.
.
Ia tak mengerti
Mengapa terselip kemarahan dalam dirinya saat tau gadis itu makan berdua dengan lelaki lain
Tidak. Ia tau segala hal tentang gadis itu. Bagaimana ia bisa tau keberadaan gadis itu tak lain karena benda kecil yang sengaja ia pasang di dalam dompet gadis itu agar ia bisa tau keberadaan gadis itu dimanapun
Mereka baru saja pergi berdua saat itu, dan begitu lihat gadis itu ada di tempat makan. Rasa penasaran buatnya putuskan untuk datang menghampiri. Siapa sangka ia malah lihat gadis itu bersama lelaki lain, dan kenyataan itu buat darahnya seperti mendidih. Ia lihat sendiri gadis itu bisa tertawa begitu
lepas dengan lelaki lain
Ia tak mengerti dengan dirinya sendiri, juga perasaan yang ia alami. Segala hal seperti abu-abu baginya
Lalu apa artinya ia lakukan ini semua? Mau bagaimana akhir yang ia inginkan?
Apakah ia ingin gadis itu semakin mendekat atau segera menjauh
Ia berada di ambang batas dua hal itu
Sisi lain dirinya ingin gadis itu menjauh namun satu sisi lain marah jika gadis itu mengambil jarak
Ia marah karena ia tak dilibatkan
Padahal ia yang suruh lelaki itu mendekati gadisnya
Gadisnya
Ia tersenyum getir. Kedua tangannya mengepal kuat hingga telapaknya memutih, rahangnya mengeras dengan dahi mengerut dalam
Ia tak tau apa yang akan terjadi pada dirinya jika ini berakhir nanti
.
Setelah kejadian itu, Melvian bersikap seolah tak pernah terjadi apapun. Lelaki itu masih tersenyum, lelaki itu masih penuh perhatian padanya. Lelaki itu masih sama meskipun kini lebih dingin. Hanin masih merasa bersalah karena tak katakan yang sebenarnya, tapi ia terlalu takut untuk mengakui. Melvian jelas kecewa kan, mungkin lelaki itu butuh waktu untuk bisa memaafkannya
Sempat terbersit di pikirannya jika Melvian telah berubah. Tapi apa memang begitu? Apa jika sudah resmi begini rasa lelaki itu akan perlahan berkurang dan sementara perasaannya yang tumbuh besar? Atau Hanin hanya berasumsi saja
Jika memang begitu mungkin Hanin akan memilih untuk menikmatinya saja. Ia akan berperan layaknya kekasih manis dan menyenangkan, meskipun ia tak tau bagaimana caranya. Ia cukup tau diri kalau mungkin saja Melvian berekspektasi lebih padanya sebagai seorang kekasih
"Kenapa lari lari?" Melvian usap peluh di dahi Hanin dengan tangannya tanpa ragu. Hanin mungkin saat ini sedang menatap Melvian dengan tatapan memuja
Melvian yang begini langsung mematahkan hal yang membuatnya kesal pada lelaki itu
"Kamu nunggu lama, tadi Redica masih ngobrol sama Bu Yati makanya lama"
"Gapapa kan nunggunya di mobil" Hanin mengerucutkan bibirnya, benar juga, Melvian toh menunggu di dalam mobil yang dingin dan nyaman
"Makasih" Melvian tersenyum kecil saat lihat wajah kesal Hanin karena ia membantah gadis itu
"Sekarang kemana dulu?" Tanya Melvian sambil nyalakan mobilnya
"Kamu maunya kemana? Gantian kan kemarin aku yang nentuin" ujar Hanin sambil kenakan sabuk pengaman
Melvian menganggukkan kepala setuju lalu jalankan mobilnya dengan perlahan
Hanin diam, menatap Melvian yang fokus menyetir itu dengan lekat. Lama hingga lelaki itu menyadarinya dan terkekeh
"Kenapa lihatinnya gitu banget?" tanya Melvian tanpa menoleh, mereka masih berada di jalan. Lelaki itu hendak bawa Hanin ke tempat yang biasa ia kunjungi
