Hello, KKN! | [36. Sosok Penutup Pintu]

211K 14.9K 6.7K
                                        

Haiii 🌼

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Haiii 🌼

Udah penasaran kannn. Wkwkwk. Yang membuat kita bertanya-tanya sejak kemarin. Siapa yang nutup pintu dapur malam ituuu?

Selamat membaca yaws. Mau spam emot apa dulu sebelum baca?

Jangan lupa vote-nyaaa. Komennyaaa.  Apinya banyakiiinnn🔥🔥🔥🔥

***




Teriakan itu membuat Kama segera bergerak menutup mulut adik laki-lakinya itu dengan telapak tangan. Usaha yang sia-sia karena suara lantang Kale sudah lebih dulu terdengar sebelumnya. Kama menoleh ke arah posko yang hanya diisi oleh Sakala dan Gesang yang tampak tidak peduli, di depan rumah Mak Wasih ada Jenggala dan para anggota perempuan yang masih sibuk dengan hasil rekaman beberapa video.

Yang menghampiri keduanya dan tampak penasaran kini hanya Yesa—dan Neng Marisa yang berjalan di belakangnya. "Ada apaan, Le?" tanya Yesa.

Kama menatap Kale penuh peringatan, dan Kale tentu saja menangkap isyarat itu. Dia tahu bahwa ini akan menjadi masalah besar bagi hubungan Yesa dan Kale. Yesa adalah orang yang mendukung hubungan Kama dan Gege, tapi di sisi lain dia juga tidak menginginkan Gege membuat segalanya menjadi terlalu mulus.

Namun, Yesa gagal. Gege yang terlalu mudah luluh membuat Yesa menyerah. Dia menyerah pada usahanya untuk membuat Kama berjuang lebih banyak. Dia juga menyerah atas Land Cruiser yang dijanjikan untuknya agar bisa menjaga Gege.

Jadi, Kale menggeleng kecil setelah mendorong tangan Kama dari mulutnya. "Ini ... di mobil ... ada baret, Yes ...." Kale berdeham. "Wah, marah banget gue sih," ujarnya sambil berbalik, kembali memperhatikan keadaan mobilnya.

"Gue pikir apaan, heboh bener," ujar Yesa. "Ya udah gue jalan dulu." Yesa melangkah menjauh, diikuti oleh Neng Marisa yang sejak meminta Yesa untuk mengantarnya pulang. Usaha gadis itu membuat Yesa benar-benar menyerah.

Kale melambaikan tangan pada gadis berkerudung itu. "Dah, Neng .... Lain kali semoga kita ketemu lagi ya .... Aku siap jadi groomsmen lho ...."

Mendengar kalimat itu, Neng Marisa mengantak-entak kaki. "Iiih, A Kale mah. Nanti atuh itu mah masih lamaaa."

Sementara Yesa yang tampak sudah kelihatan gerah itu, tidak menanggapi, tetap berjalan sementara Neng Marisa mencubit-cubit lengan kausnya sambil terus berbicara dan berjalan di sisinya.

Setelah dua manusia itu menjauh, Kale kembali menatap Kama. Wajahnya berubah serius. Kini dia merogoh saku celana, meraih ponselnya. "Pokoknya, Mia sama Pia harus tahu tentang kelakuan lo ini," ujar Kale.

Kama mencoba merebut ponsel itu, tapi tangan Kale menghindar berkali-kali, sehingga dia berhasil. Menghubungi orangtuanya. Beruntung, yang pertama kali dihubungi adalah Pia.

Hello, KKN!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang