TAHAP EDITING!
Xing Xu seorang psikopat berusia 30 tahun yang menjadi buronon selama 12 tahun. Setelah pindah ke New York hidupnya berubah. Mulai dari lupa ingatan akibat salah minum obat demam hingga berakhir masuk ke tengah-tengah keluarga mister...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Devan pergi ke ibu kota untuk berbisnis, dia bertemu dengan salah satu orang terkenal disana yang berasal dari keluarga kerajaan. Pria yang cukup terkenal dalam dunia bisnis, namun tempramennya sangat buruk, berbeda dengan saudara-saudaranya. Jericho foxy sapphire, pengusaha yang cukup berpengaruh di ibu kota di bidang furnitur. Alasan devan ingin bekerja sama dengan jer adalah—karena koleksi barang-barang jer yang sangat berkualitas, jer sangat pandai mendesain furnitur hingga menjadi terkenal di dunia furnitur. Termasuk sofa yang dimiliki perdana menteri jerman.
Diruanngan mewah milih jer, devan duduk dengan tenang sambil menunggu pemilik rumah datang. Karena ini hari Kamis, jer memiliki jadwal pertemuan dengan berbagai pengusaha, dan devan adalah pilihan terakhir yang dia temui.
Krek
Sekretaris jer datang membawa minuman. Teh melati hangat yang dia buat sesuai request dari devan. Jeffrey alkenze dari keluarga alkenze yang terkenal akan kesetiaannya pada keluarga sapphire. Termasuk jeff yang hanya setia pada tuannya, jika dia dibunuh dia tetap akan setia.
"Silahkan dinikmati," Jeff mempersilahkan setelah menyajikan teh beserta cemilan di atas meja tepat di depan devan. Setelah itu dia berdiri di pojok untuk menemani devan sampai jer datang.
Devan memperhatikan sejak Jeff datang. Ada yang tidak beres dengan Jeff ketika pria itu meletakkan teh diatas meja, tangan yang seharusnya kokoh terlihat bergetar. Apakah Jeff mendapati kekerasan fisik?, mungkin saja ia, di dengar dari rumor yang beredar bahwa putra kedua perdana menteri memiliki tempramen yang buruk, Jeff pasti mendapatkan siksaan fisik.
Setelah menyesap teh meleti yang hangat ditenggorokan dan wangi dipenciumannya, devan mencoba cemilan yang dibawa Jeff, cemilannya tidak terlalu manis, cocok untuk devan yang tidak terlalu suka hal yang terlalu berlebihan. Mereka menunggu hampir 30 menitan, sampai suara langkah kaki bergema di Koridor dan pintu ruangan dibuka dari luar.
Jer terlihat gagah dengan seragam kerjanya, tatapan mata nya yang menantang, tapi tidak mendomin karena devan adalah tipe orang dingin yang tidak pernah merasa terintimidasi oleh siapapun. Setelah jer masuk, Jeff berpamitan undur diri, namun jer terlihat tidak menyukai nya dan memerintah beberapa bawahannya untuk keluar, kecuali Jeff. Jeff dirusuh berdiri di depan pintu untuk menghalangi orang lain masuk kedalam ruangan.
Selama perbincangan keduanya Jeff sama sekali tidak bergerak dari posisinya, selama apapun devan dan jer berbicara bisnis, bahkan tubuhnya tetap tegap tak tergoyahkan. Devan masih memperhatikan dan merasa bahwa jeff sudah berada di batasan nya untuk berdiri. Itulah kenapa devan berani mengajukan hal ini...
"Boleh saya katakan sesuatu lagi?"
"......" Jer tidak menjawab dengan kata-kata namun anggukannya menjadi bukti bahwa dia menyetujui permintaan devan.
"Saya melihat sepertinya sekretaris mu kelelahan, apa boleh kau izinkan dia pergi?" Devan bukan tipe orang yang memohon atau meminta untuk orang lain. Jer kenal devan, mereka memang tidak dekat tapi koneksi mereka cukup luas untuk mendapatkan informasi pribadi satu sama lain. Melihat devan yang perduli pada bawahannya?, bisakah jer berfikir bahwa devan tertarik pada jeff?.
Tapi jer tidak menolak, dia memenuhi permintaan devan dengan menyuruh jeff keluar dari ruangan. Jeff awalnya enggan, namun perkataan jer itu seperti perintah dewa yang tidak bisa ditolak, itulah kenapa dia setuju untuk keluar dari sana.
"Kau kelihatannya cukup tertarik dengan bawahan ku" Jer berkata santai sambil menyesap teh miliknya.
Devan mempertajam pendengarannya. Dia juga menyadari perbuatannya barusan. Bukan karena dia suka pada Jeff, dia hanya merasa iba, mungkin. "Ya. Dia terlihat seperti pria yang baik," Jawaban devan melenceng dari otaknya. Namun kata-kata itu cukup membuat sudut bibir jer terangkat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.