#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼 Sampaijugaaa kita di part terakhir. 🥲 Terima kasih banyak karena sudah menemanu kisah anak-anak riweuh ini dari awal KKN sampai udah jadi pria dan wanita matang. Mereka pasti bangga banget nih kalau tahu banyak yang sukaaa. Semoga kisah selanjutnya tetap ditungguiiin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah ini, kita akan bertemu beberapa extra part yang manissss yang isinya nyeritain marriage life Kama-Gegeee. Follow IG :citra.novy buat request atau kasih ide yang nanti harus diceritain after marriage mereka harus ngapain ajaaa!
Habis ini, kita ketemu sama cerita siapa ya? Pasti udah pada bisa nebak sih 😋
Selamat membaca yaaa. Sekali lagiii kasi apinyaaa doooong yang banyaaak. 😆🔥🔥🔥🔥🔥
***
"Miii, Pia dari tadi nyari blangkonnya, Mi! Hilang!" Suara Kale adalah satu suara di antara suara sibuk lainnya di ruangan itu.
Mia dengan kebaya dan kain batiknya, tentu saja mengomel. "Tanya dong sama Pia, tadi terakhir ditaruh di mana?"
"KETEMUUU, MI, NGGAK JADIII."
"IHHH! NGERJAIN ORANG AJA!"
Mereka, lebih sibuk daripada Kama, Calon Pengantin, yang kini tengah berganti dengan jas putih untuk dia kenakan di acara akad pernikahan yang waktunya tinggal tiga puluh menit lagi.
"Mia nggak rame banget kan ini, Le, make-up-nya?" tanya Mia sambil mendekat ke arah Kama.
"Nggak, Mi. Paling nanti ketuker sama Biduan Dangdut aja."
"IIIH!"
Kama memutuskan untuk duduk, membelakangi keributan. Menatap cermin dengan lampu rias yang menyorot wajahnya. Yang pagi ini lebih tenang dari hatinya sendiri. Dia sembunyikan gugupnya yang ribut.
Apalagi, di dalam ruangan itu, tidak ada satu pun suasana yang menenangkan. Dari arah pintu, sepupu-sepupunya bergerak masuk dengan gegap gempita bersama para Tante. Mengomentari ini dan itu sebelum kembali bergerak keluar.