TAHAP EDITING! PART MASIH BERANTAKAN!
Xing Xu seorang psikopat berusia 30 tahun yang menjadi buronon selama 12 tahun. Setelah pindah ke New York hidupnya berubah. Mulai dari lupa ingatan akibat salah minum obat demam hingga berakhir masuk ke tengah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DI TEMPAT LAIN Oliver menatap kamarnya dengan pandangan penuh prihatin. Baju-bajunya, seprai, parfum, gorden, hingga pernak-pernik yang dulu tertata rapi—semuanya hancur.
Tidak ada satu pun yang tersisa. Semua rusak. Semua dihancurkan.
Oliver baru saja tiba di mansion bersama Cleo setelah berbelanja. Awalnya, ia berniat menuju dapur untuk meminum segelas air sebelum masuk ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat bayangan seseorang keluar dari arah kamarnya, disusul suara Cleo yang memanggil namanya dengan panik.
Rasa penasaran berubah menjadi firasat buruk.
Oliver berlari menuju kamarnya.
Dan apa yang ia temukan membuat dadanya seolah diremas kuat.
Kamarnya porak-poranda. Pakaian-pakaiannya robek, seprai dan kasurnya dirusak hingga tak lagi layak pakai. Botol-botol parfum pecah, gorden tercabut, barang-barang pribadinya berserakan tanpa bentuk.
Dengan tega, Alekza dan Neil melakukannya.
Sebesar apa pun kesalahannya, tidak seharusnya ia diperlakukan seperti ini. Menghancurkan ruang paling pribadi miliknya—tempat satu-satunya ia bisa beristirahat dan merasa aman.
Lalu… bagaimana ia akan tidur tanpa seprai dan selimut?
Pertanyaan sederhana itu justru terasa paling menyakitkan.
Mengapa Alekza bisa setega ini?
Cleo yang berdiri di belakang Oliver masih tampak terpaku. Ini pertama kalinya ia menyaksikan kekejaman semacam ini secara langsung. Bagaimanapun, ini sudah keterlaluan. Walau Alekza dan Neil adalah putri dan putra sah keluarga Morgan, tetap saja—apakah pantas bersikap sejauh ini?
Cleo merasa hatinya perih.
Selama beberapa minggu terakhir, Oliver telah menahan diri. Ia bersabar, memilih diam, tidak membalas kejahilan keduanya. Itu saja sudah menunjukkan betapa baiknya Oliver. Namun melihat keadaan ini, Cleo tak bisa menahan rasa iba.
Apa yang akan Oliver lakukan? Apakah ia akan marah? Atau seperti biasa… meminta semuanya dilupakan?
Cleo ingin bertanya, namun lidahnya kelu. Ia hanya berdiri diam, menunggu Oliver yang lebih dulu bersuara.
Seperti biasanya, Oliver menghela napas panjang—napas yang selalu ia tarik setiap kali emosinya hendak meledak. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu berjongkok di samping tumpukan pakaian yang rusak.
Tangannya membongkar satu per satu, mencari kemungkinan masih ada yang bisa diselamatkan.
Tidak ada.
Tak satu pun pakaian yang masih layak pakai.
Oliver kembali menghela napas, kali ini lebih berat.