.
.
Hanin kira ia sudah melewati fase itu, tapi nyatanya tidak
Sudah lima hari berturut-turut Hanin tidak tidur lebih dari tiga jam. Ia sering terbangun dalam tidurnya lalu tak bisa tidur pada akhirnya
Matanya sembab, tubuhnya letih, dan pikirannya terus mengulang adegan demi adegan yang tak ingin ia kenang lagi
Berisik sekali
Bahkan playlist lagu rock yang sengaja ia buat pun tak mampu lagi alihkan pikirannya
Ia mencoba membaca, menulis, meditasi, tapi tak ada yang benar benar membantu
Begitu ia terbangun, ia akan diam. Memandang plafon kamarnya dan kembali memikirkan lelaki itu
Dan akhirnya, ia menyerah. Hanin memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Setidaknya ia mau berkonsultasi pada sang ahli untuk masalah yang ia alami
Dokter perempuan yang ia temui ramah, dan mendengarkan keluhannya dengan seksama
"Saya udak sarankan langsung pakai obat tidur mbak Hanin. Kamu belum butuh itu dan kayaknya gak terbiasa sama obat ya" Hanin mengangguk sebagai jawaban
"Tubuh kamu sedang stres, apa ada masalah berat yang kamu pikirin?"
Dokter muda itu tertawa kecil lihat Hanin nampak ragu menjawab
"Coba minum teh herbal aja ya sebelum tidur. Bisa pilih rasa Chamomile, peppermint, atau lavender. Kamu suka minum kafein gak?" Hanin menggelengkan kepala, terakhir ia minum minuman itu sebulan lalu
"Ya, lebih baik berhenti saja ya konsumsi kafein. Terus simpan hape sejam sebelum jam tidur kamu, atau kalau bisa dibiasakan jam terakhir bermain hape biar tubuh kamu terbiasa juga. Bisa diganti kegiatannya dengan membaca atau menulis jurnal"
Hanin mengangguk
"Oke, Dok. Saya coba"
.
Hanin keluar dari ruang konsultasi dengan langkah pelan. Di tangannya ada secarik kertas berisi resep kecil rekomendasi teh dan tips tidur. Ringan tapi isinya berat, karena berhubungan dengan tidurnya yang berantakan
Saat ia hampir sampai di lift di ujung koridor, ia melihat seorang pria paruh baya berdiri di sana. Tampak rapi dengan jas dan sepatu mengkilat. Wajahnya juga tak asing
Hanin menegang. Jantungnya berdetak lebih kencang
"Om Marcel" batinnya
Lelaki itu menoleh dan langsung tersenyum kecil saat melihatnya. Seolah dengar batinnya tadi
"Hanin? Ya ampun, kamu di sini?"
"Iya, Om" Hanin menunduk sopan. Lalu berjalan mendekat
Bak pinang dibelah dua. Paras lelaki parubaya ini begitu serupa dengan Melvian. Mungkin nanti saat dewasa, Melvian akan terlihat seperti ayahnya. Gurat tegas masih terlihat jelas di wajah beliau
Bedanya ada sedikit hangat dan kelembutan disana, berbeda dengan Melvian yang lebih kaku dan berikan kesan dingin jika tak mengenal dekat
"Kamu sakit? Muka kamu agak pucat"
Hanin mengangguk pelan, buat apa juga disembunyikan
"Cuma gangguan tidur, Om," jawabnya pelan.
"Oh... Jangan biasakan buat stres, kalau capek langsung istirahat. Liburan.. Anak muda sekarang gampang kelelahan"
Hanin mengangguk, mencoba tersenyum walau sedikit kaku. Tak lama lift di depan mereka berdenting, pintu perlahan terbuka
Ayah Melvian melirik jam tangannya
