51. Luka yang hilang

354 57 0
                                        

.

.





Sekarang bukan lagi tentang luka dan trauma, tapi tentang menyembuhkan dan menerima

Manusia membuat kesalahan, dan selalu ada faktor lain di belakang itu semua

Kini hanya ada penerimaan dan perasaan untuk mengerti satu sama lain

"Kamu beneran mau beli ini?"

Hanin menoleh, melihat Melvian yang memegang satu ikat besar mawar putih di tangan kanannya

"Iya"

"Ini gak kebanyakan? Mami mau buat buket sebesar apa emang?"

"Mami yang minta 100 tangkai kok, itu juga lebih dikit"

Melvian membuka mulut hendak katakan sesuatu lagi namun urung, lelaki itu hanya mengangguk

"Yaudah, ini aja tambahannya?"

"Udah itu aja"

"Yaudah, bayar sekarang ya" Hanin tersenyum karena Melvian langsung menarik tangannya pelan dalam genggaman

Seminggu pasca semua pengakuan itu terucap. Kini mereka hanya manusia yang mencoba jujur pada perasaan masing-masing

Beberapa ikat bunga dengan aneka jenis sudah tersusun rapi di bagasi mobil Melvian. Kini mereka hendak pulang ke rumah Melvian

Rumah baru tepatnya, mereka memutuskan pindah sementara di rumah baru. Masih di komplek yang sama namun dengan suasana yang berbeda. Ibu Melvian mau rumah dengan halaman yang luas agar bisa di tanami banyak tanaman katanya, jadi ayah Melvian langsung menyetujui itu dan membeli rumah yang diinginkan istrinya

"Mau mampir makan dulu? Atau beli camilan? Kamu biasanya kalau siang pengen kue gitu kan" Hanin tak bisa menahan senyum. Semua kebiasannya masih diingat Melvian, naif sekali

"Kan di rumah makanannya masih banyak, cake yang aku buat sama Mami kamu juga masih ada. Makan itu aja"

"Oke, aku langsung puter ke rumah ya. Kamu jangan ngambek karena pengen sesuatu loh"

Senyum lebar Hanin luntur, Melvian di sebelahnya yang sebenarnya sedari tadi ikut memperhatikan ekspresi Hanin hanya terkekeh saja

"Mana ada aku ngambek ya"

"Ada, kemarin lusa kamu ngambek karena aku gak tanya kamu mau berhenti beli boba langganan kamu atau nggak. Dirumah kamu diemin aku terus"

Hanin tergelak, tak menyangka dengan sisi peka Melvian yang kelewat batas

"Ya maaf"

Melvian tertawa kecil, "Gapapa, tapi lain kali gak boleh gitu. Kalau mau sesuatu langsung bilang oke. Gak boleh ngambek karena makanan ya"

"Iyaa"

"Pinter"


.


"Biar bibi aja Han" Marcel mencoba mencegah Hana yang sedari tadi mondar mandir bantu menyiapkan makan siang di meja makan

"Kenapa?"

"Kamu jangan capek"

Hana tersipu, namun tak menurut

"Gini aja gak capek kok. Lagian deket sama dapur, kamu sejak kapan balik dari kantor"

"Barusan" Marcel duduk di ujung meja makan

"Melvian belum pulang? Hanin ikut?" Tanyanya lagi

"Habis ini. Kamu gak mandi dulu? Apa habis ini balik ke kantor?"

MuakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang