// - 47 - \\

1.2K 84 5
                                        

• • • • •

"Semua-semua aja kayak gitu, semua aja kurang ajar. Emang dikira karna papi ga bunuh mereka, mereka bisa seenaknya."

Daam keheningan dan kengerian dari tempat masa depan mereka berada, Mia menggerutu, merasa tidak terima dengan apa yang terjadi di rumah.

Ia marah, tentu saja. Anak mana yang tidak marah melihat keluarga yang biasanya tenang, harus hancur karna ego mereka.

"Apa susahnya si ngomong baik-baik. Mentang-mentang dia yang sering dibilang mirip sama papi, dia jadi seenaknya .. " Gumam Mia, ia menyembunyikan wajahnya dilipatan tangan nya yang memeluk lutut kakinya.

"Mia .. " Panggil Funin.

Funin berhasil mengikuti kemana Mia pergi. Karna yang dipanggilnya tidak menyahut, Funin pun ikut mendudukkan dirinya disamping Mia.

Menatap sendu, di mana tempat peristirahatan seseorang berada. Kemudian memeluk tubuh Mia dari samping.

Tiada nama depan di nisan itu, namanya tertutup oleh sesuatu. Entah tak sengaja, atau memang disengaja. Namun yang pasti, marga Kenzo, ada di nama itu.

"Aku capek kak liat mereka. Makin gede, mereka makin sok bisa sendiri. Kayak gapernah butuh papi aja. Aku gasuka itu, padahal mereka butuh papi banget." Lirih Mia.

Funin tetap mengelus bahu Mia dengan lembut, tak mengatakan apapun. Hanya berfokus menatap batu nisan yang ada.

"Padahal aku udah janji untuk berusaha biar keluarga ku ga berantem."

Selesai Mia mengucapkan hal itu, Funin menyodorkan sebuah kotak yang berisi kalung dan gelang.

Selesai Mia mengucapkan hal itu, Funin menyodorkan sebuah kotak yang berisi kalung dan gelang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Selamat ulang tahun, Mia." Ucapnya.

Funin memberikan kotak yang sudah terbuka, dan menampilkan gelang kalung itu untuk dipegang oleh Mia. Mia terdiam, meremat kotak itu.

Perlahan-lahan, air mata nya jatuh. Di tengah malam yang memiliki cuaca cerah dan angin yang segar. Harus ada kesedihan di hari yang indah.

Ia lupa karna masalah ini, ia lupa jika hari ini adalah hari kelahiran nya. Seharusnya ia makan di restoran hanya berdua dengan Rion. Seharusnya hari ini ia memakan kue buatan sang mami, dan diiringi oleh nyanyian kakak-kakak nya. Seharusnya ia hari ini mendapatkan banyak ungkapan kasih sayang, dan ucapan selamat.

Mia semakin terisak tak tertahankan, suara tangisan nya mengudara. Mungkin dapat membuat para penghuni rumah masa depan ini, iba dengan nya.

Funin memandangi Mia yang menangis keras, dengan diam. Selama beberapa detik, akhirnya ia membuka mulutnya lagi.

"Selamat ulangtahun," perlahan, suara nya yang indah mengalun bagaimana lagu pengantar tidur.

"Selamat ulangtahun."

"Selamat ulangtahun, Mia .. " Ia menjeda nyanyiannya. Mendengar nyanyian yang indah dari Funin, tangisan Mia semakin tak terbendung.

"Semoga panjang umur." Itu lirik terakhir dalam lagu yang di nyanyikan Funin untuk ulangtahun Mia. Sebelum akhirnya ia memasukkan tubuh kecil Mia kedalam dekapannya yang hangat.

Dalam dekapan Funin yang hangat, Mia mengutarakan kesedihan, dan kebahagiaan nya.

"Aku sengaja minta ke Mako buat aku aja yang ngikutin kamu, biar aku bisa rayain ulangtahun mu sebelum terlambat."

"Entah mungkin mami udah prediksi masalah ini atau gimana. Dari dua hari yang lalu, mami selalu chat aku di tengah kesibukannya di luar negeri. Mami bilang aku harus selalu bawa hadiah buat ulangtahun mu." Jelas Funin dengan nada suaranya yang sangat melembut.

Meskipun Funin seperti anak papi, yang ada namun tak terlihat. Sejujurnya, ialah yang paling bisa diandalkan sang mami. Ia selalu menghafal kapan hari saudaranya bertambah umur. Dan selalu menyiapkan hadiahnya jauh sebelum saudaranya ber ulangtahun.

Bahkan saat Souta harus pergi dari rumah, yang mana hari lahirnya masih lama. Dirinya sudah memasukkan hadiah kedalam tas Souta tanpa ada yang mengetahuinya, kecuali sang mami tentu saja.

Caine Chana, menjadi saksi betapa perhatian dan betapa sayangnya Funin, terhadap saudara-saudara nya yang ada.

Ia memang jarang sekali berbicara, namun tindakan nya sudah menjadi saksi untuk itu semua.

Funin adalah cerminan dari seorang Caine.

• • • •

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


• • • •

Warning dulu biar aku ga kena hujat.

Di cerita ini, Echi, Enon, ataupun anggota tnf lainnya bukan antagonis nya.

Aku udah berusaha banget ga pilih kasih antara anggota tnf manapun. Aku mau sama rata antara mereka semua, aku mau semuanya bersinar di book ini.

Dan kalo kalian ada yang ngira Echi disini pembangkang, dan mikir nya pasti aku gasuka sama IC Echi. No way! Aku suka semua IC anggota tnf.

So stop berspekulasi bahwa aku gasuka Echi, karna konflik keluarga ini ya!

Aku gamau, bocil-bocil fomo nyerang aku cuma karna konflik ini. Padahal ini cuma cerita yg ditulis penulis minor kayak aku :')

Intinya adalah, aku sayang semua tokoh di cerita ku ini, aku mau mereka semua kedapetan scene biar kasih sayang ku rata buat mereka.

Mungkin aku emang keliatan kayak kurang nonjolin karakter gede kayak, Echi, Enon, Riji, Selia, Krow, Jaki, pak Sui atau siapapun itu. Tapi serius deh, aku bukan gasuka sama karakter mereka, tapi aku mau nyama ratain bersinar nya karakter TNF di book ini.

Aku bikin warning ini karna udah kejadian hujatan nya gais :') karna satu karakter kurang nonjol disini, aku dituduh gasuka karakter nya wkwk.

Night Life FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang