#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii. 🌼
Kangen nggaaakkk???
Kemarin aku bikin Additional Part 30 di Karyakarsaaa. Udah pada baca? 😋
Maafkan kek lama bener yakkk update-nyaaa. Dari kemarin nggak enak badan, tapi sekarang udah baikan alhamdulillah. Semoga ke depannya kita semua bisa lebih jaga pola hidup biar lebih sehat yaaa aamiin ❤️🌼
Ini kuedit Alus aja karena pengen cepet tidur. Jadi mohon dimaklumi kalau ada typo alias banyak, dan kalimat-kalimat yang agak ga enak dibacaaa. Semoga masih bisa dinikmati yaaawwwsss. 🌼
Kasih api yang banyak dong biar aku punya banyak tenaga lagi buat updateee wkwk 🔥🔥🔥🔥
***
Hari Minggu sore, Kama tiba di Jakarta.
Orang pertama yang dia temui saat kakinya kembali menjejak kota sibuk itu adalah seorang gadis yang tengah berada di rumahnya, di balik segala hiruk-pikuk tugas kuliahnya, yang menyambut Kama dengan wajah tidak ramahnya di depan pintu.
Ekspresinya berubah menjadi sangat kecewa saat Kama tidak menerima ajakannya untuk masuk ke dalam rumah. Dia juga menghela napas saat Kama berkata, "Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu."
Seperti mampu menangkap suatu kabar tidak baik pada hubungan keduanya—yang memang sudah berubah menjadi buruk sejak dua minggu Kama berada di Welasasih, gadis itu tidak banyak bicara saat Kama mengajaknya untuk ke luar. Laika juga tidak bertanya tentang luka dan lebam yang tersisa di wajah Kama. Menyimpan seluruh tanyanya, memendam semua kata yang tampak ingin dia ledakkan.
Mereka berjalan bersisian, tanpa sepatah kata, seperti notifikasi-notifikasi di ponsel keduanya yang akhir-akhir ini begitu sunyi oleh kabar. Menuju sebuah kafe di depan gerbang komple., Kama butuh satu tempat yang tidak terlampau jauh dari rumah gadis itu karena dia datang tanpa kendaraan dengan satu ransel besar yang penuh oleh pakaian kotor.
Mereka tiba di satu tempat yang layak dijadikan tempat bicara. Di satu balkon rumah klasik yang diubah sedemikian rupa menjadi kafe bergaya vintage dengan lahan terbuka yang tidak terlalu luas.
Di sana, ada udara Jakarta yang hangat saat waktu bergerak semakin sore. Kama tidak membutuhkan jaket atau pakaian tebal untuk menghalau angin yang menerpanya sekarang sebagaimana dia menghadapi sore di Welasasih. Ada dua minuman dingin dan hidangan manis di hadapan keduanya, tapi tidak ada yang tertarik untuk mulai mencicipi. Keduanya saling tatap, saling membaca lewat mata karena belum ada yang bicara.
"Sia-sia aku mempertahankan hubungan kita selama ini kalau akan seperti ini ujungnya," ujar Laika seolah-olah, akhirnya dia bisa membaca apa yang akan Kama ungkapkan padanya. "Kamu akan kembali pada masa di mana kamu didoktrin bahwa Gege satu-satunya perempuan yang hidup di dunia ini untuk bersama kamu?" tanya Laika.