43. Berawal

507 67 1
                                        

.
.


Hanin berpapasan dengan Redica saat baru sampai dikosan. Gadis itu sepertinya baru ke dapur dan hendak kembali ke kamar saat bertemu di lorong kosan

"Dari rumah rehab?" Tanya Redica. Hanin mengangguk

Sepasang sahabat itu sudah kembali saling terbuka. Hanin dengan gamblang ceritakan semua yang ia tau. Tentang Melvian ataupun keluarganya

Ia percaya pada Redica yang kini mengikutinya ke kamar

"Kondisi tante Hana gimana? Terus Om Marcel belum balik dari dinas?"

Hanin melepaskan jaketnya, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur

"Kenapa Melvian pilih aku?" Gumam Hanin tiba tiba

Redica duduk mendekat, tak mendengar apa yang barusaja dikatakan Hanin

"Gimana?"

Hanin bangkit dari berbaringnya

"Melvian kenapa deketin aku? Setelah dengar cerita dari tante Hana. Aku masih gak ngerti kenapa aku?"

"Aku penasaran kenapa dia lihat aku? Kalau Sharon aku masih bisa percaya. Melvian udah tertarik sama dia dari lama kan. Tapi aku apa?"

Setelah dengar semua tentang keluarga Melvian. Hanin merenung selama perjalanan pulang dalam mobil milik keluarga Melvian yang mengantarkannya

Kenapa dia?

Apa Melvian memilihnya karena ia mudah?

Hanin kesal membayangkannya. Ia kasihan tapi ia juga kesal. Semudah itu Melvian menjadikan orang lain sebagai alat untuk kepuasannya sendiri

"Melvian serusak itu Re" ujar Hanin dengan wajah serius. Redica mendengar, tak banyak berkomentar

"Kalaupun nanti aku bakal ketemu sama dia lagi. Aku mau pastiin, maksud dia apa. Sekarang aku udah sejauh ini sama tante Hana. Aku cuma mau dia sembuh aja, terus nanti baru aku beneran pergi dari hidupnya Melvian"

.

Pintu ruang rawat itu dibuka

Pasien di dalamnya sedikit terjingkat, apalagi melihat sosok yang baru saja masuk dengan wajah datarnya

Lelaki itu tak katakan apapun, hanya duduk setelah letakkan parsel buah di meja dekat tepat tidur

Reyhan mengerjapkan matanya cepat, menatap bergantian parsel buah di atas meja dan Melvian yang datang berkunjung

Ia sudah terbangun dari komanya selama hampir sebulan kemarin. Dan di hari kelimanya ini Melvian datang

Kini ia hanya perlu memulihkan tubuhnya saja. Sekaligus merawat bekas lukanya yang sudah mengering

Reyhan tak pernah marah pada Melvian. Sekasar apapun lelaki itu padanya. Reyhan tak akan pernah marah. Ia tak akan pernah bisa

"Lo kapan balik?" Tanya Reyhan. Ia tahu Melvian pasti langsung dibawa keluar negeri oleh tuan besarnya

Melvian yang memalingkan wajah hanya menggedikkan bahu. Mengundang decakan dari Reyhan. Tapi lelaki itu tak memaksa Melvian untuk bicara juga

Melvian datang kesini saja sudah tanda tanya baginya. Karena Melvian bukan orang yang seperti itu

Reyhan menghela napas pelan. Ia yang tadinya tengah menonton televisi itu lalu bangkit dari berbaringnya. Bergerak sedikit untuk duduk di tepi tempat tidur. Lalu mengambil parsel buah yang baru dibawa Melvian

"Rahang gue geser dikit, terus tulang kering gue patah. Selebihnya ya bonyok aja. Oh iya, sama gue juga koma. Baru bangun 5 hari lalu. Emang dasar badan gue yang kuat aja ya, udah bisa ngoceh gini"

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang