Bab-54

40.4K 2K 88
                                        

Bima menatap tajam pada mobil yang akan membawa Vikra pada peristirahatan terakhir nya.

Dia harus mengikuti nya, karena disana juga ada Mysha, dia harus bertemu dengan istri nya dan membicarakan banyak hal.

Tapi, tanpa Bima sadari, dibelakang mobilnya juga ada mobil Aulia. Wanita itu mengikuti nya sampai disini, sebenarnya dia berniat pergi.

Tapi, mata nya tak sengaja menangkap Mysha bersama seorang anak laki-laki. Aulia yakin itu anaknya Vikra.

"Oh, ternyata lepas dari Bima berpaling pada Vikra. Dari awal kamu suka sekali memungut punya saya, Mysha, " ujar Aulia, terkekeh pelan. "Tapi, kenapa Surya tidak bisa menemukan mu, Vikra belum semampu itu menyembunyikan mu. Jadi, setelah dia tiada, kamu ingin bersembunyi pada siapa lagi? Cari pria mana lagi? "

Sadar mobil Bima bergerak mengikuti mobil para pelayat, Aulia juga mengikuti nya dari belakang.

***

"Sayang, kita butuh bicara, " ujar Bima, setelah semua pelayat pergi.

Tersisa Mysha, seorang anak laki-laki yang berada di pelukan istri nya , serta seorang pria yang sedari tadi menatap tajam ke arahnya.

Bima tak bisa menunggu lebih lama lagi, untuk kedua laki-laki itu pergi. Selain itu, Bima juga sadar, mereka tak akan pergi dari Mysha.

"Jangan disini, " ujar Mysha pelan.

"Oke, tidak disini. Karena itu, mari kita pulang. Ayo pulang sayang, kamu sudah banyak menyiksa ku. Aku merindukan istri kecilku dan anakku. " mohon Bima pada Mysha.

"Atas dasar apa kamu ingin membawa anak saya pulang? " Tanya pria yang sedari tadi menatap tajam Bima.

"H-ha? Maksudnya nya? Bukan nya memberikan jawaban,  Bima .malah melemparkan pertanyaan lagi dengan raut kebingungan.

Roberto yang sadar pria itu tak mengerti dengan ucapan nya berdecak. " Saya tidak mengerti, kenapa keturunan Surya seperti mu. Kamu terlihat bodoh, "Roberto mengatakan itu dengan penuh ejekan. " Tapi, saya lebih khawatir cucu saya memiliki ayah bodoh seperti mu. Sudah tua, bodoh lagi, kenapa anak saya mau dengan kamu. " Roberto terdengar begitu kesal.

Bima yang mendengar ucapan yang penuh hinaan dari pria itu, sungguh ingin ia pukul, apalagi isi kepala sedang tidak baik-baik saja sekarang.

Tapi, Bima sadar pria itu bukan pria biasa, dia mengatakan a anak dan cucu pada istri dan anaknya, yang berarti pria itu ayah Mysha.

Tapi, bukannya ayah Mysha adalah Edwin? Kenapa jadi pria ini yang mengaku.

"Ck, pria itu benar-benar terlihat bodoh! " umpat Roberto, saat melihat wajah menantunya.

"Papa, " panggil Mysha, tak suka mendengar ucapan ayahnya itu.

Mendengar panggilan sang putri, membuat Roberto ingin mengumpat sekali lagi, tapi ia tahan.

Karena tak ingin ditegur oleh anaknya, selain itu juga tak etis mengumpat di area pemakaman, di depan seorang anak kecil.

"Bicara di rumah saya! Kamu bisa mengikuti mobil saya, tapi istri mu akan pergi bersama saya, " ujar Roberto, berjalan melewati Bima. "Tapi, sekarang bawa putra Vikra, anak saya sedang hamil, tidak mungkin dia menggendong anak kecil! "

Ucapan terakhir pria itu, tentu Bima setujui, karena ia juga tak suka istri nya menggendong tubuh berat itu.

Jadi, setelah putra Vikra bersamanya, dan Mysha sudah berjalan lebih dulu, yang pada akhirnya dia ikuti langkah kaki istri nya dari belakang.

"Ikuti mobil saya. Jika ingin masalah mu dengan istri mu, selesai! " ucapan yang Bima dengar setelah memasukkan  putra Vikra kedalam mobil.

***

Saat Bima masuk ke dalam rumah pria yang menganggap Mysha adalah anaknya. Apa pria itu ayah angkat Mysha?

Mereka bicara di ruang tamu, karena pria itu sama sekali tak mengizinkan Bima masuk ke dalam ruang keluarga, apalagi kamar Mysha.

Sial sekali.

Sedangkan istri nya, sudah pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Untuk putra Vikra, sudah dibawa ke kamar oleh para pekerja di sini, karena anak itu tertidur saat perjalanan pulang tadi. Mungkin efek dari kelelahan.

Para pekerja tadi juga sempat menawarkan minum pada nya, tapi pria yang Bima anggap sebagai ayah angkat dari istri nya itu, menyuruh para asisten nya untuk menyediakan air putih saja.

Jadi, yah hanya air putih yang tersedia di depan Bima sekarang. Karena memang haus, Bima meminum nya.

"Maaf lama, " ujar Mysha, membuat Bima yang sedari tadi menundukkan kepala nya, mendongak.

Ah, wanita itu sudah berganti pakain menggunakan pakaian tidur, dan sudah lama Bima rasa tak melihat istri kecilnya berpenampilan seperti ini.

Ditambah lagi, sekarang perut sang istri sudah membesar. Anaknya sudah tumbuh besar disana. Ah sungguh Bima tak sabar untuk menantikan nya.

"Hm, kita butuh bicara, " ujar Mysha, duduk di sofa yang tidak jauh dari Bima.

"Iya, banyak hal yang perlu kita bicarakan. Tapi, sebelum itu, boleh aku meluk kamu, aku rindu kamu dan juga anak kita, " ujar Bima pada Mysha, dan Mysha juga bisa mendengar kalimat penuh harapan di sana.

"Tidak boleh! " kalimat larangan itu, membuat Mysha dan Bima menoleh.

Di sana Roberto sudah berjalan menuju Mysha, duduk tenang di samping putrinya.

"Papa, aku mau bicara dengan mas Bima, " ujar Mysha kepada Roberto.

"Iya, sini papa juga nggak ngelarang, kan? "

"Tapi, aku mau bicara berdua dengan dia, " ujar Mysha, berharap ayahnya mengerti.

"Kenapa kalau tidak ada papa. Lagian, tidak baik bicara berdua saja dengan dia. Baru beberapa menit, dia sudah ingin memeluk kamu. Papa tidak suka. "

Mysha yang mendengar ucapan ayahnya itu, tak bisa untuk tidak menarik nafasnya kasar.

"Pa, aku ingin bicara empat mata dengan Mas Bima. Banyak kalimat yang perlu kami selesaikan berdua, " ujar Mysha.

"Enam mata aja sama papa. Kalian lagian juga butuh penengah kan? Jadi papa disini, " ujar Roberto, sambil menatap Bima. "Tidak masalah kan, saya disini? "

Bima yang sejak tadi diam, melihat perdebatan Mysha dengan Roberto tersentak, ketika ditanya seperti itu.

Mysha yang sadar sang suami tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya , lalu menatap Roberto kesal.

"Pa, please. Kalau papa nggak nurut aku, aku pindah ke rumah ayah!"

Roberto yang mendengar ancaman putrinya itu berdecak. Karena itu, dengan segera dia berdiri dari duduknya. Setelah susah payah membujuk sang anak mau tinggal dengan nya, tak mungkin Roberto menyerahkan semudah itu, kan?

"Tidak ada adegan pelukan , ciuman atau perbuatan terlarang lainnya. Disini banyak cctv yang mengawasi mu! " ujar Roberto kepada Bima dengan tatapan tajam nya.

Bima yang mendengar ucapan Roberto itu, dengan gugup menganggukkan kepalanya.

Sial, sebelum nya, belum ada yang berani memberikan titah seperti itu pada keturunan Surya. Tapi, Bima cukup sadar untuk tidak melawan. Karena pria itu, pasti orang yang perlu ia hormati. Terlebih sang istri memanggilnya papa.

Sedangkan Mysha, setelah melihat kepergian ayahnya, kembali menoleh kepada Bima. "Jadi, mari menyelesaikan masalah, mas. "

T. B. C

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang