5.1. Ending ..

626 44 4
                                        

' - ujaran maaf, dan juga tangis - '

• • • •

Caine menarik Rion pergi dari tempat dimana Mia sedang berjuang. Melewati banyak lorong rumah sakit, hingga sampai didepan pintu putih pada lantai paling atas rumah sakit.

Caine mengetuk, kemudian membuka pintu itu, dengan masih tetap menyeret tangan Rion agar mengikutinya.

Ruangan putih dengan bau khas obat menjadi penyambut indra penciuman dan pengelihatan keduanya. Ruangan yang memiliki banyak perabotan khas ruangan dokter itu, menjadi tempat dimana mereka berada.

Rion tebak, ini adalah ruangan pribadi milik Sui, yang dipinjam Caine sebagai tempat dimana mereka akan membahas sesuatu.

Mereka berdua pun sama-sama berjalan pergi ke sofa yang ada disana, mendudukkan diri mereka dengan nyaman disana, sembari mengistirahatkan diri mereka sejenak.

Rion duduk sembari menatap nyalang pada langit-langit ruangan yang terasa jauh, pikiran nya kosong, ia bingung harus mengeluarkan emosional yang seperti apa.

Sedangkan Caine sendiri, ia menatap kosong pada boneka kelinci yang Sui pajang pada rak dinding yang ada dihadapan mata Caine.

Boneka itu tersenyum, namun malah membuat ulu hati Caine ngilu bagai diremat oleh banyaknya tangan-tangan jahat.

Boneka itu tersenyum, namun malah membuat ulu hati Caine ngilu bagai diremat oleh banyaknya tangan-tangan jahat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Boneka lucu itu, mengingatkan nya pada tas kelinci Mia yang selalu ia gunakan saat pergi kemana-mana.

Bahkan pada saat terakhir kali sebelum dirinya terbaring lemah, ia masih tetap memakainya. Meskipun, kondisi tas itu pun sudah tak bisa diselamatkan, darah Mia menodai warna putih tas nya.

Caine menghela nafasnya dengan berat, tangan nya terangkat memijat pelipisnya, ikut mendongak seperti Rion untuk menghalau air matanya yang tanpa permisi berusaha jatuh begitu saja.

Tak ada yang membuka suara, keduanya bungkam dengan diri mereka yang hancur masing-masing.

Mereka bingung harus menyalahkan siapa disini. Mereka yang tak becus sebagai kepala keluarga? Keluarga mereka yang berantakan? Funin yang tak bisa menjaga sang adik? Atau bahkan, waktu kejam yang merebut Mia begitu saja?

Keduanya hancur, tanpa tangis, tanpa erangan, tanpa eluhan. Mereka hancur begitu saja bagai digerus oleh waktu.

Sekedar menenangkan diri mereka sendiri saja tak sanggup, bagaimana cara mereka menenangkan anak-anak? Yang bisa mereka lakukan hanya pergi, menghindar, mencari tempat aman. Dan menata puing-puing diri mereka bagai puzzle membingungkan yang berserakan.

Hampir setengah jam mereka membisu tanpa bersuara sedikit pun, tetap pada posisinya.

Hawa ruangan yang dingin menjadi pendamping keheningan yang terjadi. Hingga akhirnya, Rion yang menjadi pengawalan pembuka topik pada saat ini.

Night Life FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang