TAHAP EDITING!
Xing Xu seorang psikopat berusia 30 tahun yang menjadi buronon selama 12 tahun. Setelah pindah ke New York hidupnya berubah. Mulai dari lupa ingatan akibat salah minum obat demam hingga berakhir masuk ke tengah-tengah keluarga mister...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di meja makan, suasana terlihat sunyi tidak seperti biasanya yang penuh drama pertengkaran, kali ini alekza dan neil duduk patuh bersebelahan dengan oliver, tanpa mengeluh atau membuat kerusuhan. Kali ini berbeda dengan hari-hari sebelum nya, alex tidak dapat hadir untuk makan malam karena pekerjaannya, sedangkan alexa sedang berada di rumah keluarga untuk mengerjakan sesuatu. Menyisakan noah, Oliver, alekza dan neil saja.
Ruangan hanya di isi suara dentingan alat makan. Sampai makan malam berakhir dan noah pergi ke ruang kerjanya untuk bekerja. Menyisakan Oliver dan kedua saudara yang baru kemarin Menjahili nya. Kedua saudara itu memperhatikan nya. Oliver tahu apa yang direncanakan keduanya, namun Oliver tidak berniat menghindar. karena menurutnya, tidak ada untungnya dia menghindar, karena semua akan kembali sama. Oliver bahkan memperlambat makannya agar rencana alekza dan neil berjalan lancar.
Setengah makanan di piring miliknya masih tersisa. tenggorokan Oliver sudah terasa perih akibat bergesekan dengan serpihan glitter berwarna bening yang dia telan, karena ulah alekza dan neil yang mencampur kan nya di dalam makanan.
Disisi lain, alekza dan neil sedang tertawa puas didalam hati melihat Oliver yang kesakitan karena mereka memberikan serbuk kaca juga ke dalam makanan. Yang berhasil melukai tenggorokan Oliver. Oliver segera meraih segelas susu hangat kemudian meneguk nya hingga tandas kemudian mendesah, sebelum meletakkan alat makanannya ke samping piring.
Dia menatap kedua orang itu bergantian. Kemudian beranjak mengikuti cleo yang menuju kamarnya. Setelah kepergian nya, kedua saudara itu tertawa dengan sangat puas. Berbeda dengan Oliver yang memuntahkan semua makanan yang ditelannya ke wastafel, bukan hanya makanan namun darah juga tercampur kedalam makanan itu ketika Oliver memuntahkan nya. Setelah itu cleo memberikan air yang Oliver minta. Cleo sangat prihatin, bagaimana Oliver menelan makanan itu walau mulukai dirinya sendiri, dia sangat penyabar.
Setelah memuntahkan semuanya Oliver mengistirahatkan diri di balkon sambil menghirup udara segar. Matanya terasa perih karena harus memuntahkan isi perutnya dengan paksaan. Tubuhnya linglung dan tenggorokannya sakit sekali.
Di Sisi lain
Lelaki yang menjabat sebagai Jaksa seharusnya melakukan persidangan dengan baik tanpa melakukan kesalahan atau membuat keputusan yang tidak adil. Namun berbeda, kali ini semua yang louis lakukan semuanya dalam porsi yang berlebihan, dia bahkan membuat orang-orang yang berada di ruangan yang sama dengannya, merasa sesak nafas. Ini semua bermula ketika dia membuka laptop nya untuk menonton siaran di komputernya, awalnya siaran itu menampilkan hal yang baik, tapi ketika kejadian di kamar mandi, Louis tanpa sadar meremas kuat telapak tangannya hingga berdarah, dia seakan merasakan rasa sakit yang di rasakan, sosok yang beradi di layar komputer nya. Louis sangat marah, dia bahkan hampir meledakkan kepala kriminal di ruang kejaksaan, kalau saja crish tidak menghalangi niatnya.
Kemarahan Louis sangat kental, auranya lebih seperti pembunuh berdarah dingin dibandingkan jaksa yang anggung. Dia mengeluarkan aura pembantaian yang kental dan pekat, bukan hanya mengintimidasi orang yang berada di ruangan yang sama dengannya tetapi juga seluruh masyarakat yang menonton persidangan nya.
Louis meraih ponselnya, mencari kontak dengan username 'noah' di ponsel nya sebelum menekan ikon telfon untuk menyambungkan telfon. Di sebrang sana noah menyahut, masih dengan nada seperti biasanya, noah bersikap biasa saja seakan tidak tahu apa yang terjadi, itu semakin membuat Louis murka dan tanpa sadar mengatakan hal kejam.
"Akan ku bunuh kedua anakmu, itu! Noah." Nada terkesan ancaman yang tidak main-main terucap begitu jelas dari bibir Louis, seakan perkataan itu bisa terjadi dalam hitungan detik.
"A-apa maksdumu!!!" Noah terdengar panik dari balik ponsel. Dia bahkan memekik ketika Louis berkata akan melenyapkan kedua anaknya.
"Sebaiknya kau jangan membuatku meledakkan kepala mu juga noah, kedua manusia sialan itu. Berani sekali mereka membuat milikku lecet."
"Apa kalian sudah tidak butuh kepala untuk digunakan dengan baik?. "
"Aku sudah memperingati bahwa tidak ada lain kali. Itu bukan berarti kau bisa melakukannya di rumah mu. Kau jangan bodoh noah, aku adalah mata dirumah mu, jika aku ingin, aku bisa menjadikan kedua anakmu menjadi santapan harimau-marimau lapar ku"
"Berani sekali mulutmu yang kurangajar itu meminta ku menjelaskan."
"Apa kau tidak sayang nyawamu."
"Ahh maaf!. Saya minta maaf, saya akan mencari tahunya sendiri. Tolong tenangkan dirimu," Noah terdengar sangat ketakutan. Setelah tak mendapat jawaban dari Louis dia segera menghampiri kedua anaknya untuk bertanya, situasi apa yang terjadi sekarang.
Sedangkan Louis terlihat masih sangat kesal. Dia bahkan sampai tidak menyadari kedatangan helene di kamarnya.
"Sudah selesai?" Suara lembut helene menyapa telinga Louis, wanita itu segera mengambil tempat di sisi loius sambil memegang tangan Louis dengan penuh kasih sayang. Helene tersenyum membuat matanya mengecil dengan wajah berseri, indah.
"Ada apa?" Helene kembali bertanya. Menjeda ucapannya untuk mengusap rambut Louis, kemudian melanjutkan nya. "Apa ada masalah di kantor?, kau terlihat sangat marah lou,"
Helene mengerti alasan Louis marah, dia bahkan mendengarnya sejak tadi di pintu. Alasan dia bertanya agar Louis tidak merasa kesal lagi. Tapi seperti nya usahanya sia-sia. "Lou,,,"
Louis menoleh, menatap mata Helene yang hangat membuatnya teringat akan sesuatu dan segera menghentikan tatapan nya pada Helene. "Saya baik-baik saja," Louis bangkit kemudian berjalan pergi meninggalkan Helene yang masih duduk di ranjangnya.
Kamu tidak pandai berbohong Lou, aku adalah ibumu dan aku paham isi hatimu, putraku!.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.