.
.
Ibunya duduk di sofa, matanya tampak tak fokus. Satu tangan berada diatas bantal mengetuknya gelisah. Satu tangan lain terlihat menjambak kecil rambutnya sendiri. Sementara itu terdengar napasnya berat pendek pendek. Samar samar ia dengar suara ibunya berbisik sendiri.
Di sudut ruangan, Melvian yang baru pulang sekolah itu berdiri, tubuhnya sedikit gemetar, sapaan diujung lidahnya tertahan
Ibunya kumat lagi
Ini bukan pertama kali, namun ia masih belum terbiasa. Tangannya mengepal erat, ini semua salahnya
Melvian mencoba mendekat, namun lengannya ditahan. Reyhan yang kenakan seragam sekolah yang sama dengannya itu menggelengkan kepala
"Mami" Melvian berujar pelan, seolah katakan kalau ibunya butuh bantuannya. Tak lama asisten pribadi ibunya datang dan tampak menenangkan. Reyhan menarik Melvian menjauh. Ia ingin bawa tuan mudanya itu untuk pergi, dari kenyataan pahit yang membuat tuan mudanya merasa bahwa ibunya menjadi begini karena dirinya sendiri
.
Umurnya waktu itu baru dua belas tahun. Tapi hari itu ia tahu, hidupnya berubah. Itu adalah kali pertama ia lihat ayah dan ibunya bertengkar
Sebenarnya dari awal Melvian sedikit curiga. Sejak ia memasuki kelas 4 sekolah dasar, ia tak menemukan kehangatan dalam hubungan ayah dan ibunya
Segalanya tampak baik baik saja tapi terasa hampa
Ibunya masih memasak untuk ayahnya
Ibunya masih menyiapkan pakaian untuk ayahnya
Ibunya tak kekurangan apapun
Tapi hampa
Di tahun terakhirnya sekolah dasar, mereka bertengkar. Melvian tak tau apa masalahnya. Tapi ibunya selalu mengulang kata kata dulu dengan berteriak
Ayahnya pun seperti habis kesabaran dan ikut berteriak. Mengatakan kalau ibunya harus berhenti. Tapi dari apa? Melvian mendadak pusing mendengar teriakan kedua orang tuanya
Lagi lagi saat itu Reyhan datang dan menariknya pergi. Reyhan tinggal di rumah belakang bersama para asisten rumah tangga dan sopir. Tapi pemuda tangguh itu akan selalu mengunjunginya , seperti saat ini
Melvian masih tak tau alasan pertengkaran kedua orangtuanya. Hari setelahnya kedua pasang suami istri itu kembali biasa saja
Masih hampa, masih kosong
Melvian tak mau menuntut, ia hanya diam
Saat ia naik ke sekolah pertama, ibunya mendadak melarangnya ini itu
"Pergaulan sekolah pertama kadang menyeramkan. Mami cuma mau pastikan kamu tidak salah jalan"
Melvian mengangguk. Sejak saat itu ibunya mulai kendalikan kebiasaannya
Seluruh kegiatan sekolahnya mulai dipantau. Satu persatu temannya diajak berkenalan, mulai dari orang tua hingga alamat temen temannya, ibunya harus tau
Melvian senang karena ibunya peduli pada semua aktivitasnya. Ia pun akan ceritakan semua yang ia lakukan tanpa terkecuali
Namun semakin lama Melvian merasa aneh. Ia baru sadar kalau ia merasa aneh dengan tingkah ibunya
Ibunya seperti tau setiap hal yang ia lakukan bahkan saat ia ada dikamarnya sendiri
Pernah saat ia terbangun di malam hari dan menghabiskan satu kotak cookies di dapur. Paginya sang ibu akan langsung memarahinya padahal stok cookies di kulkasnya ada banyak. Ibunya tak akan mungkin sadar jika kotak makanan itu berkurang kalau tidak menghitungnya dengan teliti
Melvian kira ibunya hanya sedang sensitif saja. Apalagi makanan itu memang kesukaan ayahnya dan lumayan susah untuk mendapatkan makanan itu
Tapi tidak
Tidak hanya disana. Pernah satu kali ia merengek ingin makan mie instan. Ibunya dulu bilang ia boleh makan makanan itu setiap sebulan sekali. Tapi hari itu ia dimarahi. Ibunya benar benar marah, mengatakan kalau Melvian tak boleh memakan makanan ini lagi selamanya
Melvian ketakutan namun tak katakan itu pada siapapun. Ayahnya pulang setiap ia sudah tertidur dan pergi setiap ia belum bangun. Tak ada lagi kedekatan antara dirinya dan ayahnya
Semua menjauh
Perlahan ia sadar kalau setiap makanan favorit ayahnya, ia tak boleh makan itu juga. Ibunya berbeda
.
Satu hari hujan turun deras di luar. Melvian baru saja pulang dari sekolah. Ibunya duduk di ruang tamu, seperti biasa, entah melakukan apa. Ia tak berniat menyapa. Namun sebelum ia sempat naik ke atas, suara itu memanggilnya dari ruang tamu
"Mel.."
Nama panggilan dari ibunya
Melvian mendekat, lalu duduk di samping ibunya
Wanita itu duduk di sofa dengan sebuah album foto di pangkuannya. Foto-foto lama. Foto pernikahan. Foto Melvian saat masih kecil, hanya sedikit, tak pernah ada foto lain. Tapi ibunya seperti mencari sesuatu yang tak ada
Melvian melirik ibunya sekilas lalu ikut menatap ke album yang dibawa ibunya itu
"Lihat Mel" kata ibunya sambil menyodorkan satu foto. Tangan ibunya sedikit bergetar, pergelangan tangannya tampak kurus. Hanya sebuah foto ayahnya yang nampak baru keluar dari mobil
Melvian ragu-ragu, tapi ia diam memperhatikan
"Papi kamu dulu juga kayak gini. Suka pulang telat. Suka bilang 'enggak ada apa-apa'. Tapi ternyata, selama ini dia bohongin Mami"
Melvian diam. Ia belum tahu bagaimana harus bereaksi. Bahkan konteksnya saja ia masih tidak paham
"Kamu jangan jadi kayak Papimu" mulai ibunya lagi
Ibunya menatapnya tajam
"Jadi mulai sekarang, kamu beneran harus cerita semua sama Mami ya? Bahkan kalau ada perempuan yang deketin kamu, Mami harus tahu. Boleh, ya?"
Melvian melihat genangan air mata dikedua mata cantik ibunya. Cepat sekali perubahan suasana hati ibunya
Dan Melvian yang saat itu hanya ingin ibunya tak menangis, lalu mengangguk
Sejak hari itu, ibunya mulai membaca semua pesan-pesan di ponselnya. Mengatur siapa yang boleh dia temui. Bahkan menelpon guru BK karena ada perempuan sekelasnya yang memberi hadiah ulang tahun. Yang entah Melvian tau dari mana. Selalu ada saja celah
.
Tangannya mengepal. Napasnya tak beraturan. Kedua matanya terbuka, merah, sayu. Lelaki itu bangkit duduk, keringat mengalir dari dahinya
Ia terbangun dari tidurnya yang tak pernah nyenyak
Melvian berdiri, melangkah ke cermin besar di sisi ruangan
Ia bisa lihat dirinya. Seorang pria dewasa dengan badan tegap. Bukannya bocah kecil yang terus bermimpi tentang ibunya yang mengoyak sofa ruang tamu dengan brutal dan terus mengulang kata kata yang sama
"Kenapa dia masih gak sayang. Padahal aku udah terima dia"
Giginya bergemelatuk keras
Ia ingin menelepon, tapi pada siapa? Hanin? Mau apa? Menjelaskan semuanya? Tapi, apa bisa? Apa boleh?
Kedua telinganya berdengung, ia sedikit memukul keras sisi kepalanya yang mendadak pening
Ia mau dengar kalau apa yang ia lakukan itu tidak masalah
Ia mau orang orang menerima dirinya
Cuuttt!!
Pelan pelan
