53. jealous

3.4K 170 4
                                        

Oliver mengepalkan tangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Oliver mengepalkan tangannya. Ketika melihat violet, gadis yang baru di ketahui namanya oleh Oliver ketika mendengar Louis memanggilnya tadi. Dia kesal karena violet yang kini duduk di samping Louis, dan memberi Louis makan, saat Louis punya tangan sendiri untuk makan.

"Er, hari ini aku mau belanja pakaian, dapatkah kau menemaniku?" Violet berbicara dengan nada manja yang membuat Oliver jijik mendengarnya.

"Ya."

"Kamu akan ikut?" Violet bertanya untuk memastikannya lagi.

Louis mengangguk, "mari kita lakukan"

"Benarkah?, makasih, suamiku" Violet sengaja menekan kata suamiku untuk mengejek Oliver, dan itu berhasil. Oliver marah.

Sore hari

Oliver berdiri di halaman menatap tajam ke arah pagar pembatas yang menjulang tinggi dan kokoh, menunggu sampai sebuah mobil putih memasuki pekarangan mansion, yang dimana violet dan Louis yang menggunakan mobil itu. Violet keluar membawa banyak belanjaan hingga dibawakan oleh penjaga, sekaligus Louis yang berinisiatif membawa belanjaan itu.

Oliver menatap tajam ke arah kedua manusia itu. Seperti gunung yang akan melutus, darahnya naik ke kepala dan siap meledak.

"Aku kekamar dulu ya," Violet melambai kemudian pergi ke dalam mansion untuk istirahat, dan saat itu Oliver langsung menghentikan langkah Louis.

"Ada apa?" Louis bertanya dengan dingin.

"Kau, dan dia, kalian .... "

"Louis, bisa tolong aku sebentar!" Teriak violet dari dalam.

"Maaf, aku pergi" Louis beranjak namun lengan nya di cegat lebih dulu oleh Oliver. "Bisa bicara!" Nada marah itu terlihat tidak menyenangkan.

"Ya."

Keduanya pergi ke taman dan membicarakan hal penting. Lebih tepatnya Oliver yang pertanya, dengan marah-marah.

"Kau bilang, kau ingin menikahiku, lalu kenapa kau juga menikahi gadis itu"

"Ya, lalu?"

Jawaban Louis membuat emosi Oliver memuncak dan akhirnya memberhentikan percakapan mereka.

Dasar bodoh.

***

Saat ini Oliver sedang berniat menemui Louis di ruangan kerjanya. Dia bahkan telah bersiap mengajak Louis untuk makan malam. Ketika sampai dia langsung membuka pintu ruangan tanpa mengetuknya lebih dulu.

Mungkin jika Oliver mengetuknya, dia tak akan melihat adegan saat ini. Di depan matanya. Oliver tahu violet adalah istri Louis tapi kenapa mereka melakukannya di ruang kerja.

Louis melirik Oliver dengan skor matanya kenudian mendorong tubuh violet menjauh. "Oliver kamu berada di sini?"

Pertanyaan itu membuat Oliver terlihat seperti orang bodoh. Dia langsung pergi begitu saja. Oliver merasakan tak di butuhkan, violet memang istri Louis sekarang tapi kenapa Oliver sangat marah.

Oliver pergi kemarnya dan mengunci pintu itu sebelum membaringkan tubuhnya di kasur yang embuk. Dia menatap pelafon kamarnya dengan datar. Dia larut dalam kesedihan hingga tertidur dan mimpi buruk kembali menyerangnya, kali ini mimpi buruk itu membuat sesuatu dalam diri Oliver bangkit. Yang mana Oliver langsung mengambil pisau di kamar itu.

Dia berjalan ke lantai satu, dengan menggenggam pisaunya di tangan kanannya. Pergi ke keluar mansion  hingga berada di depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Ketika Oliver berniat menyentuhnya tiba-tiba tangannya tersengat listrik hebat dan itu berhasil membuat dirinya sadar.

Dengan ekpresi terkejut dia menatap pagar besi itu. "Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ini begini?"

***

Oliver kembali ke dalam mansion, meletakkan pisaunya di dapur, duduk di bawah lemari pendingin dengan memeluk tututnya. Entah kenapa Oliver tiba-tiba seperti ini, rasa aneh itu bahkan sudah berulang kali.

Pagar pembatas yang menjulang, gerbang tinggi berbahan besi yang tinggi dan ketika Oliver menyentuhnya dia tersengat listrik. Sebenarnya apa yang terjadi padanya kenapa begini?

"Aku akan tidur bersamamu malam ini" Ucap violet yang berhasil terdengar oleh Oliver.

Oliver yang terlanjur kesal langsung menghampiri violet dan Louis. "Kenapa kau terus menempel padanya!"

"Owh, kau Oliver, kenapa? Apa yang salah? Aku istrinya,"

"Lalu?"

"Ya, aku berhak tidur bersamanya,"

"Oh. Baiklah." Oliver berbalik menatap Louis. "Dengan ku atau dengan nya" Untuk pertama kalinya seumur hidup Oliver mengeluarkan  aura intimadasi nya yang berhasil menekan violet.

Melihat mata penuh kemarahan dan ketidak sukaaan Oliver. Louis tak tahan dan langsung menyeret Oliver ke kamar mereka berdua di lantai 2. Sampai di kamar Louis langsung menghempas Oliver kemudian mengunci pintu.

Dia melangkah mendekat lalu berkata. "Ada apa dengamu yang bersikap seperti tadi"

"Apa?"

"Kenapa kau lakukan"

"Kenapa kau marah?!" Balas Oliver tak kalah kesal. "Kau bilang kau menikahiku tapi kau hanya memihak padanya saja dan bukan padaku, kau bahkan berniat tidur bersamanya setelah kalian berciuman"

"Dia istriku."

"Owh... Istrimu? Jadi aku apa? Simpanan mu?" Kata Oliver "jadi hanya dia yang boleh seperti itu?, baiklah kalau begitu, aku pergi"

Oliver berniat membuka pintu dan pergi namun tiba-tiba saja Louis memutar tubuhnya kasar dan berkata dengan tekanan.

"Katakan jika kau tak ingin aku bersama nya?"

Oliver terdiam..

Kini giliran Louis dia melepas Oliver dan berniat pergi. Setelah memutar knop pintu, suara Oliver terdengar dan menghentikan langkah miliknya.

"JANGAN PERGI!"

"jangan pergi atau aku tak akan mau menatapmu lagi."

"Jangan dekat dengannya atau berhubungan dengannya, jangan menciumnya, jangan tidur bersamanya, jangan berkata lembut padanya, JANGAN LAGI DUDUK SEMEJA MAKAN DENGANNYA!"

"Itu tempatku. Aku tidak suka!" Oliver meluapkan semuanya dengan air mata yang keluar. Dia bahkan mengatakannya dengan sangat dramatis, oliver yakin Louis pasti akan meninggalkannya.

"Huh, kenapa kau begitu manis, sayang~" Ucap Louis yang langsung menyerang bibir Oliver. Menarik tengkuk pemuda itu dan mencium oliver dengan sangat agresif.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ENIGMA & ALPHA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang