20. Tekad Buruk

851 110 2
                                        

.
.


"Kita bagi gimana?" Hanin memulai pembicaraan saat ia berkumpul dengan teman kelompok untuk salah satu mata kuliahnya

Kelompok metode penelitian itu berisi 4 orang. Hanin, satu teman laki laki bernama Dimas, dua perempuan lain ada Kalista dan Sharon

Sharon nampak berikan tatapan datar dari seberang meja

Mereka berkumpul di kantin besar kampus atas usulan Dimas

Hanin menatap ke arah Kalista, gadis itu biasa mengobrol dengannya namun nampak diam saja saat ini tak mau jawab pertanyaannya

"Yaudah gue aja yang bagi" ujar Dimas menengahi

"Hanin lo bagian latar belakang sama bab 1, Gue nanti pendahuluan sama bab 2, Kalista bab 3 sama kesimpulan, Sharon bab 4 sama dapus"

"Gimana? Gue udah biasa gini kalau kerkel pembagiannya"

"Gue oke dimana aja kok" ujar Hanin, Dimas menatap ke arah dua gadis lain

"Kalo lo Kal? Shar? Oke gak? Biar cepet selesai nih, gue mau latihan taekwondo soalnya"

"Lo atur aja deh" ujar Sharon

"Oke deh, masing masing cari 2 jurnal yang relevan ya, kirim ke grup. Habis ini gue bikinin" ujar Dimas sambil melirik ke arah Hanin

"Gimana Nin? Lo ada masukan gak?" Tanya Dimas

Hanin menggelengkan kepala. Aneh kalau ia tidak merasa sedari tadi Sharon menatapnya tak suka

Kenapa juga gadis itu harus selalu begitu? Kalau berkaitan dengan hubungannya dengan Melvian, bukankah gadis itu tak ada hak untuk marah ataupun cemburu?

Melvian mendekatinya kan setelah mereka putuskan hubungan, bahkan setelah beberapa bulan baru Melvian tau ada dirinya di kelas

Kenapa Sharon harus terus menunjukkan ketidaksukaan padanya?

"Kalau gitu clear ya, waktu kita ada sebulan buat bikin laporan sama slide presentasi. Gue cabut duluan nih"

"Gue bareng Dim" ujar Hanin ikut berdiri

Dimas mengangguk, keduanya pergi begitu saja tinggalkan Sharon dan Kalista disana

.

Hanin benar berjalan bersisian dengan Dimas keluar kantin yang memang searah dengan gor kampus, Hanin juga hendak ke perpustakaan yang kebetulan searah

"Nin"

Hanin berdeham pelan, "Kenapa Dim?"

"Lo beneran pacaran sama Melvian?" tanya Dimas pelan

"Iya, bisa dibilang gitu sih" ujar Hanin pelan. Hanin bukan tak mau bersikap tegas, tapi perlakuan Sharon padanya nampak seolah ia adalah orang ketiga dalam hubungan gadis itu dengan Melvian

Ia merasa janggal dan tak nyaman

"Keren sih lo bisa naklukin Melvian" ujar Dimas dengan senyum miring

Hanin tak merespon apapun

Ia menaklukkan Melvian, ya?

Ia jadi ragu

"Dari mana?"

Hanin yang sedikit melamun tadi terjingkat pelan

Matanya sedikit membola lihat Melvian menghadang jalannya

Lelaki itu menatapnya dengan wajah datar, Dimas di sebelahnya tedengar tertawa kecil

"Kita balik dari kerja kelompok bro" ujar Dimas

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang