// - 46 - \\

939 77 2
                                        

' - egois. - '

• • • • •

Angin berhembus kencang menerbangkan rambut biru panjang milik sang anak pertama. Tatapan mata nya sayu, menahan Isak tangis yang akan jatuh begitu saja dari dirinya. Tangan nya menggenggam erat batu berukuran sedang, yang mungkin bisa melukai nya.

Hati nya sesak, nafas nya terasa berhenti, ia tak bisa berfikir jernih.

Dirinya, merasa marah, bersalah, takut, dan segala hal menjadi satu dalam diri milik nya.

"Kak Key!" Itu suara Elya.

Jaki dan Elya, menemukan dimana Key berada. Sebenarnya mereka sudah disini beberapa menit yang lalu, tapi mereka tak langsung menghampiri Key karna paham dirinya perlu waktu untuk sendiri terlebih dahulu
Akhirnya mereka memutuskan menghampiri Key, saat ia mulai menggenggam batu yang entah dari mana ia dapatkan.

Batu itu mempunyai ujung yang tajam, sehingga ketika digenggam, bisa membuat sobek seperti sekarang. Tangan Key berlumuran darah, karna sebuah batu.

"Kak Key .. lepasin batunya." Elya mendekat, membuka tangan Key yang berlumuran darah untuk membuang batu itu dan menghentikan darah yang mengalir.

Jaki dengan cekatan segera mengobati tangan Key. Untungnya ia membawa kotak p3k mini yang cukup diatas mini nya itu.

Setelah selesai mengobati luka dari Key, ia pun segera kembali memasukkan kotak p3k itu kedalam tas lucunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setelah selesai mengobati luka dari Key, ia pun segera kembali memasukkan kotak p3k itu kedalam tas lucunya.

"Itu tas gue buang lama-lama." Kata Key memandang sinis Jaki yg menciumi tas Melody nya.

Mungkin bisa dibilang Key personal ke Jaki, entahlah ia merasa ingin muntah. Saat Jaki yang seharusnya hanya memasukkan kotak p3k itu, malah memberikan gerakan tambahan yaitu mencium tasnya.

Dasar orang gila!

Memang hanya dirinya lah yang waras di keluarga ini.

Jaki terlihat tak senang, ia melotot tak percaya. Kemudian berucap dengan nada suara khas nya itu.

"Personal ya kamu Key, padahal lucu gini, cocok sama my rambut." Ucapnya.

"Rambut lu kek jambu." Balas Key.

Jaki semakin melotot, enak saja dia mengatakan hal itu dengan wajahnya yang dingin. Ini penistaan seorang Jaki!

"Rambut lu Key kek dispenser." Balas Jaki kembali.

Elya berdecak, maksudnya apa membawa-bawa dispenser, dia kan jadi ikutan kesindir ini.

"Eh, rambut lu bau ketek Garin!" Tunjuk Elya ke rambut Jaki.

Jaki memasang ekspresi terkejut, kemudian berkata lirih "kok tau si El, kemarin rambut gue diketekin sama Garin?"

Key terkekeh, "dari jauh juga kecium itu, mana kek gapernah keramas tu rambut."

Dengan wajah yang cengengesan, Jaki kembali menjawab.

"Udah tiga Minggu si ga keramas, hehe."

"NAJIS JAKI, BAU BANGET PANTESAN." Teriak Elya dan Key, bersamaan.

Mereka akhirnya tertawa dengan keras, merasa lucu dengan itu semua. Sesaat, masalah keluarga tak mereka pikirkan terlebih dahulu.

Angin semakin berhembus kencang, membawa tawa mereka yang bahagia itu pergi. Keadaan kembali dingin persis seperti saat mereka baru tiba disini.

Ekspresi datar, dan tidak bersemangat sangat jelas ada di wajah Key, Elya, dan Jaki. Kedua merasakan perasaan yang sama, bingung untuk menjelaskan nya.

"Gue .. ga bermaksud marah kayak gitu .." Key melirih, menatap pasir pantai yang terasa sangat lembut di kaki nya yang tak memakai alas kaki.

"Kita tau kok .." Ujar Elya dan Jaki.

"Kamu gamau keluarga ini mati ditangan orang-orang kepolisian kan? Kita paham kok Key, kita udah bersama tu lama banget. Kita jelas tau kok maksud kamu marah banget kayak gitu karna apa." Jelas Jaki.

Elya mengangguk, kemudian menambahi "Bener kak, gausah ngerasa bersalah. Ini semua juga karna ego dia masih tinggi."

Key menghela nafas, "Gue kepikiran, gimana kalo seandainya bapak Enon tau keluarga kita, dan tau ngambil anaknya ke dunia kriminal .. gue gamau, bapak mati ditangan kepolisian."

"Kalian pasti udah hafal sifat Rion kan. Bapak kalo ketahuan polisi, jelas dia yang bakal maju buat dihukum mati. Dia pasti berusaha keras biar cuma dia yang dipenggal, sementara kita yang kudu nyaksiin perjuangan seorang ayah buat anak-anak nya."

"Demi Tuhan, gue lebih rela mati ditangan papi. Daripada liat papi mati ditangan polisi, atau kita semua mati ditangan orang-orang kepolisian." Ujarnya

Jaki dan Elya mendekat mendengar itu, kemudian memeluk Key dengan erat. Key teriak dalam diam, tanpa bersuara ia menangis dalam kesedihan.

Pada dasarnya, Key hanyalah seorang anak yang membutuhkan seorang ayah yaitu ー Rion Kenzo.

Ia tak mau keluarganya kehilangan sang kepala keluarga hanya demi melindungi anak-anaknya yang lalai itu. Hanya itu saja, namun mengapa adiknya yang sama-sama anak sulung itu tak memahami maksudnya!

Dari awal ia sudah curiga dan menyuruh mencari tau orang tua yang membuang Enon, tapi sepertinya Gin dan Echi ingin keluarga mereka kehilangan sang kepala keluarga.

"Gue egois, kalau gue benci mereka dikit disaat ini?" Hubungan orang tua dan anak, antara Rion Kenzo dan Key Selyoo mengalahkan hubungan darah kandung. Mereka lebih keluarga kandung, dari orang yang berdarah kandung.

"Ga Key, lu ga egois. Yang egois gue karna ngerebut tas Melody ini dari Garin .. " mendengar jawaban ngawur Jaki, Elya mencubit perut pemuda berambut pink itu hingga dirinya kesakitan.

"APASIH EL, HATERS YA KAMU." Teriak Jaki.

Elya hanya mendengus tak suka, kemudian Jaki menatap langit dan merentangkan kedua tangannya.

"TAS MELODY TILL I DIE." Teriak Jaki, yang mampu membuat duo dispenser melempar kerikil ke arahnya.

"MALU-MALUIN BEGO!"

Jaki menghindar dengan tawa yang mengudara, disusul tawa kedua saudara nya yang ikut menggema. Biarlah mereka sejenak melupakan masalah keluarga sebentar.

Hanya satu menit, biarkan mereka tak memikirkan apa-apa.

• • • •

Night Life FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang