// - 42 - \\

1.3K 88 1
                                        

' - Mia Eleanor - '

• • • •

Kota A, negara ××××××, 2004.

"Non? Gapapa?"

Dengan keadaan tergeletak tak memiliki tenaga, aku hanya menatap nanar pintu gudang. Mulut kecilku berusaha menimbulkan suara, namun terasa sia-sia. Pada akhirnya aku terlalu lemah untuk menolong diriku sendiri.

Ketukan di pintu kayu itu semakin terdengar keras, suara yang memanggil nama ku juga semakin nyaring. Aku ingin membalas, namun nihil tak ada satupun suara yang berhasil keluar dari mulut kecil ku.

Yang bisa kulakukan hanya menatap nanar, dan berharap keajaiban.

Suara yang memanggil ku mulai menghilang, tergantikan hening yang kembali menyesakkan dada. Aku menghela nafas lelah, akhirnya memilih memejam mata ku daripada berharap kepada takdir yang jahat.

Memang apa yang bisa diharapkan dari manusia selain rasa sakit?

Apa yang bisa dibanggakan pada manusia?

Mengapa pula kita harus percaya kepada manusia yang terlalu naif demi diri mereka sendiri.

Pada akhirnya, semua manusia sama sa ー

"MIA KAMU GAPAPA NAK?!" Teriakan berat milik seorang pria menyapa kesadaran ku yang akan menghilang, memotong pemikiran-pemikiran buruk ku begitu saja. Dengan setitik kesadaran dalam diriku, aku tersenyum dengan sangat tipis, pertanda aku baik-baik saja.

• • • •

Ah tubuhku terasa kaku dan amat sakit. Kira-kira sudah berapa lama aku berbaring di ranjang yang empuk ini?

Eh tunggu? Berbaring di ranjang yang empuk? Sejak kapan?

Aku berusaha membuka mata ku dengan sekuat tenaga.

Saat mata ku akhirnya terbuka, hal pertama yang kulihat adalah genteng yang ada di langit-langit rumah. Aku mencoba melihat ke pinggir, dan menemukan anak lelaki berambut biru yang dilihat hanya berbeda beberapa tahun dariku, sedang tertidur memegang jariku

Aku mencoba menggerakkan jari ku, berusaha membangunkan anak ini. Beberapa kali aku mencoba, akhirnya anak lelaki itu bangun.

Ia mengucek matanya, sebelum akhirnya menatap mata ku yang terbuka. Matanya membola, dan mulutnya sedikit terbuka. Ia segera beranjak dari duduknya dan berteriak.

"PAPI." Ia berlari meninggalkanku, dengan teriakan nya yang sedikit membuat ku pusing.

Melihat aku yang ditinggal seorang diri ditempat asing, aku hanya bisa memegangi kepala ku yang berdenyut.

• • • •

"Ada yang masih sakit?"

Mia menggeleng dengan pelan, merasa tak enak hati berada disini. Yang mana membuat pria yang sedang duduk disebelah nya hanya tersenyum memaklumi.

Pria itu terlihat mengupas buah-buahan, menyisakan keheningan diruangan yang sempit.

"P ー paman, lagi-lagi menyelamatkan Mia ... " Gumam Mia.

Pria yang sedang mengupas buah, berhenti mengupas. Kemudian mendongak mengalihkan perhatian nya, pada anak kecil yang menunduk dengan memilin jari-jemari kecilnya.

"Bukan aku yang menyelamatkan mu, tapi kakak mu." Ujar nya.

Mia mendongak, menatap lamat kedua mata pria yang sedang tersenyum tipis. Kemudian ia kembali menunduk memandangi lengannya yang penuh goresan mengerikan.

"Bohong. Kakak hanya menolong ku tiga kali, tapi paman selalu datang setiap hari." Ucap Mia.

Pria itu memberikan ekspresi terkejut, kemudian tak lama ia terkekeh kecil. "Ketahuan ya?" Ujarnya dengan diiringi kekehan.

Suara yang indah, dan menenangkan. Mia mengulum bibirnya, bingung harus bereaksi seperti apa.

"Jika ingin melakukan balas dendam, lakukan lah. Tak perlu khawatir akan konsekuensi yang ada, paman bisa mengatasi semua yang kamu lakukan." Pria itu kembali mengupas buah-buahan, dan beberapa kali terlihat mencoba buah yang sudah ia kupas.

Mia terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab.

"Daripada membalas dendam. Bukankah lebih baik paman membawa ku pergi bersama paman?" Mia membuang muka, menatap keluar jendela dengan perasaan yang nanar.

Tak ada jawaban dari sang lawan bicara. Ternyata paman itu masih sedang berusaha menelan buah yang ia makan. Setelah selesai ia taruh buah itu di paha Mia yang tertutup selimut. Dan tangan kanan nya bergerak, mengelus lembut rambut putih panjang yang indah milik Mia.

"Aku orang yang bekerja serabutan, kamu tak akan bisa hidup enak dengan ku. Lagipula aku memiliki empat anak yang harus kuberi nafkah."

Mendengar apa yang di lontarkan pria itu, Mia semakin mengulum bibirnya. Entahlah, hatinya terasa nyeri. Ia semakin bingung, akan kemana arahnya kehidupan ini.

"Balaskan dendam mu nak .. kamu berhak melawan orang yang sudah melukaimu. Jika orang menyebut mu sakit jiwa padahal tidak. Lakukan lah, buat dirimu seperti sakit jiwa sungguhan."

"Aku akan membawamu pergi, setelah aku berhasil mendapat kekuatan untuk membahagiakan hidup mu. Sebelum itu, pergilah, lanjutkan hidupmu dengan dendam yang tak terlupakan. Dan jika semua sudah lebih baik, aku akan mendatangi mu."

Kedua mata Mia menatap lekat pria itu, kemudian ia bergumam dengan lirih sekali. "Paman ... "

"Pergilah membalas dendam, setelah selesai. Lari lah bersama kakak mu, dan cari panti asuhan bernama World di kota B. Saat ditanya siapa dirimu. Jawab dengan lantang dan berani, bahwa kamu putri Rion Kenzo, Mia Eleanor Kenzo."

• • • •

Night Life FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang