32. Melawan

527 92 10
                                        

.

.

.

.


"Tadi katanya Acara diesnatalis fakultas beda kan sama yang universitas?"

"Sama. Nanti dijadiin satu. Acaranya Februari akhir" ujar Melvian sambil melihat buku note yang selalu ia bawa

Lelaki itu kini duduk di ruang sekretariat BEM Fakultasnya

Ia baru saja selesaikan rapat bersama seluruh ketua BEM di kampusnya untuk acara dienatalis kampus mereka

Ada Juan yang duduk tak jauh darinya. Juan adalah wakilnya, jelas lelaki itu akan sering terlihat bersamanya

"Oke deh, gue nanti koordinasi juga sama semua ketua angkatan" Melvian mengangguk menyetujui. Jadi ia hanya perlu sampaikan hasil rapat nanti pada dekan fakultasnya

Kedua lelaki itu fokus pada pekerjaan mereka masing-masing, sampai Juan menoleh cepat karena dengar suara orang mengobrol diluar ruangan sekretariat mereka

Lelaki itu melirik ke arah Melvian yang tak bergeming. Melvian kalau sudah fokus memang susah diganggu

Namun, bukan tanpa alasan Juan langsung bereaksi pada suara diluar sana

Pasalnya, ia sangat mengenal suara itu. Itu suara Hanin. Ia tak mungkin salah mendengarnya, apalagi sejak menjadi kekasih Redica. Ia pun jadi sering berinteraksi dengan Hanin

Lelaki itu lalu berdiri, mendekat ke arah jendela yang ada di sebelah pintu sekretariat yang terbuka

Juan menatap ke luar dan benar saja. Ada Hanin sedang berdiri di depan ruang ukm fotografi dan ruangan itu berada tepat di seberang ruangan BEM. Hanin sendiri berdiri tak jauh dari ruang sekretariat, jadi Juan bisa dengan jelas melihat gadis itu

Juan menatap lekat ke arah kekasih sahabatnya itu

Bukan apa, masalahnya Hanin sedang berbincang dengan Dimas

Lelaki itu kembali melirik ke arah Melvian, dan sahabatnya itu ternyata sudah menatap ke arahnya. Membuat Juan terjingkat kaget

"Lo ngapain?"

Juan langsung gelagapan, "Ha? Nggak, itu gue kayak denger suaranya ayang gue. Ternyata bukan" Juan pelan-pelan kembali duduk, ia gugup karena Melvian melihatnya dengan tatapan intensnya yang memang selalu tajam

Namun tak lama Melvian kembali fokus pada tugasnya lagi, abaikan wajah sedikit pucat Juan

"Jangan kebanyakan bucin lo, kerjain tugasnya yang bener. Awas aja sampe salah" tegur Melvian

Juan mengangguk pelan, namun kedua matanya nampak gelisah

Apa yang ia lihat tadi benar kan?

Tadi, Dimas gandeng tangan Hanin, kan? Dia pasti salah lihat. Tapi ia lihat dengan jelas kalau Dimas benar-benar menggenggam pergelangan tangan Hanin

Tapi kenapa? Apa Hanin sudah gila? Atau malah dia yang gila?


.


"Melvian sama Juan bukannya lagi rapat sama dekan ya Nin? Terus lo minta siapa buat jemput ini?" Redica dan Hanin terjebak di Mall karena hujan deras yang tiba-tiba mengguyur kota

Mereka memang mampir ke Mall yang cukup jauh dari kampus karena ada beberapa barang yang perlu dibeli setelah selesai kelas

Dan saat hendak pulang di tengah hujan ini, tidak ada satupun driver taxi online yang tersambung dengan mereka

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang