' - apa? - '
• • • •
"KALO PAPI TAU GIMANA GIN?!"
"LU BODOH ATAU GIMANA SI?" Suara teriakan Key terdengar amat nyaring memenuhi satu ruangan. Key yang selalu tenang, raut wajahnya terlihat memerah menahan amarah yang menggebu.
Ruang tamu hening karna teriakan Key, padahal di ruang tamu itu terlihat ramai karna mereka berkumpul.
Tidak, ini bukan perkumpulan malam hari yang selalu di agendakan. Ini perkumpulan karna adanya masalah di keluarga Noir.
"GUE GATAU KEY! GUE UDAH BILANG GUE GATAU!" Bentak Gin. Mereka berdua, Gin dan Key beradu pandang dengan tatapan yang sepertinya mampu membunuh kedua nya bersamaan.
Kedua anak sulung yang mempunyai ego yang sangat keras berdebat tanpa ada yang berani melerainya.
"LU PENANGGUNG JAWAB MEREKA, gue udah ingetin lu buat pikir-pikir sebelum masukin orang kesini." Key meremat kedua pundak Gin, menyalurkan kemarahan nya.
"K - key .." lirih Gin.
Kekuatan Key bukan main-main, sudah dibilang kan, Key anak sulung Rion. Yang mana kelas beladiri nya sangat jauh diatas adik-adiknya yang lain, yang mana kemampuannya pun diatas adik-adiknya. Bahkan dibanding Gin yang sesama anak sulung pun perbedaan nya jauh.
"KAK KEY UDAH!" Tubuh Key tersingkir begitu saja.
"Aku udah bilang ini semua salah ku! Cukup, gausah nyalahin Gin." Echi membentak sang kakak begitu saja.
Wajah Key semakin terlihat memerah dengan amarah yang menggebu, membuat hawa disekelilingnya mulai menyesak. Key berdecak, langsung melenggang pergi keluar rumah begitu saja, meninggalkan para saudaranya yang lain.
"KEY." Teriak Elya, dan dengan cekatan Elya dan Jaki mengikuti langkah Key yang pergi begitu saja.
Hening kembali menyapa ruang tamu itu, sebelum akhirnya helaan nafas lelah keluar begitu saja dari Istmo. Ia memegangi kepalanya yang nyeri, sebagai orang yang paling tua disini, ia berkata.
"Sebenernya masalah kalian itu apa sih, kalian gamau ngomong, gimana kita bisa nyelesain nya bareng-bareng."
"Gaperlu diselesain bareng-bareng, ini cuma masalah gue sama papi!!" Entah Echi sengaja atau tidak, namun dirinya membentak Istmo persis saat dirinya membentak Key.
"BISA GAUSAH NGEBENTAK GA?!" Mereka semua menatap sang pemilik suara dengan terkejut. Sang bungsu, Mia memandang Echi dengan tatapan kecewa dan marah.
"KALO NGOMONG ITU BAIK-BAIK, ga inget yang lebih tua dari kak Echi siapa hah?!? Dua kali loh kak Echi ngebentak kayak begitu. DUA KALI TAU GA?!" Ucap Mia.
"Dek, jangan ikut campur dek." Mako memegang pundak Mia, berusaha menenangkan sang adik yang ikut tersulut emosi.
"KAK MAKO DIEM." Teriak Mia.
"Dia udah dua kali ngebentak orang yang lebih tua di keluarga, mau sampe kapan? Habis ini siapa yang dibentak, papi?!!?"
"EH OMONGAN LU DIJAGA YA, masih kecil belagu lu."
"EMANG KENAPA? MENURUT KAK ECHI KARNA AKU MASIH KECIL, AKU BISA TUTUP MATA NGELIAT KAK ECHI BENTAK-BENTAK KELUARGA KAYAK BEGITU HA?!"
"Bodoamat, urusin aja sana sendiri, gausah cerita biar sekalian dipenggal papi satu keluarga ini." Mia berlalu begitu saja, ikut pergi seperti Key. Daripada meladeni sang kakak, pasti tak ada ujung nya, sekalian saja ia meninggalkan rumah.
Mako ingin mengejar sang adik, namun ditahan oleh Funin yang menggeleng melarang.
"Aku aja gapapa." Setelah nya Funin berlari, mengikuti langkah Mia yang tergesa-gesa pergi dari rumah.
Funin paham, yang dibutuhkan Mia saat ini bukan omelan melainkan tempat untuk bercerita. Melihat Mako yang tersulut amarah pula, membuat Funin yang senantiasa atau jarang ikut campur harus melerai kedua bersaudara itu sebelum berakhir beradu timah panas.
Mako hanya menghela nafas, memperhatikan tangannya yang gemetar. Ia paham dirinya pun emosi, membuat ia tak kekeuh untuk mengejar Mia.
Echi bergerak duduk sembari memegang kepalanya, sebelum akhirnya ia berteriak frustasi.
"ANJING SEMUA ANJING." Umpat nya.
"Gue udah bilang jangan ada yang ikut campur, apalagi sampe ngurusin masalah gue sama Enon. Lu juga Gin, dibilang semuanya gue aja yang tanggung jawab." Ocehnya sembari menunjuk Gin yang masih terdiam dengan wajah dingin nya.
"Gabisa gitu dong Chi, lu mau dipenggal sendirian." Enon menerobos pembicaraan, menjawab ocehan Echi yang seharusnya ditunjukan oleh Gin.
"LU DIEM NON, GUE GA NGOMONG SAMA LU." Teriak nya.
Beberapa menit hening melanda, Echi tersadar baru sadar berteriak ke seseorang yang sudah sangat lama berada di hidupnya.
"Ga, maksud gue ga gitu Non." Ucapnya.
"Apaan ribut begini?" Pria yang sangat paling ditakuti di penjuru rumah, datang bersama Riji, Selia dan juga sang mami, Caine.
Semuanya hanya terdiam, menahan nafas mereka. Berusaha menetralkan detak jantung yang menggema, seakan paham bahaya berdatangan.
• • • •
Aku mau mengakui dosa ku ..
SEMUA CHAPTER MENUJU END NYA HILANH SEMUAAA KARNA AKU NGE RESTART HP 💔💔💔
Harusnya book ini end bulan Juni gais, tpi karna chapter nya hilang semua .. kasih aku waktu lagi yaa buat bikin ulangg 🤗🤗🤗
Terimakasih sayang-sayang ku sudah mampir, love you sm
KAMU SEDANG MEMBACA
Night Life Family
FanfictionKota dengan populasi dunia bawah terbanyak masih dipegang oleh Tokyovers. Dengan 6 fraksi unggul, yang namanya banyak disebut di kota. Menjadi desas-desus dan makanan sehari-hari bagi orang dalam kota maupun luar kota. Tokyo Noir Familia merupakan s...
