51. Pancake Berkarakter

1.2K 109 84
                                        

Villa ini mirip sekali dengan tempatku menginap sekarang. Bahkan sudut balkonnya.

Seketika mata sayu Zayyan membulat, jari-jarinya membeku. Ia segera duduk tegak, selimut melorot dari bahu.

Sesaat kemudian sebuah foto masuk dan Zayyan segera melihatnya. Ia perhatikan dengan saksama. Balkon, lampu-lampu, kolam renang, alat memanggang, halaman belakang. Mirip. Terlalu mirip.

Mungkinkah kita bersebelahan?

Keyboard muncul. Zayyan mengetik cepat, lalu berhenti. Menghapus, menarik napas, lalu mengetik lagi. Pada akhirnya hanya satu kata yang ia kirim.

Sebelah? tanya Zayyan.

Kemudian balasan segera datang, hampir seketika.

Ya, aku yakin.

Setelah itu, balasan lanjutan muncul. Berisi alamat dan diakhir pertanyaan apakah itu alamat villanya juga.

Zayyan melotot dan memekik pelan yang membuatnya segera menutup mulut dengan tangan lalu menulis kata, Ya.

Nomor berapa villamu?

Zayyan segera menjawab dan mengirimnya, lalu tak butuh waktu lama untuk mendapatkan balasan.

Itu berarti kita sungguh bersebelahan.

Zayyan seketika menahan napas yang mendadak pendek. Ada rasa hangat yang menyelinap, kebetulan yang manis, dan bersamaan dengan itu, muncul gelombang kecemasan kecil. Ia menoleh pada sisi lain ranjang. Memastikan Lex masih tertidur nyenyak. Tak ingin membangunkan siapa pun.

Kau ... sendiri? tanya Zayyan.

Aku dan grup. Bersama kru juga. Kami syuting untuk content liburan sebagai tambahan promosi comeback.

Setelah membacanya, Zayyan menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Dadanya naik turun. Dunia terasa menyempit. Rasanya seperti dua kehidupannya yang selama ini terpisah rapi, menjadi terlalu dekat malam ini.

Zayyan menatap layar lama. Senyum kecil muncul, bukan senyum lepas, melainkan senyum penuh pertimbangan.

Aku juga liburan. Pertama kali bersama mereka.

Titik-titik mengetik muncul, menghilang, muncul lagi. Sampai sebuah pesan datang.

Sepertinya berharga.

Membaca itu, Zayyan menutup mata sejenak, lalu membuka dan berkata lirih, "Iya ... berharga."

Tanpa membalas lagi, Zayyan segera mematikan layar dan meletakkan ponsel ke nakas, kemudian kembali berbaring dan menarik selimut hingga ke dada, berusaha cepat terlelap.

Malam itu, Zayyan tidur dengan dua perasaan berdampingan. Kehangatan karena akhirnya merasa diterima seutuhnya, dan getar kecil karena dunia yang dulu ia tempati dan akhirnya ia tinggalkan, ternyata tidak sejauh itu.

Di villa yang sunyi dan di bawah langit musim gugur kota Seoul, sebuah foto telah membuka pintu kecil. Bukan untuk perpisahan, melainkan untuk kemungkinan yang harus dijaga dengan hati-hati. Di lain sisi, delapan trainee lain termasuk Lex, mereka tidur dengan perasaan yang sama-sama belum tenang. Mereka bahkan tak tahu bahwa dunia luar Zayyan, baru saja menyentuh batas villa itu melalui satu komentar sederhana.

.
.
.
.
.

Pagi hari kedua datang perlahan. Cahaya pucat musim gugur menyusup melalui celah tirai kamar, jatuh tepat di lantai kayu. Udara dingin menempel tipis di kulit hingga Lex membuka mata.

Don't Go || XodiacCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang