Bab-55

40.8K 1.7K 84
                                        

"Jadi, mari menyelesaikan masalah, mas. "

Itu adalah kalimat yang Mysha katakan saat Roberto meninggalkan nya berdua dengan Bima, di ruang tamu.

"Ya, banyak yang harus kita selesaikan. Tapi, bolehkah aku bertanya pria tadi, itu papa mu? Bukannya ayah mu, Edwin? " tanya Bima, menatap ke arah Mysha. "Aku ingin tahu, karena aku harus bersikap yang tepat bukan? Seandainya dia ayah mertua ku? "

Mysha yang mendengar ucapan Bima itu, tersenyum tipis. "Kamu saja memanggil ayah ku, dengan panggilan nama saja. Bagaimana bisa kamu mengatakan bersikap yang tepat? "

Bima yang mendengar sindiran Mysha itu, langsung kikuk. "Ha, maaf. Ak--"

"Ayah Edwin itu, ayah angkat ku. Sedangkan pria yang tadi, adalah orang tua kandungku. Namanya, papa Roberto. " Mysha langsung memotong ucapan Bima. "Kamu, pasti senang ya, saat tahu ayah kandung ku bukan Edwin? Nggak perlu menghilang lagi, kan? "

"Sabrina, apa maksud kamu? " tanya Bima tak percaya mendengar ucapan istri nya itu.

"Mas, kamu tahu, hubungan kita dibuat dari kesalahan. Aku terlalu mendendam saat itu, untuk menghancurkan hidup seseorang. Hingga dengan berani nya wanita usia 22 tahun, menjebak suami orang lain. Hubungan kita itu, benar-benar tidak sehat. " Mysha mengatakan itu, sambil menarik nafas kasar.

"Awalnya aku juga benci kehidupan ku ini mas, tapi dalam misi balas dendam itu, aku sadar aku sayang kamu, apalagi saat tahu ada malaikat kecil dalam diriku sekarang. Aku benar-benar ingin melupakan dendam itu. Tapi, saat itu, istri mu datang, orang yang membuat ku bertindak jauh itu datang, mengungkapkan bahwa pernikahan ini hadir karena kamu ingin harta keluarga mu, dengan mengambil anak ku. Mungkin awalnya aku selalu bertindak lantang akan memberikan anak ini pada mu, tapi hati kecil ku selalu menolak itu. " Setelah mengatakan itu, Mysha menundukkan kepalanya. Bima sedari tadi, memilih diam mendengar ucapan istri kecil nya itu.

"Karena itu, aku memilih pergi. Kita sama-sama merusak hubungan sakral di depan Tuhan ini, mas. Aku benar-benar meminta maaf untuk kegaduhan yang telah ku buat, nama baik keluarga mu yang tercoreng, aku minta maaf. " Dengan tangan yang terlipat di dada, Mysha mengucapkan maaf.

"Sabrina, kamu tidak perlu meminta maaf. Aku lebih banyak salah di sini. Umur ku lebih dewasa dari mu, seharusnya aku lebih bijak dalam bertindak. Aku minta maaf sayang. " Bima segera menghampiri sang istri, untuk meminta maaf.

"Maaf, aku nggak tahu tentang rencana yang kamu ketahui itu dari Aulia. Tapi, setelah menikah dengan mu, dan sekarang akan memiliki anak, aku sadar aku mencintaimu, Sabrina. Benar-benar mencintaimu. "Lanjut nya.

Kedua pasangan itu, saling meminta maaf, mengutarakan semua kesalahan yang telah mereka lakukan.

" Mari saling memaafkan, sayang. Kita buka lembaran baru, dengan anak-anak kita di masa depan, berbagi cerita indah. " Dengan tangan yang saling bertaut, Bima mengatakan itu.

Tapi, Mysha segera melepaskan tautan tangan mereka, dan menggelengkan kepala. Membuat dahi Bima mengernyit.

"Alasan ku meminta maaf adalah agar hidup ku tenang, Mas. Selain itu, jika anak kita lahir kita bisa merawat nya berdua dengan baik. "

"Sebagai keluarga, kan? " tanya Bima dengan raut bingung nya.

Tapi, pertanyaan Bima itu dibalas dengan gelengan kepala oleh Mysha.

"Sayang, jangan becanda. Kita merawat baby kita bersama kan, sebagai keluarga? Masalah ini selesai kan? "

"Masalah ini memang sudah selesai mas, kita saling memaafkan. Tapi, untuk merawat anak, kita bisa melakukan bersama, tanpa ikatan pernikahan. Mas, mari bercerai. "

Sungguh, kalimat terakhir yang diutarakan Mysha, membuat jantung Bima terasa berhenti sesaat.

"Sayang, kamu becanda kan? Sepertinya, kamu membutuhkan lebih banyak waktu beristirahatlah lagi, aku akan berikan itu. Jangan ngomong gitu, suami sudah tua. Daripada berpisah dari mu, seharusnya kamu bunuh saja aku, berikan aku kabar lain, yang membuat jantung ku terhenti. Setidaknya, ketika aku mati, aku nggak bakal menjadi duda. "

"Tapi anak ku, jadi yatim? "

"Iya itu akibatnya sayang. Jadi, daripada anak kita yatim. Lebih baik kita nggak cerai. "

Mysha yang mendengar ucapan suami nya itu menaikan alisnya. "Tapi, aku tetap teguh dengan keputusan ku, mas. Maaf. Surat cerainya akan segera diantarkan oleh orang ku, ke rumah mu. "

"Sayang, kamu tega anak kita jadi yatim, karena bapak nya meninggal di cerai ibu nya? "

"Bisa cari bapak baru kan? Yang lebih muda? " itu adalah ucapan ayah mertua nya, yang tentu membuat Bima geram.

Sial, seandainya dia bukan ayah mertua nya, pasti akan Bima pukul. Dari tadi, membuat Bima naik darah.

"Walaupun kamu nanti mati, anak dan cucu saya akan tetap hidup dengan baik. Jadi, yang perlu sekarang kamu lakukan, adalah menandatangani surat cerai itu, jika sudah di kirim anak saya. "

"Aku akan merobek surat cerai itu. Jika surat itu sampai di aku. Jadi, daripada buang-buang kertas. Lebih baik jangan lakukan itu, sayang. Kita bicara nanti, kamu butuh istirahat. Pulang dari acara pemakaman, memang melelahkan. " Bima tak menjawab ucapan mertuanya, karena sudah terlalu kesal. Tapi, dia mengucapkan itu pada Mysha.

Setelah itu, dia berdiri, dan sedikit memancing emosi Roberto dengan mengecup perut dan bibir Mysha, sebelum berlari keluar.

Tapi, Bima cukup tahu pria itu mengumpat untuk nya, dan melempar nya dengan sendal. Tapi, untungnya tidak mengenainya.

Sekarang, suasana hatinya benar-benar tidak baik-baik saja. Perceraian? Ah, sungguh Bima tak pernah terbayang akan mendengar itu keluar dari mulut  istri kecilnya.

Bima mengganggap pembicaraan tadi tak pernah ia dengar. Baik hanya itu yang bisa Bima harapkan.

Mereka sama-sama membutuhkan waktu untuk istirahat seperti nya? Baik dia maupun Mysha. Bima bisa melihat kantung mata sang istri besar. Jadi, bisa dipastikan sang istri kurang istrahat.

Mungkin karena meninggal nya Vikra, Bima tadi baru sempat menanyakan Roberto. Jika, nanti hubungan nya sudah lebih baik lagi, akan ia tanyakan hubungan Vikra dan Mysha. Karena hari itu, saat di rumah sakit, mereka tak saling mengenal.

Jadi, nanti saja, yang terpenting sekarang Bima sudah tahu keberadaan istri kecilnya.

***

Aulia yang sedari tadi mengikuti Bima, tersenyum miring saat mengetahui di mana tempat tinggal wanita yang telah menghancurkan rumah tangga nya itu.

Oh, Aulia juga sempat kesal melihat senyum Bima itu, kenapa pria itu tersenyum? Apa karena telah berhasil menemukan istri tercinta nya.

Apa Bima pikir, Aulia akan membiarkan senyum itu terus terukir, tentu saja tidak. Akan dia pastikan Bima mendapatkan rasa sakit nya juga atas penghianatan yang telah pria itu lakukan kepada nya.

T. B. C

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 13 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang