#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼
Akhirnya bisa update lagi sebelum lebaraaannn. Jadi bisa ngucapin "Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin ya. Mohon dimaafkan apabila selama ini ada kata-kata yang menyinggung selama aku menulis. Hehe. 🙏🏻"
Jangan lupaaa voteee sama komen yang ramai yaaa. Biar aku semangat update-nya dan nggak lama-lama ngambil libur lebarannya wkwkwk.
4500 kata nih. Mau spam emot apaaa 😡🫶🏻
Kasi api dulu gasiiii. Bakaaar 🔥🔥🔥🔥🔥
***
Selama satu jam duduk bersama Axel di beranda, Gege tahu bahwa dari kejauhan ada sepasang mata yang terus tertuju ke arahnya. Sehingga, Gege tidak bisa terlalu ekspresif saat mendengarkan penjelasan Axel terkait rencana kegiatan sosial yang akan mereka lakukan.
Sebenarnya, bisa saja Gege tidak terlalu memikirkan Kama yang terus membidikkan tatap tajam padanya. Namun, di antara warga yang baru saja melepaskan lelah dan duduk-duduk di halaman, Gege tidak mungkin dengan sengaja menyulut amarah Kama sehingga perdebatan—atau bahkan pertengkaran—mereka nanti tidak hanya disaksikan oleh anggota posko, tapi oleh seluruh warga dan karangtaruna yang hadir di sana.
Padahal, di beranda itu tidak hanya Gege yang menyimak penjelasan Axel, ada keempat anggota perempuan lainnya, juga Zale, Rajata, dan Jenggala yang nanti akan ikut membantu. Jadi, seharusnya Kama tidak perlu mengkhawatirkan tentang apa pun. Jadi, seharusnya Kama tidak perlu menatap Gege penuh tuduhan.
"Keiya bakal ikut juga nanti, jadi totalnya akan ada sembilan orang yang ikut bantu," ujar Gege.
Axel mengangguk, tatapnya tertuju pada Gege disertai senyum. "Makasih ya." Pemandangan seperti itu pasti amat-sangat dibenci oleh Kama.
Mereka akan melakukan pertemuan dengan pihak poliklinik sebelum acara dilaksanakan, berdiskusi tentang teknis acara dan segala tugas yang akan mereka lakukan. Jadi, diskusi di beranda diakhiri. Namun Axel masih bertahan untuj duduk di sana, tentu saja bersama Gege yang masih menemaninya sementara yang lainnya sudah mengambil langkah untuk pergi.
Axel adalah tamunya. Jadi seharusnya Kama bisa mengerti itu.
Kan?
"Mira ada menghubungi kamu lagi?" tanya Axel. Dia menyebut nama gadis SMA yang pernah Gege ajak bicara di klinik waktu lalu.
Gege menggeleng. "Dia nggak pernah menghubungi aku duluan, tapi aku sempat tanya kabarnya .... Dan dia bilang, kabarnya baik—walau aku nggak bisa percaya sepenuhnya."
Axel mengangguk kecil. "Syukurlah kalau kamu masih menjalin komunikasi sama dia. Terima kasih karena sudah ... ikut memastikan kabarnya."
Beberapa orang yang pernah sengaja datang pada Gege untuk bicara, biasanya akan Gege beri pesan, entah untuk sengaja mengajaknya bicara atau hanya bertanya tentang kabar, tidak sering, itu hanya usaha kecilnya untuk membuat orang-orang itu percaya bahwa masih ada orang yang peduli pada mereka di antara semua masalahnya.