.
.
.
"Lo yakin?"
"Ya, gue mau dia rasain perasaan ini juga. Gua gak suka dia mainin perasaan gue kayak gini"
"Gue bela lo, gue gak mau lo disakitin. Gue bantu lo"
"Makasih, kalau emang apa yang lo ceritain bener, gue penasaran apa yang bakal dia lakuin nanti"
.
"Jangan ikut campur, itu urusan Hanin sama Melvian" Juan bantu benahi penampilan berantakan Redica disampingnya
Gadis itu tadi menangis menceritakan tentang Hanin pada Juan
"Tapi kalau Hanin ketahuan gimana?" Ujar Redica masih sesenggukan
"Putus, Melvian pasti akan mutusin Hanin. Melvian gak suka perselingkuhan. Detik itu juga Hanin ketahuan sama Melvian, hubungan mereka bakal langsung berakhir"
"Kalau beneran gitu, gue pasti bakal kesel sama Hanin. Tapi Hanin temen gue, kita udah temenan lama Ju"
Juan terdiam, tak tau harus berkata apa
Dalam hal ini ia jelas akan membela Melvian. Ia tak mengerti mengapa Hanin melakukan hal itu
Kurang apa Melvian untuk gadis itu sehingga Hanin malah tetap dekat dengan Dimas padahal Melvian sudah menunjukkan ketidaksukaan pada Dimas
"Kamu pikirin dulu hubungan kamu sama Hanin, kita juga gak tau kan apa motif Hanin deket sama Dimas. Tapi untuk saat ini jangan ikut campur aja ya, kita liatin mereka aja"
"Aku cuma takut Melvian gak bisa kendalikan diri lagi kayak waktu itu. Kamu pelan-pelan tanya lagi ke Hanin ya, tanya dia lagi ada masalah apa"
Redica mengangguk, ia terlalu marah pada perilaku Hanin siang tadi. Dan tak bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga pergi dari kamar gadis itu dengan marah
Bahkan tadi pun ia tidak berpamitan saat hendak pergi bersama Juan
.
Beberapa hari berlalu..
Hubungan Melvian dan Hanin semakin berkembang. Hanin benar-benar menunjukkan sisi manis dan lembutnya pada Melvian
Melvian menyambutnya dengan antusias. Ia suka dengan semua sifat Hanin yang perlahan ia ketahui
Hal-hal kecil tentang gadis itu pun mendadak jadi perhatiannya
Meskipun ada titik dalam hatinya yang terus mencegahnya untuk tak terlalu jatuh
"Tuan Melvian.." Reyhan masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu
Melvian menggeram kesal karena meskipun Reyhan memanggilnya dengan panggilan sopan, tapi lihat kelakuannya yang langsung membuka pintu kamarnya disaat ia baru selesai mandi. Ia bahkan hanya kenakan handuk
"Ketuk pintu!"
"Sorry" Reyhan berdeham pelan
Melvian mengangguk singkat, lalu memakai kaos santainya dengan cepat
"Mereka udah lo turunin"
"Sudah"
"Bagus, terus?"
Reyhan menelan ludah gugup, kali ini benar-benar dimulai. Sama seperti dulu, saat tuan mudanya berhubungan dengan Sharon. Saat segalanya semakin intens dan hampir menuju akhir hubungan tuan mudanya itu
