupa, Hana bukan cuma mau makan enak. Dia mau saya pulang tepat waktu. Mau saya ada di sebelah dia waktu dia gak bisa tidur malam-malam. Mau saya pegang tangannya di klinik saat periksa kandungan, bukannya sopir kami saja. Dia mau kita dekat meskipun perasaan cinta itu belum tumbuh"

"Melvian lahir, kerjaan saya makin naik. Koneksi datang dari mana-mana. Dulu saya terus berpikir kalau ini saya lepas, kapan lagi? Kesempatan itu akan datang kapan lagi?"

"Melvian tumbuh dalam rumah yang rusak. Prasangka Maminya buat ia tumbuh dalam ketakutan. Saya bahkan tak bisa pegang dia"

"Dia selalu merasa kalau Papi-nya gak pernah benar-benar ada"

Pak Marcel menatap jemarinya dengan gemetar. Hujan mulai turun

"Saya yang bangun semua ini," katanya lirih

"Perusahaan megah, sekaligus rumah kosong untuk anak istri saya"

Hanin terdiam dengan kedua mata berkaca kaca. Ia ingin meraih tangan lelaki tua itu, tapi ia tahu ini luka yang hanya bisa dipikul pelan-pelan. Hatinya yakin, cinta yang tumbuh di atas ketakutan hanya akan menular ke generasi berikutnya dengan isi yang sama

Kesepian tumbuh jadi racun karena tak
pernah diobati

Ayah Melvian bukan pria jahat. Dia hanya terlambat mengerti. Dia bekerja keras membangun segalanya, tapi lupa satu hal kalau kesepian bisa lebih tajam daripada pengkhianatan yang nyata. Dan istri anaknya adalah bukti

Pak Marcel sudah punya cinta itu untuk istrinya, lelaki itu hanya belum pandai menerima itu semua. Lelaki itu hanya terlalu kaku, bahkan seolah tak percaya bahwa cinta bisa tumbuh dari dua orang yang menikah karena perjodohan

Pak Marcel menatap langit-langit. Matanya berkaca. Senyum getir muncul di bibirnya. Pak Marcel lalu menoleh pada Hanin

"Sekarang dia begitu ke kamu. Menjaga, mencurigai, mengikat, takut ditinggal, takut disakiti. Sama, persis sama"

Hening

Pak Marcel menarik napas, menatap cangkirnya seolah berharap semua salahnya bisa terlarut di dasar gelas. Lalu hilang begitu isinya tandas

"Ya.. Melvian meniru apa yang istri saya lakukan pada saya dan yang terjadi pada kamu" Hanin terkejut mendengarnya, meskipun belum sepenuhnya mengerti. Segalanya jadi tampak jelas, semua perilaku Melvian ada sebabnya

"Kalau saya bisa ulang waktu Nin, saya lebih baik tak memilih jalan ini dari awal daripada kehilangan hati istri dan anak saya begini"

Hanin menoleh lagi ke arah Pak Marcel dan lagi lagi hanya bisa diam lihat lelaki parubaya itu menitihkan air mata

Bisa ia lihat kalau Pak Marcel pun terluka karena perbuatannya sendiri. Terhitung belasan tahun hidupnya hampa meskipun istri dan anaknya masih ada di dekatnya

Mereka dekat namun tak ada satupun yang bisa dijangkau

Mendadak Hanin ingin tahu bagaimana kabar Melvian saat ini



Cuutttt

MuakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang