38. Berhenti

607 86 19
                                        

.
.


Pemandangan kota di luar jendela terlihat gemerlap, seperti lautan cahaya yang tak pernah tidur. Tapi bagi Melvian, itu hanya lampu-lampu tanpa makna. Berkedip tanpa arah. Seperti dirinya

Ia duduk di atas sofa lebar, punggung bersandar pada sofa. Matanya kosong, kedua tangannya diperban. Lelaki itu diam, sedari tadi

Lagi lagi ia ada di perasingan. Sunyi, gelisah dan lebih dari itu— kosong

Berulang kali satu pertanyaan muncul di benaknya

"Apa benar dirinya lahir cacat dari dalam? Ia ini gagal jadi manusia yang waras?"

Ia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Benci, ia bahkan benci lihat dirinya sendiri

.

Keinginannya mengambang, tak tau arah jalan. Tak ada yang menuntun, hanya dirinya yang mencoba sendiri

"Gue mau berubah"

Itu yang selalu ia katakan 

Ia hampir mengucapkannya keras-keras. Tapi suaranya mengendap di tenggorokan.
Karena setelah itu... pertanyaan berikutnya datang

"Tapi... bagaimana caranya?"

"Siapa yang mau membantunya?"

Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Pikirannya memutar ulang malam itu —malam di mana ia memukuli Reyhan. Wajah Reyhan pasrah dan tidak berniat melawan
Mata Reyhan yang tidak membenci bahkan setelah pemuda itu terkapar dengan banyak darah di tubuhnya

Melvian gemetar namun tak katakan apapun. Kedua tangannya kebas. Ia pergi dari ruang belajarnya, mencuci tangan di kamar mandi kamarnya. Berganti pakaian lalu berbaring diatas tempat tidur

Lama kelamaan dirinya terpejam hanya untuk memulai mimpi buruk yang sama

Reyhan pernah bertanya padanya

"Kenapa lo diem aja? Coba lo jelasin ke dia soal lo, soal trauma lo. Dia pasti ngerti"

Melvian marah, karena Reyhan mungkin saja benar. Tapi Melvian tak mau dikasihani

Apalagi pada orang asing

Hanin, orang asing dalam hidupnya? Apa iya?

Melvian menunduk. Matanya panas. Tapi ia tidak menangis. Ia tidak bisa. Air mata itu sudah mati di dalam dirinya sejak lama.

.

Kesepian selalu menyesakkan. Ia mengambil ponselnya. Membuka galeri, foto terakhir yang ia ambil adalah Hanin

Ia suka diam-diam memotret gadis itu dari samping. Hanin sedang tersenyum melihat air mancur warna-warni di malam hari

Foto itu masih ada. Tapi orangnya sudah pergi.
Dan ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa—selain dirinya sendiri

Apa yang dipikirkan Hanin tentangnya? Apa dia dianggap sebagai monster? Penguntit? Atau bahkan orang gila?

Hatinya tak benar benar sembuh. Ia hanya mencoba mencari peralihan baru

"Gue capek. Tapi gue gak tahu siapa yang bisa gandeng gue"

Bahkan ibunya yang jiwanya telah hilang sejak dulu pun, apa bisa menuntunnya lagi? Memberikan kasih sayang padanya sebagaimana seharusnya

Melvian duduk diam. Menanti, mencoba meraih dengan caranya sendiri

Langit malam perlahan memudar dari biru gelap ke hitam kelam. Lampu kamar masih menyala redup. Melvian masih di tempat yang sama. Duduk, diam, dengan kepala tertunduk dan satu tangan menggenggam ponsel yang layarnya mati

MuakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang