26. Kebenaran

683 93 11
                                        

.
.




"Melvian sibuk apa sekarang?"

Reyhan menutup semua map yang baru saja diperiksa oleh bos besarnya

"Untuk saat ini masih sibuk dengan perkuliahan dan organisasi Pak, Apalagi sebentar lagi akan ada diesnatalis kampus"

"Oh, sudah mau ya. Jangan lupa mintakan proposal dari dewan kampus, ingatkan mereka kalau kita akan beri sponsor" Reyhan mengangguk mengerti

Pak Marcel juga mengangguk, lelaki parubaya itu memutar cincin di jari manisnya dengan lembut

"Hanin? Bagaimana hubungan mereka?"

Reyhan mendongak sebentar, ia tekan ludahnya gugup saat lihat tuannya itu sudah menatapnya tajam

"Baik baik saja Pak. Saya sudah memantau Hanin dan gadis itu tidak pernah macam macam"

"Berbeda sekali dengan Sharon?"

Reyhan mengangguk pelan

"Saya masih belum mengerti apa mau Melvian sekarang. Ada banyak hal yang saya lewatkan dari anak saya sendiri karena kesalahan saya dulu" Pak Marcel menunduk, menatap potret keluarga yang selalu ia simpan diatas meja kerjanya

"Semua salah saya. Hubungan saya dan Melvian renggang juga salah saya"

Reyhan diam mendengarkan, bibirnya hanya bisa mengulum rapat. Sesekali menatap wajah sayu sang tuan besar

"Saya tidak mengerti apa mau Melvian, bahkan mau saya pun saya juga tidak mengerti"

"Saya tidak mau mengekang Melvian. Tapi saya tidak bisa biarkan anak saya berbuat sesuka hati"

Pak Marcel mendongak, menatap ke arah Reyhan

"Saya tau sulit bagi kamu ceritakan semua tentang Melvian ke saya. Saya tidak berharap lebih, saya suka kamu ada didekat anak saya"

"Saya cuma mau bilang.. Tolong jaga anak saya"

Keduanya beradu tatapan dengan pandangan berbeda

.


Melvian menatap ke arah Hanin yang berjalan sedikit cepat ke arahnya setelah tutup pagar kosannya

"Kamu nungguin dari tadi?" Melvian mengangguk pelan

Hanin mendengus lalu tertawa kecil, namun rona samar hiasi kedua pipinya lalu gadis itu tersenyum

"Kenapa senyum terus daritadi?" tanya Melvian sambil bukakan pintu untuk Hanin

Hanin menoleh, masih dengan senyum diwajahnya

"Kenapa?" tanya Melvian lagi

"Aku kayaknya suka beneran deh" ujar Hanin pelan

Melvian terdiam, satu tangannya tetap ada di atas pintu mobil yang terbuka, buatnya mengurung Hanin yang belum masuk dan berdiri menghadapnya

"Suka beneran? Maksudnya?"

Hanin tersenyum malu, "Suka ya suka beneran"

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang