#KKNSeries1
"Pertunangan kita ini harus dirahasiakan!"
Begitu kesepakatan Kama dan Gege sebelum keduanya melakukan kegiatan KKN 111 Desa Welasasih. Hubungan pertunangan yang hanya diinginkan oleh dua pasang orangtua sementara Kama dan Gege menyatak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haiii 🌼 Akhirnya kita tiba di acara perpisahan KKN ini huhu.
Ada tokoh di Welasasih yang paling ngena dan bikin kalian juga berat buat ninggalinnya?
4800 kata lebih ini mau dikasih emot apa dulu? 😡🫶🏻
Di bawah ada bagian dag dig dug yang mesti kalian tahan rasa penasarannya sampai part depan nih 😋
Jadi mulai dari atas boom ya vote dan komennyaaaa. Kasih api yang banyak dulu tapiii 🔥🔥🔥🔥🔥
***
Kelima belas anggota KKN itu, kini tengah berada di halaman posko, mengerumuni papan bunga yang baru saja mereka terima. Papan bunga itu adalah ucapan belasungkawa yang dikirimkan oleh Pak Jafran.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selain papan bunga, beliau juga mengirimkan selembar surat tulisan tangan berisi pesan singkat. 'Mohon terima ucapan belasungkawa dari saya. Walaupun saya terkalahkan oleh Sindy, tapi saya ikut bangga kalian sepeduli itu pada kucing desa hingga mengurus pemakamannya dengan baik.'
Sabine berdecak setelah membaca surat tersebut, "Enak aja kucing desa. Sindy kan calon kucing metropolitan, nggak tahu aja Bapak."
"Tapi nggak nyangka banget sih, Pak Jafran sampai segininya," ujar Gege sambil masih menatap papan bunga di hadaoannya.
Perlahan, mereka terurai dari papan bunga tersebut. Bergerak menjauh sambil sesekali menatap papan dengan bunga-bunga di sisinya itu. Siapa sangka Pak Jafran justru begitu peduli dengan duka mendalam yang menimpa posko KKN 111 alih-alih marah karena merasa diabaikan?
"Pergi sekarang nggak?" tanya Jenggala sembari mengalungkan tali kameranya.
"Bentar. Gue harus telepon Pak Jafran dulu untuk bilang makasih," ujar Kama sambil melangkah menjauh.
Sore itu, mereka sudah bersiap untuk pergi ke sawah milik Mak Wasih yang berada di belakang rumah. Sambil menunggu semua anggota laki-laki siap karena sebagian mereka baru selesai mandi, para perempuan menghentikan seorang pedagang es potong yang melewati posko dengan motornya.