.
.
"Besok Melvian kesini lagi kan sayang?" sudah 15 kali pertanyaan itu terucap dari bibir Bu Hana yang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidurnya
"Iya, Melvian antar Hanin pulang. Bobok di rumah terus besok kesini lagi" ujar Melvian pelan, sambil mengusap surai ibunya dengan lembut
Bu Hana tersenyum, lalu menatap ke arah Hanin yang masih ada disana
"Makasih Hanin" ujarnya dengan senyuman tulus, Hanin mengangguk dan tersenyum juga
"Nanti Papi kesini katanya mau bawain pesenan Mami ya. Ditunggu, Mami istirahat dulu"
"Bilang Papi kamu Mami juga mau lihat youtube ya"
"Iya, kalau gak boleh biar Melvian yang izinin" Melvian mencium tangan Bu Hana sebelum benar-benar keluar ruangan rawat bersama Hanin
Diluar ruangan sudah tak ada Redica dan yang lain
Hanin menatap sebentar lagi ke arah jendela di pintu ruangan tersebut. Bu Hana tampak menatap keluar jendela menyaksikan langit yang cerah
"Ayo" Melvian berujar pelan, Hanin berbalik lalu ikut berjalan keluar
.
Redica dan yang lain ternyata sudah lebih dulu pulang ke kota. Hanin dan Melvian memutuskan untuk pulang juga. Hanin tak menolak Melvian yang mengantarnya
Namun tak ada percakapan selama perjalanan. Hanya musik yang dinyalakan dengan volume rendah yang menemani perjalanan mereka
Sesekali Melvian menoleh ke arah Hanin yang hanya menatap ke depan dengan kedua tangan saling bertaut diatas paha
Hingga mobil Melvian sampai di bangunan kos Hanin
"Makasih" ujar Melvian pelan
"Udah beberapa kali dokter sama Papi saranin aku buat langsung ketemu sama Mami. Tapi aku gak sanggup. Bayangan Mami yang nangis karena ucapanku malam itu masih terngiang terus. Bahkan kadang jadi mimpi buruk"
Melvian menoleh, Hanin tampak menghela napas pelan masih dengan kedua tangan yang saling bertaut
Tangan Melvian terulur, lalu mengambil tangan kanan Hanin. Yang tadi digenggam erat oleh ibunya
Tampak ada bekas kemerahan disana
Hanin tak menjauh, ia biarkan Melvian mengelus luka itu dengan lembut
"Bekasnya Mami tadi ya, masih sakit?" tanya Melvian pelan, Hanin menggelengkan kepala
"Entah apa yang kamu lakuin sampai Mami bisa kayak gini. Makasih Nin"
"Maaf juga karena aku udah nyakitin kamu" ujar Melvian pelan, Hanin diam tak katakan apapun namun gadis itu tidak pergi, tak melepaskan tangan Melvian dari tangannya
Setelahnya hanya diam, Melvian masih menggenggam tangan Hanin. Tak katakan apapun, namun ia suka sunyi ini. Ia merasa tak ada perpecahan antara keduanya. Ia sudah lega, meskipun Hanin belum benar-benar memaafkannya
"Ada satu yang pengen gue tanyain" ujar Hanin tiba-tiba, Melvian menoleh mempersilakan
"Apa.. selama kita ada hubungan, lo beneran gak anggep gue?" tanya Hanin pelan, sangat pelan namun anehnya Melvian mendengarnya dengan jelas
"Nin, jujur. Pacar pertama aku Sharon" ujar Melvian memulai
Hanin menolehkan kepala cepat, bersamaan dengan Melvian yang menoleh juga
"Sekarang aku ceritain semua sudut pandang aku selama ini ke kamu. Nanti bebas mau kamu percaya atau nggak"
"Pacar pertama aku Sharon. Kenapa Sharon? Karena dia emang deketin aku duluan, disitu aku baru punya pikiran untuk lakuin ini semua. Tapi turn out ternyata dia cuma jadiin aku bahan taruhan emang bener. Semua rumor yang pernah kamu denger soal hubungan aku sama dia benar. Aku bahkan kasih kartu kredit aku ke dia, aku gak tau gimana berhubungan jadi dia minta aku kasih"
