// - 48 - \\

503 40 6
                                        

' - disengaja? - '

• • • •

"Ayo pulang Mia .. kita selesaiin masalah ini. Aku yakin kalo kakek liat kita kayak gini pasti beliau sedih banget."

Elusan pada rambut Mia tetap Funin lakukan, sebagaimana kakak yang memberikan ketenangan lebih kepada sang adik yang diliputi kesedihan. Funin ada menenangkan nya.

Ia tatap batu nisan itu dengan lekat, dalam batin nya ia meminta maaf, dan juga meminta doa baik untuk keluarga nya agar tak terjadi apa-apa.

Dalam diamnya, segala doa baik ia harapkan terjadi di keluarga nya yang berantakan.

Mia melepaskan pelukan sang kakak, ia menghapus sisa-sisa tangisnya yang meninggalkan jejak. Ia tatap sekali lagi nisan yang bertuliskan Kenzo dibelakangnya.

Senyuman cerah ia berikan, menatap riang batu nisan tempat peristirahatan terakhir seseorang. "Kakek! Terimakasih sudah dengerin tangisan Mia .. setelah ini Mia janji akan memperbaiki keluarga Mia biar tidak ada perkelahian lagi. Terimakasih kakek Kenzo."

Sebenarnya .. siapa sosok orang yang tertidur dibawah batu nisan itu?

Kita kupas pada eps selanjutnya, WKWKWKWK.

Masih dengan angin yang berhembus kencang, Funin dan Mia berjalan menyusuri pemakaman yang sepi itu.

Dalam perjalanan mereka menuju parkiran dan akan pulang, keheningan menjadi saksi atas perjuangan kedua anak yang sama-sama terluka ini.

• • • •

"Lu mau bunuh gue sekarang pake tangan lu sendiri, apa harus nunggu bapak kandung lu yang bunuh gue Non?" Nada tak menyenangkan Rion berikan kepada anak gadisnya yang terisak itu.

Enon menggeleng penuh tangis sembari menodongkan revolver milik Rion, kepada sang pemiliknya. Tangannya gemetaran hebat, demi Tuhan Enon tak ingin menyakiti siapapun.

"DONGO LU BERTIGA!! LU KALO MAU LIAT KITA SEMUA DIGANTUNG, BILANG KE GUE! KAGAK KAYA GINI!" Bentak Rion lagi.

Mereka hanya bisa terdiam sembari menahan segalanya, Rion marah besar untuk pertama kalinya.

"GUE UDAH BILANG ATI-ATI, KALO MAU BIKIN KITA SEMUA MATI BUNUH SEKARANG ANJING." Teriaknya.

"GOBLOK LU SEMUA ANJING." Itu adalah umpatan terakhir yang Rion berikan sebelum dirinya pergi begitu saja.

Ruangan yang ditinggalkan Rion semakin mendingin. Tak ada yang membuka suara, semuanya terdiam dengan perasaan bersalah dari masing-masing diri.

Echi melepaskan ikatan pada tangan nya, kemudian melepehkan kain yang menutup mulutnya. Dengan perasaan jengkel, ia berkata.

"Dia yang tolol, egois banget jadi orang!"

"Eh anjing mulut lu daritadi busuk banget ya Chi!" Ujar Mako.

Dirinya menatap nyalang Echi yang berwajah dingin tidak bersalah setelah memberi cacian pada sang ayah.

"Apa lu?! Kenapa emang kalo mulut gue busuk ha?! Mau bunuh gue lu." Ucapnya menantang.

"GATAU DIUNTUNG GITU LU JADI ANAK, ANJING .. BAPAK LU KATA-KATAIN TOLOL, IBLIS LU!" Teriak Mako dengan lebih emosi.

Night Life FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang