52. Refleksi

343 53 3
                                        

.
.


"Waktu itu, kenapa kamu gak langsung pergi? Kenapa akhirnya kamu jelasin semua?"

Diamnya mereka selama perjalanan tadi ternyata menyimpan tanya untuk Hanin. Melvian mematikan mesin mobilnya

Saat mereka hendak pamit pulang tadi. Pada akhirnya Melvian tau alasan ayahnya yang bersikap demikian pada ibunya dulu

Ayahnya hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Hanya saja saat itu ibunya masih belum mengerti dan ayahnya tak mau menjelaskan

Melvian menghela napas pelan sebelum berujar

"Aku tau kita bakal ketemu. Tapi aku gak nyangka aja ternyata kamu sudah tau"

"Aku tau kamu belum sepenuhnya maafin aku. Aku bersalah banget, permainin perasaan orang demi obsesi gak jelasku" Melvian tersentum kecut. Ia benar-benar merasa seperti pecundang

"Kamu tanya kenapa aku akhirnya balik lagi dan putusin buat cerita semua bukannya beneran kabur dan tinggalin semua"

Melvian mendongak, menatap tepat ke kedua mata Hanin

"Karena aku gak suka kita jauh. Dengan kamu bicara seperti itu ke aku, aku ngerasa kita kepisah jarak yang jauh banget"

"Aku sempat mikir apa ini bagian dari obsesi aku tapi nggak Nin, jujur obsesi aku sekarang bukan lagi tentang hasil akhir dari proses yang menyakitkan"

"Obsesi aku sekarang murni untuk kamu. Aku aja yang gak berani jujur, gak berani terbuka sama perasaan aku yang asli"

Hanin diam, masih belum menemukan celah untuk menjawab karena ia sendiri terlalu terpaku. Pada Melvian yang menatapnya lekat

"Kalau kamu mikir aku orang yang gak tau malu, gapapa. Aku gak peduli sama sebutan itu, tapi dari Papi aku, aku belajar sesuatu"

"Aku mesti jujur, bahkan sama perasaan aku sendiri"

Lelaki itu menghela napas, seolah bersiap pada sesuatu yang mau ia ucapkan

"Sekali lagi aku mau bilang, aku sakit. Tapi untuk sekarang aku mau jujur Nin. Aku mau kamu, lagi dan seterusnya. Disaat aku sakit atau sembuh nanti"

Hanin menahan napas karena merasa wajahnya memerah sempurna

"Aku bakal selalu bilang ini. Kalau kamu tanya apa aku serius, iya, aku serius. Semua ucapanku serius. Hanya niatku dulu yang berantakan. Maaf" Melvian menunduk kecil

Hanin terdiam, tak tau bagaimana mencerna semua ucapan Melvian

Namun tangannya lebih cepat bergerak dibanding pikirannya. Gadis itu meraih tangan Melvian. Lelaki itu sempat terjingkat kecil lalu mendongak

"Gue sempet mikir cukup gue tau alasan lo milih gue Yan. Gue pikir itu aja udah cukup"

"Tapi nggak. Gue emang naif banget, gue pengen tau tapi gue juga mau tetep ada disana. Gue udah gak tau cara buat keluar"

"Reyhan bilang kemungkinan lo bakal pindah keluar negeri. Gue sempet mikir gimana caranya biar bisa ketemu lo lagi." Hanin tertawa kecil, namun genggaman tangan Melvian di tangannya yang menyambut tangannya membuat dadanya menghangat

"Gue senaif itu. Gue denial kalau gue bilang gue gak bakal peduli"

"Gue mikir seandainya lo jawab lo gak sayang sama gu-" ucapannya tertahan, Melvian menariknya dalam pelukan

"Aku sayang. Perasaan aku tumbuh tanpa bisa aku cegah Nin. Gimana kamu tulus ke aku, bikin aku percaya kalau itu aja udah cukup. Seharusnya itu udah cukup ngebuktiin kalau tanpa apapun aku bakal bisa dicintai dengan layak tanpa dipaksa sama apapun"

MuakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang