#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼
Udah pada kangen ajaaa nih kayaknya yaaakkk. Ga bisa ditinggal lama-lama apa-apaaa? 😆
Seneng banget karena vote komennya konsisten ramaiii. 😆Kalau gini kan jadi makin semangat updatenyaaaa. Part ini ramein lagi janji ya! 4700 kata KAKAKKK🙌🏻
"Lukanya sudah membaik. Hanya saja tetap bersihkan luka lalu keringkan. Setelahnya tutup dengan perban baru. Hindari juga aktivitas yang membuat luka basah agar tidak mudah terkena infeksi. Jadi, kalau dirasa lukanya masih terasa lembab, sebaiknya jangan terkena air dulu."
Ucapan dokter pria dari klinik kantor yang kini memeriksa keadaan Kama, membuat Kama melirik ke Kale yang tengah duduk di sofa. Dia lihat adik laki-lakinya itu pura-pura fokus sambil mengulum senyum. Sepertinya, dia juga tengah mati-matian menahan diri untuk tidak melepaskan celetukan kurang ajarnya.
"Untuk pekerjaan berat, sebaiknya ditunda dulu sampai luka sembuh sempurna, sekitar satu minggu lagi."
Namun, seperti yang pernah Kale katakan bahwa dia tidak bisa menyimpan isi pikirannya sendirian, dia bertanya, "Kalau benerin keran bocor sampai basah-basahan berarti belum boleh juga ya, Dok?"
Dokter pria itu mengernyit. "Wah, diusahakan jangan dulu, Pak. Lebih baik panggil teknisi."
Setelahnya, Kama hanya menatap Kale dengan wajah muak. Keduanya keluar dari ruangan itu setelah luka Kama selesai diperiksa. Kama tidak ingin mendengar lagi masalah luka dan keran yang bocor, tapi Kale tetap membahasnya.
"Tuh, kan, Ka .... Jangan benerin keran bocor dulu. Ngide banget lagian lo. Yang rusak keran, yang di-service malah Kak Gege."
Di lorong rumah sakit itu, Kama berhenti melangkah. Dia menatap adiknya dengan wajah benar-benar muak. Di sela waktu kerjanya sore ini, seharusnya Kama tidak lagi melihat Kale di lingkungan kantornya di Bangkinang. Namun, jadwal penerbangan Kale ke Jakarta diundur hingga malam hsri sehingga dia sempat mengantar Kama kontrol ke dokter di kawasan proyek sebelum benar-benar pergi ke bandara.
Mereka kembali berjalan. Kama di depan, sedangkan langkah Kale sengaja melambat di belakang. "Siap-siap terima invoice dari gue ya, Ka." Kale berjalan mendahului Kama, di koridor itu dia melangkah mundur sambil terus bicara.
"Merasa berjasa banget lo?" tanya Kama. Adik laki-lakinya itu memang sudah menyelamatkannya dengan menutup rapat bibirnya tentang kejadian di kamar mandi yang dilihatnya semalam. [Additional Part 61] Namun, Kama tidak terima sekali Kale selalu punya celah untuk memanfaatkannya.