Desperation

1K 73 0
                                        

PRANG PRANG PRANG

Suara pecahan kaca dan keramik menggema di ruangan sepi dimana hanya terdapat dua orang di dalamnya itu. Theodore berdiri diam menatap kondisi satu set cangkir keramik mahal yang belum lama ini Ivana beli dari kerajaan tetangga, kini sudah tak berbentuk berserakan di lantai kamar besar itu. Dan di depannya, Ivana duduk di sofa membelakangi Theodore, nampak kacau, frustasi, entah apapun yang ia lakukan rasanya ia tak mampu mencapai tujuannya.

"Jadi anak buahmu gagal lagi?" Ivana membuka suara, bertanya kepada Theodore dengan lirihnya.

"Maaf nyonya, penjagaan ratu sangat ketat" jawab Theodore singkat, cukup tahu bahwa Ivana tidak tertarik mendengar alasan kegagalannya saat ini.

PRANG

Satu lagi gelas yang bernasib malang.

"Panggil aku yang mulia!" amuk Ivana, "Aku yang seharusnya duduk di tahta bergelimang berlian itu! Aku yang menikah dengan pangeran pertama! Aku mengorbankan tubuhku melahirkan pangeran pertama! HARUSNYA AKU YANG MENJADI RATU!"

Theodore mengerenyit akan perasaan campur aduknya melihat kondisi mental Ivana yang menurutnya semakin memburuk, antara jijik dan kasihan, juga keinginan untuk menampar wajah wanita itu agar ia sadar bahwa seringkali dunia memang tidak adil. Tapi ya, bagaimanapun juga, "Maafkan saya yang mulia" ucap Theodore lembut, kaki jenjangnya melangkah maju ke arah sofa dimana Ivana dengan duduk. Dari atas sofa itu ia melihat Ivana, dengan gaun malamnya nan tipis, rambut kusutnya, kantung mata yang menghitam, matanya yang merah karena kurang tidur, tangan Theodore terulur ke leher Ivana yang nampak rapuh, "Tentu saja saya akan mengusahakan yang terbaik untuk anda" bisiknya lembut seraya ia mengusap wajah Ivana yang nampak lebih tua 20 tahun itu. Theodore menunduk mendekatkan wajah keduanya, "Bagaimanapun juga, anda adalah penyelamat saya"

~~~××~~~

Keesokkan paginya,

Tok tok tok

"Yang mulia, ini Nancy"

Panggilan yang mulia itu masih terasa getir di lidah Jane, namun ia harus mulai membiasakan diri tak peduli betapa ia ingin meninggalkan tempat ini. Karena tidak mendengar ada jawaban, Jane kembali mengetuk pintu itu.

Tok tok tok 

"Yang mulia?" 

Lagi-lagi tidak ada jawaban, "Aneh, tak biasanya wanita itu masih tidur di jam segini" gumam Jane merasa ada yang tidak beres, dan karena tidak tahan dengan rasa penasarannya, ia pun membuka pintu kamar itu dengan paksa. 

"Urgh astaga" Jane refleks menutup hidung dan mulutnya kala hawa busuk keluar dari pintu yang baru saja ia buka. Kala daun pintu itu ia dorong hingga terbuka sempurna, Jane membelalak melihat apa yang tengah terbaring di ranjang di hadapannya. 

Ivana, dengan tubuhnya yang sudah menghitam dan sedikit mengering, mulut dan matanya terbuka lebar dengan puluhan lalat yang berterbangan di atas wajahnya. Jane pun bergegas menghampiri tubuh yang hampir tak berbentuk itu, dan memastikan bahwa mayat itu memang benar adalah Ivana.

Ini bukan pertama kalinya Jane melihat mayat membusuk, tapi aneh, ia ingat betul bahwa kemarin Ivana masih hidup dan sehat-sehat saja. Untuk bisa mencapai tingkat kebusukan ini setidaknya seseorang harus mati sekitar dua minggu, jadi apa yang sebenarnya terjadi? 

Jane memperhatikan sekujur tubuh Ivana, dan perhatiannya terlabuh pada sebuah jejak berwarna kehijauan yang ada di sisi bibirnya. Jane mengulurkan tangannya untuk mengambil sedikit cairan itu kemudian mencium baunya, Jane tau ini adalah racun, tapi jenis apa dan siapa yang membuat dan memberikannya pada Ivana? Lalu untuk tujuan apa? 

I Wrote This StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang