Epilogue

1.6K 78 11
                                        

"Jane!"

"Jane, bangun!"

Surai merah itu menutup separuh wajahnya, perlahan matanya terbuka menampilkan biru langit yang berkedip-kedip kala merasakan sakit berdenyut di kepalanya. Ketika sepenuhnya sadar, Jane langsung terbangun dalam keadaan tangan yang terikat juga mulutnya. Di hadapannya ia dapati Felix yang dipenuhi bercak darah di tubuhnya.

Dengan cepat Felix membantu melepas ikatan di tangan Jane dan kain yang menutup mulutnya, "Felix, Luz-"

"Dia baik-baik saja, kita harus cepat karena Theodore berhasil menangkap yang mulia ratu" ucap Felix segera berdiri kembali, mengulurkan tangannya kepada Jane untuk membantunya berdiri.

Keduanya pun berlari keluar dari gubuk reyot itu, Jane sadari mereka kini tengah berada di hutan tak jauh dari istana. Jane mengikuti arah Felix berlari, hingga keduanya kini sampai di gubuk reyot lainnya yang berada sekitar 500 meter dari tempat Jane disekap tadi.

Beberapa orang dengan pakaian hitam tertutup hingga wajah mereka nampak tergeletak tak sadarkan diri di sekitar rumah itu, baik Jane dan Felix memasang posisi siaga, takut masih ada musuh yang hidup. Namun langkah keduanya seketika terhenti saat mereka mendengar suara isakan seseorang dari dalam gubuk itu. Jane kenal betul siapa pemilik suara itu, Adionel.

Keduanya pun masuk, mendapati Adionel yang kini duduk bersimpuh dengan Ariel yang tidak sadarkan diri di pelukannya. "Riel..." lirih Adionel memeluk erat tubuh sang istri yang mulai membiru akibat racun ganas itu. Tetes demi tetes air matanya jatuh ke wajah Ariel, bercampur dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

Baik Jane maupun Felix membeku di tempat mereka berdiri, tak menyangka bahwa keduanya telah terlambat. Kemungkinan racun yang digunakan oleh Theodore terhadap Ariel adalah racun yang sama yang ia gunakan pada Ivana. Dan kalau memang demikian, maka tidak ada yang bisa Jane lakukan untuk membantu. Karena Ariel sudah terkena racunnya.

"Yang mulia" panggil Jane melangkah maju mendekati Adionel, "Maaf, kami terlambat" ucap Jane menunduk penuh penyesalan.

Felix pun menyusul duduk bersimpuh di hadapan Adionel, "Kesalahan kami pantas dijatuhi hukuman berat yang mulia" ucapnya bersujud.

Namun Adionel seolah tuli, dunianya sudah berhenti, tak akan ada lagi mentari yang menyinari setiap pagi. Hanya mendung, hanya badai, hanya air mata yang kini menemani.

Adionel pun memerintahkan proses pemakaman untuk diadakan keesokkan harinya. Sementara itu, Ariel diletakkan di peti kayu di ruang takhta, sesuatu yang belum pernah dilakukan raja manapun sebelumnya.

Baik pihak kekaisaran Eleino maupun Dukedom Aquillio marah besar atas kegagalan Adionel dalam menjaga anggota keluarga mereka. Bahkan Napoleon de Aquillio hampir menyatakan perang terhadap kerajaan Hasgan karena tidak terima akan kematian adiknya.

Namun tetap saja, Adionel hanya diam. Biarlah perang, biarlah kiamat yang datang. Bagi Adionel dunianya sudah tamat di detik Ariel menghembuskan nafas terakhirnya.

"Riel ku sayang"

Adionel berlutut di sisi peti mati sang istri, "Di kehidupan sebelumnya, aku pasti selalu menemukanmu" ucap Adionel meraih surai Ariel dan mengelusnya, "Meski kau tak pernah mengingatku, aku akan terus menemukanmu" ucapnya kini beralih meraih tangan pucat Ariel. "Ini adalah kehidupan terakhirku, dan aku tidak bisa menjanjikan kehidupan selanjutnya" setetes air mata mengalir membasahi pipinya kala ia mencium lembut punggung tangan sang istri. "Tapi jika kita bertemu lagi, maukah kau menjadi pengantinku untuk ke sekian kalinya?" 

Adionel menatap nanar bibir yang sudah pucat membiru itu, berharap akan ada jawaban yang keluar dari sana. Sekali lagi Dion memejamkan matanya, mencium tangan sang istri untuk terakhir kalinya. "Beristirahatlah, cintaku"

~~~××~~~

Keesokkan harinya,

Istana Hasgan dirundung duka, pasukan berbaju hitam satu persatu masuk ke ruang takhta. Membuat barisan di sisi kiri dan kanan, menyisakan ruang di tengah untuk akses keluar masuk rumah duka. Adionel, nampak kacau karena tak mampu untuk sekedar memejamkan mata, berjalan masuk dengan ekspresi muramnya. Kaki jenjangnya berhenti tepat tiga langkah di depan peti mati sang istri. Ia harus mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya, namun rasanya begitu berat bagi Adionel untuk sekedar membuka suara.

Nampak Jane berdiri di barisan paling depan seraya memegang tangan Luz yang nampak masih tak mengerti akan apa yang tengah terjadi. Jane hanya menunduk, semua ini terjadi begitu cepat baginya untuk memproses segala hal. Seandainya ia lebih cepat menangkap Theodore, maka semua ini tidak akan terjadi. Seandainya sedari awal ia menyadari bahwa Nancy adalah mata-mata yang menyamar, semua ini tidak akan terjadi. 'Semua ini salahku'

Para tamu yang hadir tiba-tiba ribut, Jane pun langsung tersadar dari lamunannya. Matanya membelalak saat ia melihat ke depan, dengan cepat Jane berjalan mendekati Adionel yang masih menunduk tak mampu berdiri tegap menghadap ke depan. "Yang mulia! Lihat!" ucap Jane mencoba menggoyangkan tubuh besar Adionel.

"Ada apa ini?"

Adionel seolah terbebas dari kabut gelapnya kala mendengar suara familiar itu. Ia mendongak, mendapati Ariel yang tengah duduk di peti matinya, menatap bingung kepada semua orang yang ada di ruangan itu.

"Riel!" dengan cepat Adionel berdiri dan menghampiri sang istri. Memeluknya erat membuat Ariel berkedip bingung.

"Dion, apa-apaan ini? Jika kalian semua sedang bercanda maka ini tidak lucu, aku sedang hamil tau!" bisik Ariel agak kesal.

Adionel, menitihkan air matanya seraya terkekeh, "Oh Riel ku, aku harap kami semua tengah bercanda" ucapnya pelan mengecup kening Ariel, sedang sang ratu yang sudah cukup lama tak mendapat kasih sayang sang suami pun bersemu malu, "Syukurlah, syukurlah aku tidak kehilanganmu"

"Aku mencintaimu, sayang. Jangan pernah meninggalkanku lagi"

Ariel, dengan wajahnya yang semakin memerah, bersembunyi di ceruk leher sang suami, "Aku juga mencintaimu, Dion"

THE END

I Wrote This StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang