.
.
"Acara amal tahunan nanti, anda bisa datang dengan Nona Hanin." Reyhan berujar pelan setelah lama menunggu tuan mudanya selesai dengan urusannya dibalik layar laptop. Lelaki muda itu baru saja menutup kasar laptopnya entah karena apa
"Apa yang gue lewatin? Gue kecolongan Han" geram Melvian, tak menanggapi apa yang diucapkan oleh Reyhan barusan
Napas lelaki itu memburu, matanya menatap nyalang ke depan
Ia marah. Marah sekali pada Hanin yang berani membohonginya disaat ia dengan jelas melihat gadis itu melalui layar laptopnya
"Lo udah ikutin Hanin kemanapun dia pergi kan?" Melvian menatap nyalang ke arah Reyhan
"Iya tuan" balas Reyhan cepat, Melvian mode begini masih sulit untuk ia hadapi. Ia takut salah ambil langkah
"Kenapa gue kecolongan, dia baru aja bohongin gue" ujar Melvian dingin
"Dia kayak nungguin sesuatu dan gak mau gue tau. Dia bohongin gue kenapa?" Ujar Melvian berpikir keras
Reyhan tak beri respon apapun, ia hanya dengarkan saja tuannya bercerita tentang kekasihnya yang mana jarang sekali ia lihat ekspresi tuannya saat ini. Wajah bertanya dan kecewa yang sebelumnya tak pernah terlihat bahkan saat tuannya itu jalin kasih dengan kekasih pertamanya dulu
"Saya akan bantu cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nona Hanin" ujar Reyhan akhirnya. Namun Melvian tak katakan apapun, lelaki itu hanya terus menatap ke depan dengan tatapan tajamnya
.
Melvian tak bisa tidur, tak pernah ia bayangkan Hanin akan katakan sesuatu yang berbeda dengan yang gadis itu lakukan saat mereka masih berbicara lewat telepon
Apakah ini sudah saatnya? Awal mula dari segalanya? Saat Sharon mulai sering berbohong padanya dulu?
Apakah Hanin sama saja dengan Sharon? Melvian tak pernah merasa segelisah ini sebelumnya
Malam ini lelaki itu tidur di rumah utama, ia segera bangkit dari tempat tidurnya lalu putuskan untuk turun ke dapur
Lampu utama telah dimatikan, hanya beberapa penerangan kedua yang dinyalakan samar, sisakan cahaya di sudut-sudut ruangan. Melvian berjalan pelan, hingga berbelok menuju dapur, namun siapa sangka ia justru temukan ayahnya di sana
Ayahnya sendiri ikut terkejut akan kehadirannya, namun tetap melanjutkan makannya dengan tenang
Ya, Ayah Melvian tengah makan malam seorang diri di bar kecil yang ada di dapur. Melvian berdeham pelan, matanya melirik sekitar lalu melihat dua pembantu dirumahnya ada di lorong yang terhubung di kamar mereka, keduanya nampak menunggu sambil menahan kantuk
Ayahnya memang kerap kali pulang sangat larut, Reyhan yang katakan demikian. Tak ia sangka saja akan selarut ini
Melvian berjalan pelan menuju kulkas, mengambil sebotol air dingin, setelahnya ia berbalik dan ingin kembali tanpa katakan apapun
"Gimana kabar Hanin?" tanya sang ayah tiba tiba
Melvian hentikan langkahnya, menoleh ke samping dengan perlahan
"Baik,"
Ayahnya hanya mengangguk pelan, sambil terus mengunyah makanannya
Sementara Melvian masih diam ditempatnya berdiri, menunggu ayahnya katakan sesuatu lagi
