.
.
Melvian duduk diam didepan jendela kamarnya. Rumah kedua di mana ayahnya akan mengasingkannya setiap kali ia berulah
Tak ada yang ia kerjakan
Hanya merenung atas segala hal yang terjadi. Ia memulai segalanya dari Sharon. Gadis itu mendekatinya lebih dulu. Melvian awalnya ingin biarkan sakitnya tumbuh bersamanya saja. Tak mau ia hilangkan
Tapi Sharon yang mendekat padanya mendadak berikan pandangan bahwa ia bisa sembuh. Bahwa ia bisa waras
Ia mulai jalankan apa yang ibunya lakukan pada Sharon. Pelan pelan ia atur segalanya. Keterlibatan Dito pun ia yang mendalangi
Ia mau tangannya tetap bersih sementara ia mau buktikan bahwa apa yang dikatakan ibunya benar. Bahwa ia mau menebus semua rasa bersalah itu melalui Sharon
Ia cukup bersabar saat Sharon meminta banyak hal darinya. Ia belajar bahwa sebuah hubungan memang perlu sedikit pengorbanan
Ia sudah menduga. Meski tak sepenuhnya, tapi ia tau Sharon akan berpaling. Gadis itu banyak digilai, jadi Melvian hanya coba coba mencari saja. Ia ciptakan skenario itu
Tapi akibatnya tetap nyata. Ia frustasi seketika saat hubungannya dengan Sharon berakhir
Sakit itu nyata. Mungkin ini yang ibunya rasakan saat itu
Melvian diasingkan, setiap hari bertemu dengan dokter pribadi keluarganya untuk memastikan ia baik baik saja
Tak lama ia kembali dari pengasingan, dengan pikiran yang lebih jernih seolah otaknya dicuci. Ia melupakan segalanya, bahkan Sharon hanya masa lalu yang tak sudi ia ingat
Namun lukanya tak ikut sembuh. Ia hanya membaik untuk membuat masalah baru yang sama
Ia kembali menjadi sosok yang baru, sekaligus mencari korban baru
.
Ruangan dokter itu tetap sama seperti terakhir Melvian masuk ke sana, aroma kayu tua, lampu meja berpendar kuning hangat, dan rak buku yang rapi berjejer seperti saksi bisu sejarah hidup keluarga mereka. Dokter itu mungkin seumuran dengan ayahnya. Tapi senyumnya lebih hangat
Meski tak bisa menyembuhkan luka Melvian. Tapi senyum lelaki itu menenangkan, seolah katakan bahwa tidak masalah baginya untuk melakukan ini. Bukan tatapan menghakimi ayahnya seperti waktu itu
Sang ayah duduk di kursi kulit tua milik sang dokter, entah kapan lelaki itu datang kemari. Ayahnya kenakan kemeja putih dengan lengan tergulung. Di depannya, dua cangkir teh mengepul pelan. Melvian duduk di seberang, menatap cairan dalam cangkirnya dengan tatapan kosong
Melvian tak berniat membuka obrolan, pun dengan ayahnya yang hanya terdiam
Buat apa? Menyalahkannya?
"Kamu makin mirip Mami kamu" ujar ayahnya tiba tiba
Melvian menahan napas, lalu mendongak pelan. Tak berniat mengelak
"Sekarang Papi tau polanya. Papi sudah bilang buat kamu berhenti, tapi kenap—"
Melvian mengetuk meja dengan ujung jarinya. Wajahnya tampak tak nyaman
"Papi bisa pergi. Melvian gak butuh ceramah dari Papi. Hidup Melvian hancur. Papi mau bilang Melvian sama kayak Mami karena sama sama gila?"
"Melvian!"
