.
.
"Emang sibuk banget katanya Nin. Kata Juan dia suka balik malem ke kontrakan"
"Mana mau ada acara dies natalis kampus,kan?"
Hanin mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi sendu yang kentara. Setelah pertemuannya dengan Melvian di kosannya waktu itu, ia takut sekali ada sesuatu yang terjadi dengan kekasihnya
Tapi Melvian tampak baik baik saja, lelaki itu juga masih menghubunginya setelah pulang dari kosan. Besoknya juga lelaki itu mengiriminya makanan untuk makan siang
Hanin hanya merasa ada yang belum selesai. Ia penasaran, namun tak tau harus mulai dari mana
Ia hanya merasa kalau lama kelamaan ini jadi tidak benar. Melvian terus beralasan bahwa ia sibuk tanpa jelaskan pada Hanin apa yang disibukkan. Ia masih belum tenang akibat kejadian di kosan tempo hari dan Melvian tinggalkan dirinya tanpa penjelasan lain
Kalau dipikir pikir lagi, hubungannya dengan Melvian termasuk monoton -sangat monoton tepatnya-
Ia jadi dibuat bertanya-tanya, sebenarnya apa alasan Melvian mau jalin kasih dengannya?
Diliriknya Redica yang tengah berbaring tengkurap di atas kasurnya sambil lakukan panggilan suara dengan Juan. Gadis itu menghela napas pelan, lalu menunduk menatap ponsel yang ia genggam
Bahkan, hari ini pesannya sejak pagi tadi belum dibaca. Meskipun memang perlu waktu yang cukup lama untuk lelaki itu membalasnya, tapi tak pernah lebih dari satu jam sekalipun
Hanin melempar ponselnya kesal. Baru ini ia marah sekali hanya karena sebuah pesan yang tak terbalas. Apa memang begini? Apa mereka baik baik saja? Lalu Hanin harus apa? Apa dia harus merengek minta Melvian pusatkan atensi padanya?
Gadis itu lalu berdiri dari kursi belajarnya, Redica meliriknya sekilas lalu bangun dari posisi tengkurapnya, "Mau kemana?" tanya gadis itu tanpa suara saat lihat Hanin raih jaket di gantungan belakang pintu
"Mau keluar, jalan jalan aja. Ikut gak?" jawab Hanin pelan
Redica mengangguk cepat, gadis itu langsung matikan panggilannya dan izin pada Juan untuk pergi sebentar bersama Hanin. Redica pun langsung keluar dari kamar Hanin untuk berganti pakaian, Hanin sendiri langsung keluar juga dan mengunci pintu kamarnya. Ia menghela napas pelan sebelum berbalik, kedua matanya tak sengaja melempar pandangan ke arah cctv yang tergantung di depan kamarnya, hanya sekilas saja lalu gadis itu melengos pergi ke kamar Redica yang ada di sebelah kamarnya
Mungkin jalan-jalan bisa alihkan pikirannya sesaat
.
"Kamu berteman dengan anaknya Pak Marcel?" Dimas menoleh ke arah ibunya yang tengah berjalan di sebelahnya. Sepasang ibu dan anak itu tengah nikmati waktu dengan jalan-jalan saja di salah satu Mall dekat kampus Dimas. Dimas yang memang anak rantauan itu memang tengah dapatkan kunjungan dari ibunya dari kota sebelah
"Mama tau darimana?"
"Anaknya sendiri kok yang waktu itu datang ke perusahaan Papa kamu. Katanya mau jalin kerja sama kan, padahal dulu Papa susah banget kerjar Pak Marcel buat diajak kerjasama. Eh, ini anaknya sendiri yang dateng. Katanya tertarik sama perusahaan di bidang kita" Dimas menggigit bibirnya pelan namun tak katakan apapun
"Tapi bagus deh, Pak Marcel memang jarang mau bekerja sama untuk perusahaan kecil. Jadi bagus banget beliau mau bantu kita di masa kritis kita kan?"
"Iya Ma"
"Kamu harus belajar sama anaknya Pak Marcel, Kak. Siapa namanya? Mel.. Melbian ya?"
"Melvian Ma"
"Iya Melvian, masih muda gitu tapi jago diplomasi. Dia juga auranya sudah kayak petinggi perusahaan" Dimas mengepalkan kedua tangannya kuat, sambil dengarkan ibunya terus saja memuji Melvian ini itu
