53. Jalan Panjang

448 62 0
                                        

.
.


Satu hari Melvian bertanya pada Hanin. Disaat keduanya menemani Ibu Melvian untuk check up kesehatan. Saat mereka tengah duduk bersandingan di kursi ruang tunggu rumah sakit

Melvian melayangkan pertanyaan yang selalu terlintas tiap kali hendak tidur

"Kamu nyaman kan sama aku?" Tanyanya pelan, takut orang di belakangnya mendengar. Hanin menoleh, diikuti Melvian yang ikut menoleh ke arahnya

"Apa?"

"Sama kita yang sekarang? Kamu nyaman kan? Atau.. ada sesuatu yang kamu sembunyiin tapi takut untuk kamu omongin"

"Kamu ngerasa begitu?" Melvian menggelengkan kepala, lalu memalingkan wajah menatap ke depan

Kekehan Hanin terdengar. Gadis itu terlihat santai, tapi justru itu yang buat Melvian bertanya tanya

"Bukannya kamu yang ngerasa gitu?" Hanin balik bertanya

"Kamu ngerasa begitu?" Melvian memutar ke pertanyaan, Hanin tertawa kecil lalu mengangguk

"Aku cuma mau tanya, kalau boleh.."

"Kenapa kaku banget kamu. Tanya aja gapapa" desak Hanin karena mendadak penasaran juga

Melvian tampak menelan ludah gugup

"Kita apa sekarang?"

Senyum Hanin luntur seketika

Melvian melihatnya, lalu sedikit panik menyerong ke samping

"Aku gak berani melabeli apapun, tapi setiap Mami tanya aku bingung jawabnya. Kalau mantan emang gimana? Mantan tapi kita masih sedeket ini. Malah aku berharap deket terus" ujar Melvian blak blakan

Hanin menatap Melvian lekat. Lelaki itu berubah. Kini benar benar terbuka, bahkan pada hal kecil pun ekspresinya nyata. Contohnya Hanin yang tak membalas pesannya lalu tiba tiba saja datang ke rumah lelaki itu. Melvian menatapnya kesal, seolah mengatakan kamu bisa kesini dan pasti bawa hape tapi kenapa pesan aku gak dibales. Aku bisa jemput kamu. Seperti itu

Melvian sangat terbuka. Seperti orang yang benar benar berbeda

"Terserah kamu anggap apa kita sekarang"

"Kalau kamu, kamu anggap kita apa sekarang?"

"Aku ikut kamu aja" jawab Hanin

"Kalau gitu aku bilang Mami kamu pacar aku aja gimana. Aku juga rencananya bilang mau tunangan sama kamu sebelum kita lulus" Hanin reflek memegang lengan Melvian. Melvian terkekeh kecil

"Kenapa kaget? Kamu harusnya nyangka aku bakal serius Nin. Maafku kemarin bukan tanpa alasan"

"Apa aku terlalu cepet? Kamu mungkin mikir aku masih sakit dan gak bisa ngebedain mana yang cuma obsesi semata"

"Aku gak bilang gitu" bantah Hanin. Melvian terkekeh pelan

"Iya enggak. Jadi gimana?"

"Gimana apanya?" Keduanya menoleh bersamaan, Bu Hana ternyata sudah keluar. Wanita parubaya itu tersenyum lembut. Melvian berdiri dan langsung memeluk ibunya

"Mami oke?"

"Oke sayang" pelukannya dilepas, Melvian gandeng tangan ibunya

"Kalian ngomongin apa tadi serius banget?"

"Bukan apa apa Mi. Ayo makan siang dulu ya ini, sekalian sama Papi atau gimana?" Melvian mengulurkan tangannya pada Hanin. Gadis itu menyambutnya, keduanya ikut bergandengan tangan dengan Melvian ada ditengah. Ibunya bersandar pada bahunya sambil berjalan keluar

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang