Bab-52

42.5K 1.9K 142
                                        

Ponselnya terus berdering, membuat Aulia muak sekali saat melihat nama siapa yang ada di sana.

Sial. Apa Vikra itu tidak mengerti dengan bahasa manusia ha? Dia tak ingin bertemu dengan pria itu. Atau anak pria itu.

Hari ini, terhitung hari ketiga saat semua kejahatan nya terbongkar di hadapan tetua Surya dan Bima sang suami.

Aulia masih berdiam diri dirumah, tak berniat sama sekali untuk keluar. Dia hanya menunggu Bima mendatangi nya, seperti apa yang dikatakan suaminya itu.

Tapi, kenapa lama sekali? Apa yang membuat pria itu lama datang kepadanya?

Apa masih tentang wanita yang pernah menjadi istri nya itu? Apa benar Bima sudah berpaling darinya?! Sial, jika itu terjadi. Akan ia cari Mysha sekali pun di lubang semut yang kecil.

"Nyonya, ada tuan. "

Ucapan dari salah satu pembantu nya itu, membuat Aulia tersenyum senang.

Ah, pada akhirnya, sang suami kembali kepada nya.

"Langsung ke kamar aja, bi. "

Aulia mengatakan itu, karena memang posisi nya sedang di kamar. Selain itu, ia juga berharap setelah pembicaraan panjang yang menguras emosi itu, berakhir dengan menguras tenaga dengan penuh gairah di atas ranjang nya.

Sudah lama kan, mereka tidak berbagi kehangatan? Terakhir kalinya, terhalang oleh menstruasi nya.

Jadi, kenapa tidak sekarang, untuk mencoba lagi?

"Tuan, menyuruh anda di bawah Nyonya. Karena dia harus pergi lagi,mencari i-istrinya. " Aulia bisa merasakan, diakhir kalimat nya. Pembantu itu mengatakan nya dengan gugup.

Namun, ucapan bibi nya itu, sungguh melunturkan senyum Aulia.

Sial, apa pria itu tak bisa mengurus tentang dirinya sehari saja? Kenapa masih mencari wanita yang memilih pergi itu, ha?

Karena keterpaksaan, Aulia turun ke bawah, yang diikuti oleh pembantu nya.

Saat melangkah mendekat, Aulia bisa melihat sang suami yang sibuk dengan ponsel nya.

"Jadi, kamu sudah bisa diajak bicara? " tanya Aulia, tujuan nya adalah menarik perhatian Bima tentang kehadiran nya.

Ya, itu memang berhasil.

"Ayo cerai! "

Itu adalah kalimat pertama yang Bima lontarkan kenapa Aulia, saat mereka berhadapan. Hal yang tentu membuat Aulia membesarkan matanya, tak percaya.

Apa seperti ini menyelesaikan masalah menurut pria itu, perceraian?

"Kamu bercanda , mas? " Aulia mengatakan itu, dengan menatap Bima tak percaya.

Berharap, dia bisa menemukan kebohongan disana. Tapi, dia tak menemukan nya. Pria itu tampak serius dengan ucapan nya.

"Kenapa? " tanya Aulia, begitu pelan.

Mendengar pertanyaan Aulia itu, membuat Bima menarik nafasnya kasar. "Hubungan kita sudah terlalu rusak, Aulia. Benar-benar rusak, karena penuh dengan kerahasiaan. Aku, bahkan tidak tahu kalau kamu memiliki anak, padahal hubungan kita sudah begitu lama. Berapa usia anak mu? "

"Jadi, kamu memilih menceraikan aku, karena anak itu, Mas? " Aulia mengatakan itu, dengan nada tak suka nya.

"Bukan, dia bukan anak itu. Dia anak kamu. Seharusnya kamu belajar untuk menghargai kehadiran nya, dia ada di dalam tubuh mu, selama 9 bulan, tidak adakah, setitik cinta? "

"Sudah aku bilang kan, bagaimana kehadiran nya? Dia memang ada dalam tubuh ku, selama 9 bulan. Tapi, aku ingin melenyapkan nya berulang kali, " ujar Aulia, sambil menyentuh perut nya. "Jadi, alasan kamu menceraikan aku, karena anak itu. Seharusnya saat itu, aku lebih berusaha lagi melenyapkan nya. "

"AULIA! " bentak Bima tak percaya dengan ucapan wanita itu. "Gila kamu! "

"KENAPA MAS, KENAPA? KENAPA KAMU MEMBAWA MASA LALU KU, UNTUK MENCERAIKAN AKU, KENAPAA? " bentak Aulia , tak kalah keras nya.

"Aku hanya ingin kamu dekat dengan anak mu, Aulia. "

"Dengan menceraikan aku? Itu menurutmu benar? " tanya Aulia. "Kamu menjadikan alasan anakku untuk menceraikan ku, atau kamu ingin mencari anak mu yang lain? "

Bima yang mendengar ucapan Aulia itu terdiam, ya itu adalah salah satu alasan, kenapa ia ingin bercerai dengan Aulia. Untuk lebih fokus mencari Mysha dan sang anak.

Melihat keterdiaman Bima, Aulia menganggap apa yang diucapkan nya benar.

"Kenapa kita tidak merawat anak itu bersama-sama. Kamu dan aku, merawat anak itu. "

Bima tentu tak setuju dengan ide itu, merawat bersama ? Mungkin dia bisa merawat nya dengan baik. Lalu, bagaimana dengan Aulia ? Wanita itu saja tidak merawat anaknya dengan baik. Bagaimana dia bisa merawat anaknya juga?

"Aku tidak bisa memisahkan anak dengan ibunya, Aulia. " Bima mengatakan itu dengan tenang.

Sedangkan Aulia, yang mendegar ucapan suaminya itu, tersenyum miring. "Jadi, kamu ingin merawat anak mu seperti keluarga kecil bahagia, begitu? Atau ini hanya alasan kamu untuk tidak berpisah dengan wanita murahan itu? "

"JAGA BICARA MU, AULIA. SABRINA ADALAH IBU DARI ANAK-ANAK SAYA! "

Bima begitu marah mendengar ucapan Aulia yang mengatakan Mysha sebagai wanita murahan. Padahal, di masa lalu. Dia tak jauh berbeda dengan Aulia.

"Anak-anak? " ujar Aulia, mengulang kembali ucapan Bima, tanpa mempedulikan bentakan yang ia terima. "JADI, BUKAN SATU ANAK? TAPI BANYAK ANAK, KAMU MEMANG INGIN MEMBUAT KELUARGA KECIL BERSAMA DIA? DAN KAMU BENAR-BENAR MENCERAIKAN AKU DEMI WANITA MURAHAN ITU, MAS!??" kali ini, Aulia berteriak marah.

Bima yang mendengar Aulia yang kembali mengatakan Mysha wanita murahan, kembali tersalut emosi yang sebenarnya belum reda itu.

"SUDAH KU BILANG, JANGAN BILANG SABRINA MURAHAN!"

Aulia yang mendengar itu tertawa pelan. "Lalu, harus aku panggil apa wanita yang telah merusak rumah tangga orang itu? Wanita terhormat? " cibir  Aulia.

"Rumah tangga kita rusak karena kamu yang memulai nya. Jadi, hentikan untuk menyalahkan orang lain! "

"Jadi, sekarang kamu menyalahkan aku? Padahal, awalnya kamu yang mengatakan bahwa kamu telah selingkuh! " ujar Aulia.

"Memang, aku mengaku karena itu ketidaksengajaan. Tapi, kamu mendorong ku lebih dalam Aulia. Hal itu karena uang, kekayaan benar-benar membutakan kamu! " ujar Bima. "Aku, saat itu mengikuti mu, karena cinta ku padamu. Hari ini, aku berpaling itu bukan sepenuhnya salah ku, tapi juga salah mu! Jadi, berhenti bertingkah menjadi korban, saat kamu juga seorang pelaku. "

Setelah mengatakan itu, Bima langsung pergi. Karena dia merasa, tak ada sebuah keputusan yang nantinya ia dapat. Namun,sebelum keluar Bima berhenti untuk mengatakan. "Aku akan mengirimkan surat cerai padamu secepatnya. Jangan sedih, kamu akan mendapatkan beberapa persen harta ku. " Setelah mengatakan itu, barulah pria itu pergi.

Sedangkan Aulia yang melihat kepergian pria itu, serta apa yang diucapkan, membuat tangan nya terkepal penuh amarah.

Sial! Anak-anak? Keluarga kecil? Pria itu tadi tak menjawab apa yang ia lontarkan. Namun, tindakan nya seolah membenarkan.

Hal itu sungguh membuat nya marah, akan ia pastikan Mysha akan mendapatkan balasan, karena membuat Bima berpaling darinya.

Anak? Bagaimana kita buat pasangan itu kehilangan? Bukannya dia hadir karena keinginan Aulia. Jadi, kita kembalikan saja, dia?

"Kamu menceraikan aku demi anak itu. Maka akan ku buat dia pergi, menyusul neneknya! Bima, kamu benar-benar salah mencari lawan! "

Aulia mengatakan itu, sambil tersenyum miring. Sebuah rencana telah keluar dari otaknya. "Mari, hancur bersama. Kehilangan bersama. "

T. B. C

Mysha(21+) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang