#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii.🌼
Mana yang nungguin niiih???
Ini 5000 kata lebih. Apakah aku kesurupan?😔 Kalau nggak rame, nanti aku ngambek banget banget pokoknya 😔😔😔 Jadi beneran harus dibakar vote dan komennya ini maaah.
Selamat membacaaa. Jangan lupa dibakarrrr 🔥🔥🔥
***
"Maaf, kita minta maaf banget."
"Kita nggak tahu tentang masalah ini jadinya terkesan nggak empati."
"Sumpah niat kita kemarin cuma ngajak kalian bercanda. Kita nggak tahu kalau ini jatuhnya bakal nyakitin."
"Ini nggak dimaafin? Tetap mau pada pergi aja?"
"Udah dong, jangan marah. Jangan pergi. Ya?"
"Udah malam. Mau pada ke mana?"
Setelahnya, kata 'maaf' yang awalnya saling bersahut-sahutan itu terhenti. Karena, mungkin para lelaki itu sadar bahwa saat ini, sekeras apa pun mereka meminta maaf, keenam perempuan yang kini tengah marah itu tidak akan bisa dengan mudah memaafkan.
"Serius kalian mau ninggalin kita?" tanya Javindra.
"Iya. Lo kan bisa ngelakuin semua sendiri," sahut Keiya.
Kini kesembilan laki-laki itu hanya mampu menyaksikan enam perempuan yang tengah berkemas di kamarnya. Selain membawa bantal dan guling, mereka juga membawa selimut-selimut mereka untuk ikut pergi. "Lo semua punya hak buat marah kok malam ini," ujar Kama. Masih sambil memandangi bagaimana keenam perempuan itu bergerak satu per satu keluar dari kamar sambil kerepotan membawa barang di kedua tangannya. "Tapi janji, cuma pindah tidur di Mak Wasih. Nggak ada yang pergi ke mana pun. Ini udah malam."
Tidak ada yang menyahut, mereka berjalan beriringan melewati para laki-laki yang kini mengiringi langkah mereka keluar. "Kalah mau ke rumah Mak Wasih, buka dulu nggak sih, sheet mask-nya?" ujar Rajata. "Yang ada Mak Wasih kaget." Hal itu membuat beberapa wanita sadar dan melepaskan benda yang menempel di wajah mereka.
Gege menjadi yang berjalan paling belakang, bersama Sabine yang memeluk bantal bunganya. Lalu, sebelum menyusul teman-temannya untuk turun dari beranda dan mengenakan sandal, saat masih berdiri di lantai kayu beranda, tubuh Gege berbalik menatap semua teman laki-lakinya. "Ingat ya, gue bakal marah banget kalau sampai kalian bertindak gegabah dan mengorbankan semua yang udah kita kerjain ini."
"Iya," sahut Yesa. Dia berjalan menghampiri Gege yang kini sudah menyusul Sabine turun dari beranda, hal itu membuat Yesa bisa memegangi puncak kepalanya karena kini posisinya lebih tinggi. "Lo nggak niat hapus lipstick merah di bibir lo dulu, Ge?" tanyanya. "Nanti dikira mau saingan sama Sindy."