Stray Dog

1K 76 2
                                        

Sudah seminggu sejak Jane bekerja di bawah Ivana secara langsung, setiap hari ia diam-diam bertukar pesan dengan Felix untuk mengetahui kabar terkini dari Luz. Semak-semak, di bawah teko, panci di dapur, keduanya tidak pernah kehilangan akal untuk menyembunyikan surat kecil mereka. Jane benci mengakui ini tapi Felix tidak buruk untuk diajak bekerja sama, mengingat kepribadian Felix yang di matanya begitu tertutup, ia kira akan sulit bagi mereka untuk bahkan sekedar mengobrol.

Selain memastikan keadaan Luz, Jane juga kini kembali bekerja sebagai agen ganda. Jika beberapa waktu lalu kepada Regina, kini kepada Ivana. Baru seminggu, tak banyak informasi yang ia dapatkan, belum. Tapi setidaknya ada satu hal yang menarik perhatiannya.

"Ah, Nancy, kebetulan sekali" suara ramah nan lembut itu memanggilnya, Jane berbalik mendapati pria kekar nan tinggi menjulangi tubuhnya. "Apa anda sibuk? Saya butuh sedikit bantuan anda"

Jane berbalik, memasang senyun terbaiknya, "Butler? Tentu tidak, saya selalu ada waktu untuk anda" ucap Jane mengumpat di dalam hati. Sungguh ia jijik bersikap manis seperti ini, terutama pada seorang pria, dan paling utama pria di depannya ini. Kalau bukan karena tujuan misinya, ia tidak akan rela repot-repot bermanis-manis di depan wajah memuakkan itu.

"Ini" Theodore sang butler menarik lengan bajunya yang panjang dan menunjukkan sebuah luka goresan yang cukup dalam. "Bisakah anda membantu saya mengobatinya? Saya agak kesulitan mengobatinya sendiri, dan lukanya mulai terasa agak nyeri, dan kepala saya juga mulai pusing dan-"

"Anda terkena tanaman beracun?" tanya Jane masih tenang, menatap luka itu dan mata Theodore bergantian. "Sudah berapa lama?" tanya Jane memegang lengan Theodore untuk melihat lukanya lebih dekat.

Theodore menggaruk kepalanya dan tersenyum canggung, "Sekitar, eum, dua jam lalu" ucapnya menjawab gugup dengan senyum canggungnya.

Jane menaikkan sebelah alisnya tidak percaya, apa pria ini dungu? Membiarkan luka terbuka dan terpapar racun seperti ini begitu saja selama dua jam? Apa pria ini mau bunuh diri? Jane masih belum bisa membaca apa yang pria ini inginkan, ia selalu mendekatinya dengan alasan-alasan konyol seperti hari ini. Dalam kurun waktu seminggu, ini sudah yang ketiga kalinya. 

Jane menghela nafasnya, ia tidak memiliki pilihan lain, "Saya ada racikan penawar untuk racun ini, mari ikut saya" ucapnya berbalik dengan Theodore berjalan mengikutinya dari belakang. Tanpa keduanya sadari, sepasang mata sedari tadi mengikuti langkah mereka.

Di sebuah ruangan sederhana, terbilang cukup luas untuk ukuran kamar seorang pelayan. Seorang wanita dengan surai merah panjangnya yang diikat kuncir kuda nampak tengah meracik berbagai macam tumbuhan kering di meja, sedang seorang pria nampak duduk di kursi bersabar menunggu seraya memegang lengannya yang terluka.

"Saya jadi penasaran, darimana anda mempelajari semua ini, nona Nancy? Karena gadis desa biasa tidak mungkin bisa mengetahui ilmu setara dokter kerajaan" 

Jane berhenti sejenak, tersenyum kecil, sebelum menjawab, "Dan anda menahan racun itu selama dua jam sedangkan orang-orang pada umumnya pasti sudah tidak sadarkan diri di jam pertama. Tidakkah kita berdua nampaknya sama-sama memiliki rahasia ..." Jane berbalik dengan mortar yang di dalamnya tampak segumpal tanaman yang sudah ditumbuk halus, "Bukankah begitu, butler?" Jane tersenyum kecil seraya ia mengaplikasikan salep itu di lengan Theodore.

Sedang sang butler terkekeh, "Menarik sekali" memperhatikan wajah ayu Jane seraya wanita itu fokus mengoleskan salep racikannya di tangan Theodore, "Untuk siapa kau bekerja? Ada baiknya kau memberitahu aku sekarang kalau kau tidak ingin hidup menderita" ucap Theodore dengan wajah tersenyum namun bisa Jane rasakan nada mengancam itu seraya bulu kuduknya berdiri.

Namun Jane tetap tenang dan membalas senyum Theodore, "Saya bekerja untuk siapapun yang saya inginkan" ucapnya dan kembali berdiri, mengembalikan mortar itu ke meja, "Bagaimana dengan anda butler? Tentu anda terlalu pintar untuk menjadi anjing Ivana" ucap Jane berbalik bersedekap dada menatap Theodore yang kini terkekeh karena ucapannya.

I Wrote This StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang