17. demam

4.8K 212 0
                                        

suara itu berasal dari Reyzan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


suara itu berasal dari Reyzan. Pria itu terlihat meremas kepalanyan, kemudian menghala nafas frutasi.

"Ada apa Kakak?" tanya Melvin dengan dagu terangkat.

"Sudah cukup."

"Tidak, ini belum seberapa."

"Saya bilang cukup."

Melvin mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Reyzan yang penuh intimidasi. Ini pertama kalinya Reyzan mengintimidasi dirinya, selama ini Reyzan bahkan tidak pernah menatap matanya, tapi apa ini?

Reyzan? Menatap matanya demi menghentikan permainan nya.

Dengan kesal melvin meninggalkan aula, dengan mengepalkan tangannya erat-erat.

Sedangkan Kelvin hanya menatap tanpa bersuara. Setelah itu ia juga ikut meninggalkan aula. Reyzan pun ikut beranjak dan meninggalkan aula, di ikuti oleh para pelayan dan juga kepala pelayan. Meninggalkan Kane yang masih tergeletak di lantai dingin dengan posisi lemas, tak berdaya.

Kane kembali ke kamarnya dengan bantuan kayu ranting yang ia ambil dari hutan.

Kepalanya masih terasa sakit dengan tubuh penuh memar. Ia melewati bebatuan curam menuju tempat peristirahatan nya yang jauh dari mansion.

Dia melangkah dengan sangat hati-hati, takut salah pijak dan akhirnya terjatuh. Sempat beberapa kali berhenti ketika pusing melanda kepalanya. Duduk beristirahat sebentar kemudian melanjutkan perjalanan nya. Sesampainya di kandang kuda. Kane segera mengatur tempat tidurnya, tidak lupa membersihkan tubuhnya sebelum memutuskan untuk istirahat.

Suara guntur dan kilat terdengar sangat nyaring, suhu mulai menurun menjadi 13 °c , Kane mengeliat dalam selimut nya, gelisah, susah tidur karena suhu tubuhnya yang tinggi. Memar dan luka pada tubuh nya pun mulai infeksi, akibatnya dia menjadi demam.

Huhuhuhuhu

Dis terbangun dengan keringat yang Membanjiri pelipisnya. Seluruh tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

Kane sudah menyala kan arang dan duduk depan arang, namun rasa dinginnya tak kunjung mereda. Wajahnya sudah sangat pucat, memar-memar yang mulanya tidak terlihat, kini terlihat sangat jelas.

Rasa sakit ditubuh nya semakin terasa. Ia kembali mencoba untuk bangkit, berdiri menuju keluar kandang untuk mengambil ranting baru.

Namun ketika ia sampai, ia malah mendapati rantin yang telah basah. Kane yang tak bisa menopang tubuhnya lagi akhirnya terjatuh. Dengan posisi terduduk Kane menatap ke arah jendela kamar Reyzan yang telah padam.

Bukan tersenyum, kali ini Kane malah mengepalkan tangannya. Bukan marah atas apa yang dialaminya, tetapi marah karena dirinya begitu lemah. Jika saja ia tidak lemah, maka keluarganya tak akan menjadikannya pion untuk kedamaian.

Bahkan jika dirinya mati di istana Lawrence, keluarganya tak akan memperdulikan hal itu. Itulah nasibnya, menjadi anak buangan di rumahnya sendiri. Kemudian dijadikan jaminan perdamaian untuk keluarga, namun dirinya malah di perbudak di sini-di Lawrence.

Kane menyandarkan kepalanya ke dinding, menatap langit gelap yang mengeluarkan butiran hujan. Ia tersenyum, kemudian bangkit kembali. Namun tubuhnya tiba-tiba terhuyung kembali. Kane sudah siap menerima rasa sakit saat tubuhnya terjatuh kembali namun anehnya ia tak merasakan itu.

Seseorang memegang pingganya. Ketika Kane hendak menatap wajah orang itu, ia sudah terlebih dahulu kehilangan kesadarannya.

••••

Kane terbangun dari tidurnya, ia menatap jam dindin di kamar nya sambil menetralkan penglihatan nya. Ketika ia sadar akan sesuatu ia segera beranjak dari tidurnya, mengubah posisinya menjadi duduk.

Siapa yang membawaku ke dalam kamar?

Kane mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan mencari keberadaan sosok yang membawanya, namun dia sama sekali tak menemukan siapapun. Kane kembali di buat bingung, apakah kepala pelayan yang membawanya?.

Tapi bagaimana mungkin?

"Kau sudah sadar?"

Suara pria menyapa telinga Kane. Kane yang mendengar itu sontak berbalik, menatap sosok pria bertubuh tinggi di depan pintu kamarnya sambil menenteng sayuran.

"Istirahat lah, saya akan membuatkan bubur untuk mu."

Kane menatap pria itu dengan wajah penuh kebingungan. Bagaimana bisa pria itu berada di sini.

"Bagaimana kau bisa berada si sini?......." tanya Kane yang mulai ragu-ragu untuk melanjutkan kalimatnya, dengan menyebut nama pria itu.

Author mau double up lagi, tapi ga rame! Cobak rame gitu biar author semakin banyak buat capther nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Author mau double up lagi, tapi ga rame! Cobak rame gitu biar author semakin banyak buat capther nya.
Tapi gpp deh, okey lah.
Jangan lupa vote and komen! Wajib! Kalau ga mau jadi pembaca gelap, alis pembaca horor.

ENIGMA & ALPHA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang