#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼
Terima kasih komen dan vote-nya di part kemarin. Keren banget!Masih semangat kannn ngikutin kisah anak-anak KKN ini? 🙌🏻
Jangan lupaaa voteee sama komen yang ramai yaaa. Ini 5000 kata. Mana nulisnya sambil sakit gigi akutu. Kalau nggak rame aku nangis banget sih ini😭🫵🏻
Bisa kasih api yang banyak dulu nggakkkk 🔥🔥🔥🔥🔥
***
"Lo tunangan gue, sejak awal lo tunangan gue!" Kama mengumpat kencang, tangannya menarik tubuh Gege hingga Gege terkesiap karena tubuhnya baru saja beradu dengan dadanya yang keras. "Apanya yang nggak jelas?!"
Keduanya tidak memedulikan belasan pasang mata yang kini menyimak dan menonton adegan bodoh itu. Akal sehat sudah ditelan oleh amarah. Dua tatap yang bertemu itu membakar satu sama lain. "Sejak awal?" tanya Gege. "Sejak awal yang mana?" tanyanya lagi. "Karena sejak awal, cuma gue yang berjuang sendirian di saat lo terus menyangkal."
"Lo bahas lagi semua hal yang udah lama berlalu?" Pandangan Kama bergerak-gerak, menatap kedua mata Gege bergantian. "Apa yang terjadi sama lo sebenarnya?"
Gege menarik napas perlahan, mencoba tenang saat tatap Kama seolah-olah menyekapnya untuk tidak berani bicara macam-macam. "Seperti yang lo alami dulu ... gue ragu. Dengan hubungan ini."
Tentang rekaman suara yang didengarnya, Gege tahu betul bahwa itu sudah lama berlalu jauh sebelum hubungan keduanya menjadi baik-baik saja. Namun, dia temukan sendiri titik muak dan sakit itu. Ini bukan semata-mata respons marah atas rekaman suara yang dia dapatkan, tapi bentuk akumulasi dari setiap emosi yang dia rasakan selama hidupnya yang menyangkut banyak hal tentang Kama.
Sudah lama sekali dia ingin berkata, "Seperti yang gue bilang tadi, lo ahlinya dalam mengecilkan segala hal. Termasuk gue," ujarnya. "Lo datang dan pergi semau lo, dan sekarang ... dengan bermodalkan sadar atas perasaan yang bahkan ... lo nggak perlu effort banyak ngelakuinnya, lo bisa mendapatkan gue balik setelah meminta maaf?"
Itu semua adalah kalimat yang terus dia dengar bolak-balik dari Yesa, yang sebelumnya tidak pernah dia dengarkan, yang selalu berhasil membuatnya menutup telinga. Namun kini, dia mengatakannya untuk menyerang Kama.
"Kita ngobrol berdua—" Kama bergerak menarik tangan Gege, tapi Gege bergeming.
"Lo pikir gue akan terus bisa menerima lo dengan tangan terbuka?" Suara Gege melemah. Dia takut sekali tidak berhasil menahan tangisnya. "Lo pikir gue nggak punya titik lelah menghadapi lo?" Dia benci sekali karena mendengar suaranya sendiri yang bergetar.
Terdiam.
Kama hanya menatapnya. Tampak tidak menyangka kalimat-kalimat itu akan dia dengar dari mulut Gege.