#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼 Selamat malam mingguan bareng anak-anak KKN Welasasihhh 😋
Kasih satu emot yang mewakili perasaan kamu saat ini dong?
Udah mendekati akhir KKN itu artinya udah dekat juga kita ke cerita masa depan yang darderdor lagi. 😆 Masih semangat kan iniii?
Ini 4800 kata. 😆 Komen sama vote-nya bisa diramein kan yaaaa???? Kasih api dolooo manaaa deeeehhh iniii. Yang banyaaak. 🔥🔥🔥🔥🔥
***
Pagi kembali hadir di Welasasih. Sisa-sisa air hujan yang membuat basah pekarangan, suara air sungai, kicau burung-burung kecil yang hinggap di dahan pohon ceremai, suara usap sapu lidi Gege yang bergerak di halaman, dan derit-derit lantai kayu di posko yang mulai bising menandakan aktivitas penghuninya sudah dimulai. Entah untuk menyiapkan sarapan di dapur, bersiap mandi, mencuci pakaian atau sepatu, rebutan lahan jemuran, atau juga aksi beberes Cleona yang membara saat melihat puntung rokok berantakan.
Pagi di posko, selalu ramai.
Gege mengeratkan cardigan rajut di tubuhnya saat kembali menggerakkan sapu lidi di bawah pohon ceremai. Akhir-akhir ini, bukan hanya udara Welasasih yang dingin, tapi juga suasananya. Kegiatan KKN tetap berjalan seperti yang semestinya, tapi suasananya menjadi jauh berbeda. Masalah-masalah bermunculan, musuh-musuh kedamaian hadir satu per satu, seolah-olah memberi tahu bahwa sebentar lagi semua penghuni posko u harus kembali sibuk menyambut kehidupan yang 'sebenarnya' di luar sana.
"Bersih-bersih, Teh Gege?" Suara sapaan yang nyaring dari jalan yang berada di seberang sungai membuat Gege tersadar bahwa dia melalui beberapa detik sebelumnya dengan melamun.
Wajah Gege mendongak, balas menyapa dengan senyum seorang ibu-ibu bertopi caping yang melintas. "Iya, Bu. Mau ke sawah, ya?"
"Iya. Punten nya, Teh. Ngiring ngalangkung." [Iya. Permisi ya, Teh. Ikut lewat.]
"Iya, Bu. Mangga." [Silakan] Gege mengangguk sopan, membiarkan ibu-ibu itu berlalu. Setelahnya, dia meraih pengki untuk memindahkan sampah daun-daun kering yang tadi terkumpul ke dalam trash bag.
Saat Gege berjongkok untuk membenarkan posisi trash bag, kebisingan di beranda mulai terdengar.
Gesang yang kemarin mengeluh sakit, kini duduk meringkuk di atas kursi kayu di beranda posko. Dia mengaduh beberapa kali. Di belakangnya, Rajata berjalan, tampak sudah siap untuk pergi.
Ada Javindra yang menyusul keluar. "Serius, masih sakit, Ges?" tanyanya.