49. Yang Terdalam

279 45 0
                                        

.
.


"Lo yakin gapapa?" Redica berbisik pelan pada Hanin yang berjalan bersisian dengannya sementara di belakang mereka ada Juan, Dean, Gerald yang berjalan pelan mengikuti

"Gapapa, aku udah bilang ke Om Marcel juga kok"

Hanin memimpin jalan teman temannya menuju ruang rawat Bu Hana

Ya, ia mengajak Redica dan teman teman Melvian berkunjung ke rumah rehab. Itupun atas kemauannya sendiri. Tapi ia sudah meminta izin Pak Marcel dan Melvian juga sudah membaca pesan yang ia kirimkan saat ia sampai di parkiran tadi

Sementara itu teman teman Melvian membawa buah tangan masing masing. Juan membawa bunga, Dean membawa parcel buah dan Gerald membawa satu kotak brownies

"Gue masuk duluan ya" Hanin membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan milik Bu Hana sementara yang lain menunggu didepan

Redica berdiri di balik pintu, tak berani berinteraksi dengan yang lain. Apalagi Juan yang sedari tadi tampak menghindarinya

Hanin tersenyum melihat Bu Hana yang tampak duduk di sofa santainya menghadap ke jendela

"Tante.." panggil Hanin pelan

Hana menolehkan kepala pelan, sedikit mengernyitkan dahi sebelum kemudian tersenyum lebar

"Hanin?"

"Iya tante" Hanin langsung duduk bersimpuh di hadapan Bu Hana. Memijat pelan kaki wanita parubaya itu

"Kamu udah lama gak kelihatan, kemana aja. Padahal kata dokter tante udah bisa keluar, kita bisa jalan jalan. Kata kamu ada tempat jualan bunga yang bagus"

Hanin mengangguk. Senang melihat tante Hana tampak antusias menyambutnya. Wanita itu kini banyak bicara, tak seperti dulu saat pertama kali bertemu. Mungkin inilah Bu Hana yang asli. Yang ceria, murah senyum dan banyak bicara 

Hanin tersenyum, merasa terharu meskipun baru sedikit mengikuti cerita kehidupan sosok wanita didepannya. Namun ia sudah sangat takjub, bertahun tahun mengalami depresi meskipun memiliki segalanya 

"Iya tante. Nanti ya, kita kesana sekalian beli bunga yang banyak. Katanya tante mau belajar merangkai bunga ya. Aku juga udah lihat banyak tutorial di YouTube jadi gak mau kalah loh sama tante" 

Hana tertawa sendiri. Kedua matanya menyipit, kerutan tampak samar di ujung matanya

"Tante juga mau lihat YouTube tapi sama Marcel gak dibolehin lihat hape. Takut kecanduan"

Hanin terkekeh kecil, Pak Marcel memperlakukan Bu Hana seperti anak kecil. Tapi lucu karena Bu Hana tampak nyaman nyaman saja

"Iya nanti lihatnya sama Hanin aja ya tante, sekalian kita beli bunganya juga" Hana mengangguk, masih tak melunturkan senyumnya melihat gadis yang sudah lama tak ia jumpai itu

"Oh iya, Hanin bawa temen kesini. Tante mau ketemu?"

"Beneran?"

"Iya, temen deket Hanin semua"

"Tapi tante.." Hana terdiam menatap penampilannya ke bawah

"Tante pakai baju rumah sakit gini gapapa"

"Gapapa dong, Hanin bawa masuk ya" Hana tidak sempat menarik tangan Hanin yang tiba tiba saja sudah berdiri dan berlalu ke pintu. Wanita itu tampak gugup, bahkan merapikan rambutnya yang sebenarnya baik baik saja 

Pintu terbuka, samar ia mendengar suara langkah kaki mendekat dan ucapan permisi dengan lirih. Lalu tak lama 4 orang berdiri menghadap padanya. Menunjukkan senyum yang tampak bersahabat

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang