#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼
Temu juga kita di part ini. Di mana mereka udah balik ke duniaaa nyata wkwk. Semoga setelah ini mereka bisa banyak kumpul barengnya ya! Pokoknya sesuai vote komen lahhh. Bakal digas kalau vote dan komennya gacorrr 😋🔥
Sebelum bacaaa, mau spam emot apaa?😆
Selamat datang di Jakartaaa. Jangan lupa kasih yang banyak apinyaaa 🔥🔥🔥🔥🔥
***
"Abangkuuu!" Suara teriakan Kale terdengar seiring dengan petasan konferi yang baru saja meledak saat Kama baru saja membuka pintu rumah. "Welcome back home!"
Saat tiba di Jakarta siang tadi, Kama meninggalkan barang-barang bawaan KKN-nya di apartemen begitu saja. Setelahnya, dia tidur seharian. Lalu, Mia menelepon menyuruhnya untuk makan malam di rumah. Jadi saat Kale menyambutnya dengan antusias dan tertawa-tawa sambil memeluknya di ambang pintu, Kama hanya berdiri dengan wajah terkantuk-kantuk.
"Mana Mia?" tanya Kama, tanpa sedikit pun merespons kehebohan yang Kale tunjukkan untuk menyambut kedatangannya.
"Harga konfetinya dua ratus ribu, lho?"
Kening Kama mengernyit. Ya terus kenapa?
Kama tidak merespons kekecewaan adiknya pada Kama yang tidak mengucapkan terima kasih atas tingkahnya yang membuat rambut-rambut Kama diselipi oleh potongan kertas warna-warni. Kama melangkah masuk ke kediaman orangtuanya itu. "Mi ...?"
Panggilannya menghasilkan sahutan. "Haiii, ya ampun. Udah datang anak, Mia—Piii, Kama udah datang, Piii!" Mia berjalan dengan terburu dari arah ruang tengah sambil merentangkan kedua tangannya. Setibanya di depan Kama, dia bergerak memeluk. "Ya ampun, Mia kangen banget, deh!" Wajahnya merengut sebelum kembali memeluk Kama.
Dan setelah pelukan terlepas, Mia baru menyadari ada banyak sesuatu terselip di rambut anak sulungnya. "Ini apaan sih, Ka?"
Kama hanya menoleh ke belakang, menunjuk pintu masuk tempat Kale berdiri di sana sambil memberikan cengiran karena sadar petasan konfetinya berhasil membuat lantai tampak berantakan.
Mia menghela napas. "Sebelum makan malam, itu harus udah bersih ya, Le!"
"Lha?" Kale melepaskan tawa sinis yang nyaring. "Ini tuh kejutan untuk menyambut kedatangan Kama lhooo? Kenapa malah dapet respons tidak diinginkan beginiii?" protesnya. Lalu, "Mbak Sriii!" Kale berteriak.
"Nggak ada pertolongan Mbak Sri!" ujar Mia, berjalan sambil mengamit lengan Kama. "Mbak Sri sibuk! Kamu beresin sendiri!"
Malam itu, mereka berkumpul di meja makan. Pia, Mia, Kama, dan Kale—yang masih bersungut-sungut. Mia menyediakan menu makan malam kesukaan Kama. Akhirnya, untuk hari ini kedatangan Kama cukup diharapkan. Selama makan malam berlangsung, kedua orangtuanya bertanya tentang pengalaman selama di tempat KKN juga progres perkuliahannya, dan Kama menjawabnya dengan antusias.