// - 49 - \\

464 40 5
                                        

' - Rion - '

• • • •

Dalam hatinya yang terluka, dan dalam egonya yang ada. Ia termenung memeluk kedua lututnya, memejamkan kedua matanya yang terasa berat.

Ia sudah cukup tua untuk mengadu, yang mana dirinya hanya dapat duduk termenung dibalik tembok yang menjadi awal dirinya bertemu sang sahabat dan memulai membangun keluarga ini.

Batin nya amat berkecamuk, menambah banyak beban berat pada pundaknya untuk dipikul. Tak hanya memikirkan cara bertahan hidup di dunia bawah, cara menafkahi keluarga nya. Sekarang dirinya harus memutar otak ekstra agar kepolisian tak membabat habis nyawa keluarga nya yang paling ia sayangi.

Ia membuka mata, menelisik sekelilingnya, lagi-lagi ia sendirian. Tak ada anak sulungnya, tak ada sahabatnya, tak ada anaknya yang terkecil. Ia sendirian, lagi.

Helaan nafas berat terdengar lagi dan lagi dari dirinya. Merogoh saku celananya, dan menatap ponsel nya yang mati.

Ia ingin segera bercerita kepada sang sahabat, tentang bagaimana berantakannya keluarga ini, tentang bagaimana letihnya ia memikirkan segala hal, dan tentang hatinya yang tergores atas segala umpatan yang anak-anaknya berikan.

Berulang kali ia terus membatin "Apakah dirinya benar?" - "Apa dirinya seorang ayah yang baik? Atau malah seorang ayah yang bajingan?"

Memang, pilihan mempunyai anak adalah pilihan paling berat bagi siapapun itu. Tak terlebih dirinya yang pada dasarnya kejam, seperti kata orang-orang. Ini memang pilihan sulit, yang mana tak banyak orang dapat bertanggung jawab atas pilihan mereka.

Setelah memiliki anak, akan banyak sekali ketakutan yang terjadi. Akan banyak pemikiran tak masuk akal dan menyakitkan tentang benar dan tidaknya diri kita.

Dan yang paling ia takutkan adalah, bagaimana jika anak-anaknya membenci dirinya persis seperti masalalu nya itu?

Pada akhirnya ia menggeleng, kemudian berdiri dari duduknya.

Menghindar diumur nya yang sudah renta adalah sifat paling pengecut yang selalu ia benci.

Perlahan-lahan, ia nyalakan lagi ponsel nya, menunggu beberapa menit dan mengaktifkan kembali data nya.

Banyak pesan masuk di ponsel nya, panggilan dari anak-anaknya pun bertumpuk amat banyak mencarinya.

Ia buka aplikasi perpesanan, banyak sekali chat yang mengkhawatirkan kemana perginya, dan permintaan maaf atas segala sikap mereka. Namun yang paling menarik perhatian adalah sebuah kontak paling atas, milik Sui.

Terdapat banyak spam chat, dan yang paling terakhir adalah bertuliskan ..

Terdapat banyak spam chat, dan yang paling terakhir adalah bertuliskan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tangan nya membuka isi chat dari Sui.

Dan bagai sebuah karma turun dari langit untuk dirinya. Jantungnya berdegup dengan amat sangat kencang, membuat dirinya langsung berlari begitu saja dari tempat dirinya berdiam diri menuju ke rumah sakit yang jaraknya lumayan.

Karna hal yang mengejutkan ini, ia bahkan lupa dimana tempat dirinya memarkirkan kendaraan nya. Sehingga dengan tanpa banyak pikir panjang, ia akhirnya berlari saja meskipun harus menempuh jarak yang lumayan.

• • • •

"Key ayo pulang. Kita udah terlalu lama disini."

Jaki mengangguk, membenarkan ajakan Elya untuk segera pergi ke rumah.

Beberapa detik Key tak menjawab, kemudian ia menggeleng dengan pelan.

"Batin gue masih ga sanggup liat bapak .."

"Gue ga terima sama diri gue sendiri yang ngehindar kayak gitu, pengecut banget. Gimana bisa gue jadi figur kakak kalo gini aja gue sama apinya kayak adik gue." Jelasnya.

"Aku ngerti Key, tapi semakin cepet diselesaikan, semakin tenang juga kan diri kita."

"Ayo pulang, perasaan ku gaenak disini." Ajak Elya sekali lagi, yang mana diangguki oleh Jaki lagi.

Key tetap kekeuh menggeleng, ia perlu menenangkan pikiran nya sedikit lagi.

"Aku serius Key, perasaan ku gaenak. Aku ngerasa di rumah lagi terjadi sesuatu yang ngebahayain. Ayo kita pulang, setidaknya kalo ada apa-apa kita bisa bantu." Jelas Elya dengan panjang.

Key menatap Elya, mulutnya terbuka untuk menjawab Elya, namun belum sempat suaranya keluar suara memanggil nama mereka bertiga terdengar begitu terburu-buru.

"KEY! ELYA! JAKI!"

Itu suara Riji, ia berlari dari daratan pantai, menuju mereka berada.

Saat sudah didekat mereka, ia berhenti sejenak, menetralkan detak jantung nya.

"Kok lu tau kita disini? Ada apa?"

"Ga penting gue tau darimana, ayo ikut gue sekarang!" Paksa Riji.

Key berdecih, "Gaakan, gue butuh waktu bentar."

"GAADA WAKTU! Ayo cepet ikut gue. Mia koma!" Ujarnya.

Dua kata ajaib nan mengejutkan yang membuat ketiga orang itu segera berlari dibawah rembulan, dan berpijak pada pasir pantai yang ikut terbang karna gesekan yang terjadi.

Meninggalkan Riji yang masih kelelahan, mereka segera pergi ke dataran pantai untuk menjalankan kendaraan mereka masing-masing menuju rumah sakit tempat Mia terbaring.

"ANJING UDAH DIKASIH INFO, GUE DITINGGAL! Minimal gendong kek!" Umpat Riji sembari berteriak.

Kemudian dirinya ikut beranjak dari situ.

• • • •

Pemandangan yang Rion liat pertama kali adalah tangisan anak-anak perempuan nya didepan ICU.

Dengan isakan yang mengudara, Rion menyaksikan seluruh dunianya runtuh begitu saja.

Caine yang ada disana, menjadi seseorang pertama yang menyadari bahwa dirinya datang. Segeralah ia menghampiri Rion, dengan matanya yang berair.

"Yon .." lirihnya.

"Gimana bisa Caine .. anak ku? Lagi-lagi?"

Caine menggeleng, meremat lengan berotot milik Rion, kemudian menariknya lembut.

"Ayo bicara dulu, banyak hal janggal." Ajaknya.

• • • •

Terimakasih sudah jadi harapan agar aku tetap ada, dan kembali melakukan hobi ku ini ya semuanya.

Aku harap kalian tidak bosan-bosan dengan diriku yang seenaknya ini. Tetap komen banyak-banyak yaa, agar aku semakin semangat menulis lagii hihi 🤭🩷

Night Life FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang